Agama vs Budaya, dan Peranannya Wujudkan HANKAM Penduduk, Oleh: Dr. H. Mustakim, M.Si – Kendari Pos
Opini

Agama vs Budaya, dan Peranannya Wujudkan HANKAM Penduduk, Oleh: Dr. H. Mustakim, M.Si

KENDARIPOS.CO.ID — Arti kebudayaan, secara etimologis, berasal dari kata “budaya‟ yang dalam bahasa Sansekerta „Bodhya‟ (= akal budi). Budaya dalam Bahasa Inggris sering disebut dengan kata “culture” atau “cultuur” dalam Bahasa Belanda, yang kemudian kata ini juga menjadi serapan kata dalam Bahasa Indonesia sehingga orang Indonesia kadang menyebut budaya dengan kata “kultur”.

Dr. H. Mustakim, M.Si

Banyak para ahli mendefinisikan makna budaya, salahsatunya menurut Taylor (1897: 19) Kebudayaan ataupun yang disebut peradaban, mengandung pengertian luas, yang mencakup “pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat”. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kebudayaan yakni: 1. Hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat; 2. Antar keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.

Jika makna budaya diartikan sebagai “pedoman tingkah laku manusia” yang bersumber atau yang diciptakan/produk (cipta, rasa, karsa) dari manusia itu sendiri, maka berbeda dengan makna agama yang merupakan segala sesuatu yang didapat atau bersumber dari Tuhan yang juga dijadikan sebagai “pedoman tingkah laku manusia”. Menelisik pengertian antara budaya dan agama tersebut, dalam praktek kehidupan sehari-hari terkadang sulit dibedakan. Contohnya seseorang mempraktekkan “sopan santun”, bagi sebagian orang mungkin hal itu dilakukan karena budaya dan kebiasaan yang telah lama berlaku dalam komunitas tertentu.

Tetapi bagi sebagian orang bisa saja ia melakukan tindakan sopan santun karena perintah agamanya. Itulah sebabnya terkadang ada yang menyebut bahwa “agama” juga merupakan budaya, karena perilaku agamanya telah membudaya di tengah masyarakat. Bahkan bisa saja terjadi, pada awalnya suatu generasi mempraktekkan sopan santun karena atas dasar perintah agama, namun generasi berikutnya melaksanakan sikap sopan santun karena berdasarkan “ k e b i a s a a n” p e n d a h u l u n y a yang mereka tidak tahu kalau ajaran “sopan santun” itu sumber asalnya dari agama, sehingga dikiranya sopan santun adalah suatu budaya yang diciptakan manusia pendahulunya.

Sebaliknya, budaya juga bisa dijadikan agama. Ajaranajaran “agama” tertentu adalah hasil karya dan ciptaan pencetus atau pendirinya yang notabene seorang manusia. Karena ia ciptaan manusia berarti sesungguhnya sebuah budaya, namun dijadikan agama oleh pengikutnya. Dapatlah dipahami, kenapa dalam kajian ilmu keislaman, ada istilah “agama samawi” (agama langit) dan ada istilah “agama ardhi” (agama bumi). Hal ini untuk membedakan mana agama-agama yang berasal dari langit (= wahyu Allah/Tuhan), dan mana agama yang bersumber dari hasil karya manusia (apakah melalui perenungan, filsafat, semedi, latihan-latihan olah batiniah, dan sejenisnya).

Selanjutnya “agama samawi”, oleh sebagian kalangan muslim, dianggap lebih pas disebut agama. Sedangkan “agama ardhi” adalah suatu bentuk budaya. Bahkan, jika antara “agama samawi” dan “agama ardhi” tetap “ngotot” dianggap sebagai “sama-sama agama”, ada sebagian kalangan muslim yang lain berkeras bahwa Islam sebaiknya disebut sebagai “ad-diin” sesuai makna aslinya dan tidak perlu diterjemahkan sebagai agama, sehingga Islam tetaplah “Dienul Islam”. Sebagian ‘ulama setuju kata “ad-dien” diartikan sebagai “agama”, tetapi ada ‘ulama lain yang menghendaki makna “addien” sebaiknya merujuk saja pada alqur’an yang mengandung beberapa pengertian, al: sesuatu yang dianut seseorang/ al-millah (QS. al baqarah: 135, alanam: 161, shod: 7); hukum dan ketetapan (urat yusuf: 76, annur: 2); perhitungan (al-hisab), p e m b a n g k i t a n (al-bats), pembalasan (al-jaza), ketetapan (al-qodho), ganjaran (ats-tsawab), siksaan (al-iqob), seperti terdapat dalam surat al-fatihah: 4, al-hijr: 35, an-nur: 25, asy-syuara: 82, as-shofat: 20, shod: 78, adz-dzariyat: 6, 12, al-waqiah: 56, al-maarij: 26, almudatsir: 46, al-infithor: 9, 15, 17, 18, al-muthofifin: 11, at-tin: 7 al-maun: 1. dsb.

Perdebatan makna agama dan budaya tersebut sengaja penulis ketengahkan sebagai upaya “menyatukan” pemahaman bahwa meskipun sumber dari keduanya berbeda namun produk dari agama dan budaya adalah sesuatu yang sangat bernilai. Terlebih lagi yang terjadi di Indonesia. Kita tahu, sebelum Indonesia lahir menjadi negara yang merdeka, wilayah ini telah dihuni oleh penduduk yang beragam agama dan budaya. Mereka telah hidup berdampingan selama ratusan (atau bahkan mungkin ribuan) tahun lamanya.

Hal yang luar biasa adalah keragaman agama dan budaya tersebut dapat dipersatukan untuk melahirkan satu tujuan yakni cita-cita bersama untuk menjadi bangsa yang merdeka dan melepaskan diri dari penjajahan asing. Penyatuan itu tercermin dalam kalimat yang sangat monumental, yakni istilah “Bhineka Tunggal Ika” (walaupun berbeda-beda tetapi satu tujuan). Penulis tidak menampik, ada beberapa jenis budaya yang oleh sebagian kalangan pemeluk agama dianggap sesat karena dinilai bertentangan dengan agama, atau mungkin juga sebaliknya. Hal ini adalah kekecualian yang tidak penulis bahas dalam tulisan ini.

Penulis hanya ingin berusaha mencari titik temu antara agama dan budaya yang bisa menjadi suatu kekuatan untuk bangsa dan negara ini, salahsatunya kekuatan pertahanan dan keamanan (hankam) bagi penduduk dan bangsa Indonesia secara luas. Meminjam istilah Ilmuwan Malaysia, Ilyas Ba Yunus, mungkin “bhineka tunggal ika” adalah cermin dari “fungsionalisasi” agama dan budaya yang menyatu di Indonesia.

Ini adalah satu kekuatan yang perlu terus dipupuk oleh bangsa Indonesia. Bukan hanya untuk meraih dan merebut kemerdekaan dari penjajah dulu. Nilai kebersamaan yang telah diwariskan para leluhur kita tersebut juga sangat dibutuhkan pada situasi saat ini dimana anak-anak bangsa, salahsatunya tergambar dalam media sosial, nampak “terpecah belah”. Fanatisme kelompok, benturan kepentingan, sampai pada perbedaan pilihan saat pemilu, begitu kentara asap perseteruannya yang selalu mengepul ke udara. Ambisi ingin viral terkadang juga memunculkan kehebohan tersendiri dan melukai sebagian pengguna media sosial lainnya.

Miris rasanya jika kita buka media sosial yang saling menghina antar pemeluk agama. Saling mencemooh antar budaya. Saling menjatuhkan satu sama lain. Mental blok dan egoisme sektoral seakan menjadi “agama” dan budaya baru bangsa kita saat ini. Entah apa yang melatar belakangi mereka bersikap seperti itu? Seakan saudara sebangsa dan setanah air adalah “musuh sebangsa dan setanah air”. Jika “permusuhan” terus membudaya di kalangan anak-anak bangsa, dikhawatirkan ada anak-anak bangsa asing yang bakal memangsa bangsa ini. Porakporanda dan hancurnya sebagian penduduk di banyak negara lain (misalnya: Irak, Libiya, Syiria, dll) tidak lepas dari upaya “adu domba” bangsa-bangsa lain yang ingin mengambil keuntungan di negara-negara tersebut.

Mungkin, ini yang dicemaskan Bung Karno, bahwa suatu saat kita akan dijajah dan bermusuhan sesama bangsa kita sendiri, karena tidak menutup kemungkinan pemicunya disebabkan sebagian anakanak bangsa ini “bekerja” demi kepentingan bangsa asing. Tentu saja, jika sikap saling bermusuhan terus dipupuk, maka taruhan terbesar adalah pertahanan dan kemanan (hankam) penduduk dan bangsa ini bisa runtuh. Gonjangganjing di dunia maya tidak menutup kemungkinan bisa merembet ke dunia nyata dan mewujudkan kerusuhan sosial hingga pemberontakan.

Ngerinya lagi, jika terjadi hal itu (mudah-mudahan tidak terjadi) lantas sebagian anak bangsa ini meminta bantuan bangsa dan negara lain untuk menghabisi para pemberontak, maka persislah bangsa ini nasibnya tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di beberapa negara bagian timur seperti Irak, Libiya dan Syiria tsb. Kita berhasil diadu domba! Karena hakikatnya yang melakukan pemberontakan adalah saudara kita sendiri.

Bagi penulis, kedua kelompok tersebut sama tidak benarnya, kelompok yang satu adalah “pemberontak” dan kelompok yang satunya adalah “para penjilat”. Maka sebelum hal ini terjadi perlu adanya upaya dan langkah-langkah tertentu untuk menghentikannya. Antara lain kita kembali kepada karya para leluhur bangsa kita yang telah berhasil menyatukan agama, budaya, dan karakteristik bangsa Indonesia, yakni PANCASILA.

Salahsatu contohnya, meskipun Undang-Undang ITE telah diberlakukan, namun penerapannya jangan sampai pandang bulu. Keadilan harus juga ditegakkan. Dalam penegakan hukum, jangan menghukum orang-orang yang kita benci dan membiarkan teman karena ia teman sendiri. Yang kritis dikikis yang memuji diberi saji. Hukumlah yang benar-benar bersalah, dan bela/ selamatkan yang benar. Karena ketidak adilan seringkali jadi pemicu utama kerawanan sosial yang bisa menimbulkan kerusuhan bahkan pemberontakan. Ini ajaran sila kedua dari pancasila kita, Bro! Tuhan pencipta kita dan pencipta tanah air kita pun berfirman: “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah! Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.

Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Maidah: 8). Meskipun penulis mengutip ayat al-Qur’an, tapi penulis yakin, pemeluk agama lain pun setuju, keadilan harus ditegakkan! Begitupun dengan sila-sila lainnya dari pancasila, mari kita bumikan lagi.

Jika di era Soeharto pancasila telah dibuktikan saktinya karena mampu menumpas G/30 S/PKI yang dinilai bertentangan dengan “sila Ketuhanan Yang Maha Esa”, sehingga 1 Oktober kita (pernah) merayakan Hari Kesaktian Pancasila. Maka di era sekarang, mari kita bumikan pancasila dari kesadaran kita masing-masing, tanpa harus ada pemberontakan, tanpa harus menjadi penjilat bangsa asing, tanpa harus ada penumpasan pemberontak(seperti yang terjadi di era orba itu), tapi cukup dengan menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai pancasila oleh setiap diri kita anak-anak bangsa Indonesia.

Harmoniskan kembali hubungan antar elemen penduduk. Para tokoh, termasuk tokoh agama dan budaya, harus selalu berangkulan dengan pemerintah. Tokoh pemerintah pun bisa menghargai kritikan dan masukan dari tokoh di luar pemerintahan, kalau memang kritikan tersebut membangun. Satukan kepentingan kita, perkuat selalu pertahanan dan keamanan bangsa dan negara ini. Kita adalah satu, INDONESIA! NKRI harga mati! Dan….”Torang Samua Basudara!”.*

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy