Kita Relakan Ibu Agista Ali Mazi, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Kita Relakan Ibu Agista Ali Mazi, Oleh : Prof. Eka Suaib


Oleh : Prof.Eka Suaib (Guru Besar Fisip UHO & Ketua AIPI Cab.Kendari)

KENDARIPOS.CO.ID — Ada masa datang, ada masa pergi. Kedatangan dan kepergian adalah fenomena alamiah yang mengalir dengan sendirinya. Begitulah, suasana kebatinan, saat hari Selasa menjelang magrib, 13 Juli 2021, sudah tersebar luas melalui WhatsApp Grup (WAG) kepulangan Ibu Agista. Untuk meyakinkan berita tersebut, saya mesti menelpon beberapa orang karib almarhumah. Semua mengatakan, : Prof, ibu sudah pergi.

Setelah itu, saya membaca beberapa in memoriam dari sahabat Ibu Agista. Ada tulisan Emmy Astuti, yang menceritakan sosok Ibu Agista tidak sombong, tidak pelit, sosok mudah beradaptasi. Ibu Agista, ternyata orang yang punya gagasan strategis. Tidak ada uang diberikan langsung kepada kami. Seribu rupiahpun. Orang tidak percaya, tapi itulah faktanya. Tulis Emmy melalui wall fb-nya. Yang terjadi adalah memberikan ide dan gagasan pada program-program agar lebih sensitif kepada masyarakat miskin, perempuan, dan anak-anak.

Prof. Dr. Eka Suaib

Krisni Dinamita, menuliskan kisah perjalanannya yang panjang bersama ibu Agista. Sebelum jadi ibu gubernur, hampir tiap malam selalu saling telpon, curhat apa saja. Saya juga membaca tulisan melalui wall fb Mia Ariyana. Menurut Mia, gagasan ibu Agista yang ingin membangun Pesantren Tahfidz Qur’an. Sudah ada tanah untuk dibangun pesantren dan kantor Yayasan Agista Peduli di tempat tersebut.

Erwin Usman, juga menceritakan ketulusan ibu Agista dalam melayani sendiri untuk keperluan makan, membuat kopi, dan juss. Erwin adalah koordinator tim advokasi Ali Mazi dalam Pilgub Sultra 2012.

Bukan hanya sahabat dan kolega dekat yang merasakan kepergian ibu Agista. Saat istri saya berbelanja di salah satu pasar tradisional, para pedagang bercerita bahwa Ibu Agista sering beli sendiri ikan dan keperluan sayur mayur untuk dimasak di rumah jabatan (Rujab). Para pedagang di lokasi tersebut mengetahui Ibu Agista sendiri yang mengatur menu buat suami.

Fase penting perjalanan ibu Agista saat menjadi First Lady (ibu Gubernur) Sultra. Suatu metamorphosis luar biasa yang tentu saja tidak mudah, namun juga bukan berarti tidak ada persiapan akan hal tersebut. Saat masa kampanye dan setelah Bang Ali Mazi, dilantik tahun 2018, secara tidak langsung sudah mempersiapkan ibu Agista menjadi ibu gubernur Sultra.

Sesungguhnya, bukanlah hal yang sulit. Latar belakang Ibu Agista adalah pengusaha yang tentu saja punya kegiatan selalu terlibat dalam kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat. Meski harus disadari bahwa tugas sebagai ibu gubernur jauh lebih rumit daripada apa yang pernah dihadapi sebelumnya.

Dalam beberapa kesempatan saya bertemu dengan Bang Ali Mazi bercerita bahwa jika ia dikritik sebagai gubernur ia sangat kuat dengan semua itu. Hanya ia sangat khawatir dengan kondisi ibu Agista. Menjadi hal wajar, kebijakan yang diambil sebagai gubernur kerap menimbulkan pro dan kontra. Situasi batin yang dihadapi ibu gubernur tentu saja berbeda karena kodratnya sebagai perempuan.

Saya sering menyaksikan pada momen-momen tersebut, Bang Ali Mazi dan ibu Agista tidak terganggu. Sabar, sabar, dan sabar menjadi cara untuk menenangkan diri. Sikap sabar itulah yang pada akhirnya terbentuk ’anti bodi’. Yakni rasa pengertian ibu Agista akan tugas suami. Sudah terlewati melewati perjuangan bersama Bang Ali Mazi, dan karenanya menghadapinya harus tangguh.

Menjadi ibu gubernur jelas terasa membahagiakan. Seabrek peran bisa dilakukan sebagai Ketua TP PKK, Ketua KONI Sultra, Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Daerah, Bunda PAUD hingga Bunda Baca Sultra. Itulah yang harus dihadapi karena anugerah dan ibadah sekaligus.

Menjadi ibu Gubernur tidak ada sekolahnya. Tidak ada jenjang kariernya. Sebab, tidak ada ibu gubernur sebelumnya yang mewariskan ilmu pada orang lain. Ketika sudah menjadi ibu gubernur, maka seketika itu pula pembelajaran dimulai. Setiap ibu gubernur memiliki karakter pelayanan yang berbeda. Masing-masing memiliki aspirasi dan kreatifitas yang berbeda pula dan tentu mencerminkan gelora idealisme masing-masing. Semua bernilai dan tidak bisa dibanding-bandingkan.

Ibu Agista tampil sebagai ibu gubernur saat media sosial (medsos) sangat jamak dalam sistem pemerintahan. Kehidupannnya dikuak, sampai pada hal-hal yang sangat privat sekalipun. Namanya medsos, bisa benar dan bisa hoax. Saya lihat ibu Agista sangat kuat menghadapi hal dimaksud.

Dalam beberapa perbincangan, ia sangat menaruh hormat pada kolega, sahabat yang dengan sepenuh hati mau paham tentang dirinya. Kata ibu Agista, dari merekalah, ia kuat menghadapi semua itu.

Kita perlu melepas dengan ikhlas ibu Agista disaat masih besarnya warga yang tetap menginginkan kehadirannya. Semasa hidupnya, tangan-tangan tulusnya telah banyak membantu warga. Tapi, semua harus ditutup dengan jarum waktu pengabdiannya sudah habis. Seperti itulah hidup, ada datang dan pergi. Maka, mari kita relakan Ibu Agista pergi…..! Selamat jalan ibu.

Selamat Jalan Ibu

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy