Oleh: Wa Ode Vitria A. Sari (Statistisi BPS Kota Kendari)

KENDARIPOS.CO.ID — Ekonomi Sulawesi Tenggara tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar 0,65 persen, anjlok dari tahun sebelumnya yang tumbuh mencapai angka 6,50 persen (sumber: sultra.bps.go.id). Covid-19 menjadi fenomena utama penyebab porak-porandanya perekonomian nasional. Berbeda halnya dengan tahun lalu, ekonomi Sulawesi Tenggara hingga tengah tahun 2021 tumbuh menggembirakan. Hasil rilis BPS Sulawesi Tenggara mencatatkan pertumbuhan 2,13 persen di semester pertama 2021 (c to c); 3,72 persen (q to q); dan 4,21 persen (y on y). Melihat dan membayangkan angka-angka tersebut sudah tidak lagi berada di bawah garis nol (negatif) tentulah melegakan sekaligus menggembirakan. Lega karena fase terberat (kemungkinan) telah berhasil kita lewati, menggembirakan karena sinyal pulihnya perekonomian semakin nyata. Tetapi kemudian muncul pertanyaan, benarkah perekonomian kita menunjukan tanda-tanda membaik mengingat gangguan pandemi yang masih secara masif terus muncul dengan varian barunya? atau dengan kata lain bayang-bayang akan ketidakpastian (uncertainty) ekonomi yang muncul akibat pandemi benarkah tidak ada?

Wa Ode Vitria A. Sari (Statistisi BPS Kota Kendari)

Kebijakan pemerintah menerapkan strategi rem-gas, terlepas dari segala prokontra patut diapresiasi mengingat semua pencapaian yang ada tidak terlepas dari keberhasilan penerapan strategi tersebut. Kita lihat pada triwulan III 2020 pertumbuhan ekonomi Sultra mengalami kontraksi 0,11 persen (c to c) sebelum akhirnya ditutup (masih) dengan kontraksi 0,65 persen pada akhir 2020. Menarik melihat data triwulan III 2020 (y on y) tercatat kontraksi 1,89 persen menjadi semakin dalam pada paruh akhir semester II 2020 (triwulan IV; masih y on y) yakni -2,15 persen; sementara secara q to q triwulan III 2020 terjadi pertumbuhan positif 4,65 persen. Bila diperhatikan dengan seksama, pertumbuhan secara q to q tersebut mengindikasikan bahwa pelonggaran PSBB saat itu menjadi pemicu geliat aktivitas ekonomi pada wilayah-wilayah yang mengalami pembatasan aktivitas baik sosial maupun ekonomi.

Pelonggaran PSBB mendorong sektor-sektor yang tadinya terhenti kembali menggeliat. Lebih dari 10 lapangan usaha mengalami pertumbuhan luar biasa dari 17 lapangan usaha penyumbang PDRB Sultra, contoh sektor Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum yang merupakan sektor paling terpuruk akibat kebijakan PSBB pada triwulan III 2020 (q to q) langsung berbalik arah dari -12,27 persen tumbuh menjadi 13,13 persen. Pelaku usaha di sektor tersebut betul-betul memanfaatkan momen normal baru dalam mengejar ketertinggalan dari sektor lain. Hotel yang tutup sementara kembali mempekerjakan karyawannya, reservasi kembali dibuka, begitu juga dengan restoran dan rumah makan yang kembali memulai aktivitasnya; korporasi maupun rumah tangga dan perorangan bisa mulai merencanakan pertemuan di hotel-hotel tersebut dan melakukan pemesanan konsumsi dan masih banyak lagi. Multilplier ekonomi sektor ini mendongkrak ekonomi Sultra melalui normal baru, bayangkan juga agregat sektor lainnya seperti Transportasi dan Pergudangan, Industri Pengolahan, Perdagangan, Konstruksi, dan Jasa Keuangan.

Pembukaan jalur-jalur penghubung antardaerah menghubungkan kembali simpul-simpul ekonomi melalui pengoperasian berbagai moda transportasi. Logistik untuk kebutuhan konsumsi masyarakat kembali terdistribusi ke setiap daerah. Arus penumpang dan barang kembali stabil. Bahan baku untuk kebutuhan Industri Pengolahan maupun sektor Konstruksi kembali terpenuhi. Perputaran uang kembali menghidupkan sektor perbankan atau Jasa Keuangan. Demikianlah keterikatan dan keterkaitan setiap sektor membentuk sinergi dan menghasilkan pertumbuhan mengesankan pasca pengereman aktivitas pertama kalinya di 2020 kemarin.

Situasi ekonomi yang terjadi tahun lalu ditanggapi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai bukan resesi, menurut beliau secara teknis resesi baru terjadi jika pertumbuhan di kuartal III juga negatif (sumber: Bisnis.com). Pernyataan tersebut dianggap skeptis oleh beberapa kalangan pengamat, namun penulis beranggapan bahwa fundamental ekonomi negara yang terbentuk sejak krisis ekonomi ’98 menjadi pendukung kuat pernyataan menteri keuangan tersebut (terlepas dari perilaku para pelaku bisnisnya). Terbukti (kembali lagi) bahwa pelonggaran PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) menaikkan pertumbuhan ekonomi ke area positif. Contoh lain, penulis melihat kebijakan pemerintah saat diberlakukannya Lock Down dengan pemberian injeksi ke masyarakat berupa in kind maupun in cash termasuk kebijakan kredit perbankan dan kemudahan pajak dianggap ampuh mencegah kondisi ekonomi dan kecemasan sosial yang lebih parah. Harus diakui kombinasi penerapan kebijakan fiskal dan moneter pemerintah selama pandemi 2020 menunjukkan kekuatan fundamental perekonomian negara, tetapi semua itu bukanlah jaminan untuk kestabilan. Naik turunnya kurva perekonomian adalah sinyal kepastian atas kebijakan yang telah diterapkan pemerintah, sementara kelanjutan perjalanan kurva kedepannya hanya dapat diramalkan dan masih mengandung ketidakpastian karena faktor pandemi yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan.

Berbicara mengenai perkiraan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2021 yang akan rilis pada bulan berikutnya, dengan turut mempertimbangkan angka pertumbuhan ekonomi Sultra triwulan II 2021 yang tumbuh luar biasa ditambah dengan kebijakan pemerintah pusat membagi sektor-sektor esensial dan kritikal sebagai strategi menjaga perekonomian tetap berjalan (meskipun tidak seperti biasanya, dan utamanya hanya pada Jawa-Bali); penulis optimis pertumbuhan positif masih akan terus berlangsung lebih dari 2 persen. Hal itu juga didukung dengan kemampuan mitigasi resiko pemerintah pusat setelah melewati pengalaman kebijakan lock down tahun lalu. Satu hal yang paling penting, bahwa kontraksi ekonomi yang terjadi kemarin tidak bersumber utama dari kelemahan sektor penggerak perekonomian, tetapi faktor eksternal yaitu situasi pandemi. Itulah yang menjadi alasan utama perekonomian siap melejit tepat setelah dilakukan pelonggaran PSBB dan adaptasi perilaku masyarakat disertai dengan kecepatan penyesuaian kebijakan pemerintah pusat terhadap pandemi.

Pandemi yang tak kunjung reda serta belum ditemukannya vaksin yang benar-benar ampuh terhadap Covid-19 menimbulkan atmosfir ketidakpastian dalam perekonomian. Kedepannya pemerintah dituntut bekerja ekstra memikirkan kebijakan yang tepat melindungi perekonomian, karena saat tulisan ini dibuat sedang berlangsung krisis keuangan di Amerika Serikat yang patut diwaspadai dampaknya terhadap negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Meskipun secara langsung Amerika bukan negara tujuan ekspor provinsi Sulawesi Tenggara (1. Belanda, 2. Hongkong, 3. Korea Selatan; sumber: Sulawesi Tenggara Dalam Angka 2021), namun secara tidak langsung Amerika menjadi negara nomor 1 tujuan utama ekspor Sulawesi Tenggara dalam 5 tahun berturut-turut. Bersama telah kita alami ketidakpastian akibat pandemi, bagaimana jika ketidakpastian itu juga terkombinasi dengan faktor internal yaitu adanya pengaruh dari siklus bisnis itu sendiri? Tak ada yang ideal pada masa darurat pandemi sejitu apapun strategi pilihan pemerintah, mengutip komentar pengamat ekonomi Faisal Basri “sebab, nyawa manusia sebagai taruhan”.(*)