AGISTA ARIANY Oleh: Erwin Usman – Kendari Pos
Kolom

AGISTA ARIANY Oleh: Erwin Usman

KENDARIPOS.CO.ID– Saat menjadi pendamping Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) tahun 2003-2008, usianya baru 28 tahun. Dia mendampingi suaminya Ali Mazi. Yang terpilih dalam pemilihan Gubernur (Pilgub) Sultra di DPRD Sultra. 21 November 2002. Kala itu, sistem pemilihan kepala daerah belum secara langsung. Di periode ini, saya tidak pernah bersemuka dengan Agista. Jadi, tidak akrab. Apalagi saya sudah berdomisili di Jakarta.

Saya hanya kenal suaminya; seorang Advokat di Jakarta (sebelumnya di Yogyakarta) dan kami sama-sama dari Buton. Agista sendiri asalnya dari Gorontalo. Menikah dengan Ali Mazi tahun 2000.

Pertemuan dengan Agista terjadi saat saya ditunjuk Ali Mazi jadi Koordinator Tim Advokasi Ali Mazi dalam Pilgub Sultra 2012. Waktu itu suaminya dijegal KPUD Sultra dalam tahap pleno pencabutan nomor urut pasangan calon (Paslon). Yang berujung Ali Mazi dan Bisman Saranani, cawagubnya, digugurkan. Kisah kemudian, Tim Advokasi menggugat ke Dewan Kehormatah Penyelenggara Pemilu (DKKP RI) dan putusannya: Ketua dan semua anggota KPUD Provinsi Sultra diberhentikan tidak hormat. Ketua Majelisnya Prof. Jimly Asshiddiqie, SH.

Dalam proses advokasi yang berlangsung kurang lebih 2 bulan itu, saya dan tim advokasi banyak berdiskusi dan mematangkan langkah di kediaman Ali Mazi. Letaknya di Jl. Hang Tuah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Lokasinya persis di belakang gedung bundar Kejaksaan Agung. Dekat juga dari Blok M Plaza. Agista sebagai tuan rumah jadi sering ketemu dan bercakap. Sesekali dia tanya perkembangan kerja tim.

Yang paling saya ingat, bila pagi hari sarapan dengan Ali Mazi. Di ruang tengah. Agista akan menyiapkan sendiri sarapan. Walau ada asisten rumah tangga. Dari memasak, menata makanan di meja makan, hingga menemani sarapan. Biasanya kami sarapan berempat. Agista, Ali Mazi, saya dan Bang La Djusmani. Kadang sore hari juga demikian.

Di meja itu juga informasi tim diupdate. Agista tekun menyimak. Roman wajahnya ramah tanpa dibuat-buat. Sesekali dia tersenyum atau tertawa kecil bila ada bagian diskusi yang lucu. Tak pernah dia menyela. Tangannya sigap menuang kopi atau jus bila tandas di gelas kami. Atau menambahkan buah di piring kami. Dia juga tak sungkan menawarkan aneka makanan dari kulkas di dapur. “Silahkan, anggap saja seperti di rumah sendiri,” ujarnya kerap kali dengan sopan.

Begitulah rutinitas di rumahnya yang sekaligus jadi posko tim advokasi. Setelah momen itu, saya sudah jarang bertemu. Apalagi setelah Ali Mazi sekeluarga pindah rumah di Jl. Rambai, sekitar tahun 2013. Jaraknya kurang lebih satu kilometer dari rumah pertama. Masih di Jakarta Selatan. Dan setelah dilantik jadi Gubernur Sultra periode 2018-2023 mereka menetap di Kendari. Hanya sesekali kami bertegur sapa di kolom komentar Facebook.

Kemarin, Selasa 13 Juli 2021, pukul 17.30 Wita, Agista dikabarkan wafat di RSUP Bahteramas Kendari. Setelah sekitar 14 hari dirawat karena positif Covid-19. Semalam jasad ‘first lady’ Sultra itu telah dimakamkan. Bersisian dengan pusara neneknya. Di TPU Punggolaka Kendari. Dia berpulang di usia 46 tahun.

Ketua Umum KONI Sultra itu telah berpulang. Menyisakan kenangan di benak warga Sultra –selama 8 tahun mendampingi suaminya sebagai Gubernur 2 periode yang waktunya tidak berurutan. Semoga Allah melipatgandakan amalan kebaikan semasa hidupnya. Dan mengampuni dosa dan kesalahannya. Mari sama ikhlas – maafkan bila ada khilafnya di masa hidup. Mari mendoakan yang terbaik untuk almarhumah.

Selamat jalan, Agista. Selamat jalan, Ibu Gub. (*)
14 Juli 2021

(Penulis adalah sahabat Gubernur Sultra H Ali Mazi dan Almarhumah Agista Ariany)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy