KENDARIPOS.CO.ID — Mantan Panglima Daerah Militer (Pangdam) XIV Hasanuddin, Mayor Jenderal (Purn) TNI Andi Sumangerukka “bergerilya” ke daerah-daerah di Sultra. Dari daratan hingga kepulauan. Beberapa bulan sebelumnya, ASR bersilaturahmi dengan warga Kota Baubau dan Buton. Kali ini, purnawirawan jenderal TNI bintang dua yang karib disapa ASR itu menjejak Bumi Wakatobi. ASR mengawali safari silaturahminya di Kota Kendari, lalu menuju Kabupaten Konawe, dan Kolaka.

Mayjen (Purn) Andi Sumangerukka (dua dari kanan) saat menerima penganugerahan gelar Waopu Meantu’u Soludadu di Bumi Wakatobi, Kamis (23/9) kemarin.

Di Wakatobi, Mayjen (Purn) Andi Sumangerukka mengenalkan jargon ASR yang merupakan akronim namanya. ASR sekaligus nama komunitas yang dibentuk Andi Sumangerukka yakni Aku Sahabat Rakyat (ASR). Mantan Kepala BIN Daerah Sultra itu punya tempat di hati masyarakat Wakatobi. Buktinya, selain disambut tarian adat Liya, Honari Mosega, ASR diberi gelar kehormatan Waopu Meantu’u Soludadu. PenganugeraHan gelar itu berdasarkan musyawarah adat di empat wilayah. Gelar ini diserahkan oleh tokoh adat dan tokoh masyarakat Wakatobi, Kamis (23/9) kemarin.

Andi Sumangerukka mengapresiasi penyambutan dan persembahan gelar adat kepadanya. Ketua Dewan Pembina Aku Sahabat Rakyat (ASR) itu mengatakan pakaian adat yang diberikan tokoh adat Wakatobi merupakan pakaian kebesaran yang pernah ia pakai. “Jubah ini membangkitkan semangat leluhur saya. Dan saya juga berjanji tidak akan mempermalukan bapak-bapak. Saya akan selalu bersama-sama dengan bapak-bapak semua,” ujarnya saat didapuk menyampaikan kata sambutan di salah satu hotel di Wakatobi, kemarin.

Sementara itu, politisi Partai Gerindra, Ali Mayono mewakili tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat membacakan sinopsis penganugerahan gelar kepada ASR. Kata dia, ada makna yang terkandung dari gelar itu. Waopu merupakan gelar atau panggilan yang mulia bagi seorang pemimpin yang arif, bijaksana, dihormati dan disegani oleh masyarakat. Hal ini karena keberhasilannya dalam membangun serta memajukan suatu wilayah. Serta menjadi cermin seorang pemimpin yang teladan, jujur, amanah dan berakhlak mulia dalam memimpin yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam.

“Meantu’u adalah gelar adat tertinggi yang disandang oleh seorang pemimpin pada suatu wilayah pemerintahan adat yang dianggap mampu menyejahterakan masyarakat yang berada di sebuah wilayah Kadie Kepulauan Wakatobi, Kepulauan Tukang Besi yang berlaku pada zaman Kesultanan Buton dan masih diakui oleh masyarakat adat sampai saat ini. Gelar ini disandang oleh seorang pemimpin karena dalam kepemimpinannya meneruskan amanah kepemimpinan Nabi Besar Muhammad SAW yang arif dan bijaksa berdasarkan akhlak yang mulia,” ujar Ali Mayono.

Terakhir, Soludadu sebagai gelar tertinggi yang disandang oleh seorang Panglima Tertinggi Angkatan Perang di Wilayah Kadie pada zaman dahulu yang disegani serta dapat mengayomi masyarakatnya dari berbagai gangguan baik dari dalam maupun dari luar wilayah Kadie. “Dan pemimpin yang rela mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk negerinya,” tutup Ali Mayono. (thy/c)

Pemimpin yang Rela Mengorbankan Jiwa Raga untuk Negeri