Dedikasi Tanpa Batas Sang Maestro Pers


KENDARIPOS.CO.ID — Saban 8 Juni, Serikat Perusahaan Pers (SPS) merayakan hari lahirnya. Tahun ini, SPS berusia 75 tahun, sejak didirikan 8 Juni 1946 di Yogjakarta. Salah satu rangkaian HUT organisasi penerbit pers dan media cetak itu yakni masih berjalan. Salah satunya,webinar nasional “Good Journalism for Our Nation”, yang diselenggarakan Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat secara virtual melalui zoom, Kamis (23/9) kemarin.

Peringatan 75 Tahun SPS juga menjadi forum untuk menyampaikan penghargaan kepada para tokoh pers nasional, terutama yang telah berusia di atas 75 tahun dan memiliki jasa besar bagi perkembangan pers nasional maupun SPS. Salah satunya penerima anugerah SPS Lifetime Achievement Awards adalah M. Alwi Hamu (77), pendiri harian Fajar sekaligus Ketua Umum Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat saat ini.

“Pak Alwi merupakan tokoh pers di dunia. Hingga mendirikan surat kabar berbahasa Indonesia di Hongkong, Singapura, Taiwan, dan Australia,” jelas Faisal Syam, Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Sulsel, Faisal Syam, Kamis (23/9) kemarin.

Para penerima anugerah SPS Lifetime Achievement Awards itu lainnya adalah Baslir Djabar (78), pendiri harian Singgalang, Padang. Selanjutnya Tribuana Said (81), Pemimpin Umum harian Waspada, Medan. Lalu Pia Alisjahbana (88), pendiri Majalah Gadis dan Dewi. Kemudian Gusti Rusdi Effendi (79 tahun), pendiri harian Banjarmasin Post.

Konsistensi Chairman Fajar Grup, Alwi Hamu menggeluti dunia jurnalistik hingga di usia 77 tahun menjadi pembuktian betapa dedikasi sang maestro tanpa batas. Lebih separuh usianya di dedikasikan dalam perkembangan dan kemajuan pers nasional.

Pria kelahiran Parepare, 28 Juli 1944 itu mengenal dunia jurnalistik sejak remaja. Tercatat, beliau sudah menerbitkan majalah saat masih duduk di bangku SMP, begitu pun saat SMA.

Demi idealisme jurnalistik, putra Haji Muhammad Syata dan Hj Ramlah ini pernah divonis enam bulan penjara.

“Pada 1 Oktober 1981, Alwi Hamu mendirikan Fajar yang telah menjadi media besar di tanah air. Di usia 77 tahun ini beliau pun masih aktif di dunia pers, dengan menakhodai organisasi Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat,” ungkap Faisal Syam.

Faisal Syam mengatakan situasi bisnis pers tengah berada dalam tekanan luar biasa akibat disrupsi digitalisasi dan efek gelombang pandemi Covid-19. Khususnya bagi media cetak. Pers sebagai lembaga sosial dan wahana komunikasi publik memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Yakni dalam bentuk pemberitaan, sekaligus menyalurkan aspirasi rakyat kepada pemerintah. “Mari kita menjaga kemerdekaan pers. Menjaga muruah pers dan bagaimana kita berkreasi supaya bisa lebih berkembang di masa-masa yang akan datang,” kata Faisal Syam.

Direktur Harian Fajar itu menerangkan, upaya-upaya pers untuk meningkatkan kualitas jurnalismenya harus dimaknai sebagai strategi dalam memperkuat model bisnis pers di tengah era digitalisasi. Sekaligus mendukung keberlanjutan pers di masa datang. “Pers harus bisa menjalankan fungsinya sebagai salah satu penyalur informasi yang benar ke publik, sebagai agen anti hoax. Sehingga publik mendapatkan informasi yang mencerahkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan posisioning pers sebagai pilar demokrasi sudah tidak diragukan lagi. Bersama lembaga eksekutif, yudikatif, dan legislatif, pers adalah pilar keempat yang menopang tegaknya demokrasi di sebuah negeri. Demokrasi yang mensyarakatkan adanya kebebasan berpendapat, yang merupakan sumber rujukan bagi kehidupan pers yang bebas dan independen. “Karena itulah, melindungi pers bermakna melindungi (tegaknya) demokrasi,” ujar Bambang Soesatyo, dalam tayangan video yang disiarkan pada webinar nasional “Good Journalism for Our Nation”, yang diselenggarakan Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat secara virtual melalui zoom, Kamis (23/9).

Bambang menyebutkan jurnalisme berkualitas hanya bisa diwujudkan oleh pers yang bekerja independen dan terlindungi dari berbagai tekanan kepentingan eksternal. Dalam konsepsi ini iklim kondusif jurnalisme membutuhkan kebebasan pers.

Kembalikan Reputasi

Isu bisnis pers, khususnya media cetak, banyak disoroti narasumber webinar. Ini berkorelasi dengan situasi bisnis pers yang tengah berada dalam tekanan luar biasa akibat disrupsi digitalisasi dan efek gelombang pandemi Covid-19. “Pasar media cetak ke depan akan semakin sulit. Apalagi reputasinya juga semakin tergerus oleh media-media lain sesuai hasil riset yang dipaparkan Dewan Pers,” ulas Dahlan Iskan yang juga pendiri Disway. Ia pun mewanti-wanti, suratkabar masih bisa bertahan apabila mampu mengembalikan reputasinya di mata publik.

Ikhwal reputasi yang disinggung mantan Menteri BUMN tersebut merujuk dari hasil riset Dewan Pers yang disampaikan Wakil Ketua Dewan Pers Hendry Ch Bangun. Dalam temuan riset yang bertajuk “Kepercayaan Publik terhadap Media Pers Arus Utama di Masa Pandemi Covid-19 Tahun 2021”, secara umum responden masih percaya dengan media arus utama, tak terkecuali suratkabar.

Di mata Ketua Harian SPS Pusat, Januar P Ruswita, upaya-upaya pers untuk meningkatkan kualitas jurnalismenya harus dimaknai sebagai strategi dalam memperkuat model bisnis pers di tengah era digitalisasi. Sekaligus mendukung keberlanjutan pers di masa datang. (fin)

Responden Masih Percaya Media Arus Utama