Ritel Bertumbangan, Potret Buram Perekonomian, Oleh : Hasriati, S.Pi – Kendari Pos
Opini

Ritel Bertumbangan, Potret Buram Perekonomian, Oleh : Hasriati, S.Pi


Hasriati, S.Pi (Statistisi Ahli di Badan Pusat Statistik Kabupaten Konawe)

KENDARIPOS.CO.ID — Di tengah Pandemi Covid-19 yang berlarut-larut dan belum bisa dikendalikan, tak hanya ritel kecil yang mengalami kelesuan ekonomi atau pun gulung tikar. Ritel modern raksasa pun satu per satu ikut tumbang. Salah satu pelaku bisnis besar ritel modern PT Hero Supermarket Tbk, telah memutuskan untuk menutup seluruh gerai Giant di akhir Juli mendatang. Kondisi ini menambah buramnya, potret ekonomi di Nusantara.

Hasriati, S.Pi (Statistisi Ahli di Badan Pusat Statistik Kabupaten Konawe)

Giant tak sendiri, selain Giant paling tidak terdapat empat gerai raksasa lainnya yang ikut tumbang pada masa pandemi. Empat ritel raksasa lainnya yang juga ikut tumbang adalah PT Gramedia Asri Media, pemilik toko Gramedia tak memperpanjang masa sewa di Mall Taman Anggrek pada Oktober 2020. Golden Truly menutup operasionalnya pada 1 Desember 2020, dengan mengubah model bisnisnya menjadi online. PT Matahari Departement Store Tbk berencana akan menutup 13 gerainya di tahun 2021. Selanjutnya Centro, gerai ritel fashion yang mulai menutup gerainya di Plaza Ambarukmo Yogyakarta pada Maret 2021.

Padahal hingga Maret 2021, Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) melaporkan bahwa jumlah ritel kecil dan menengah yang gulung tikar lebih banyak lagi. Jumlahnya mencapai sekitar 1.250 – 1.300 toko se-Indonesia. Ketua umum Aprindo Roy Nicholas Mandey, menilai kondisi bisnis ritel masih menjanjikan, meskipun selama 15 bulan terakhir, bisnis ritel masih belum menunjukkan pemulihan yang signifikan.

Dampak Tumbangnya Gerai Giant

Keputusan penutupan gerai Giant oleh PT Hero Supermarket Tbk, kemudian memfokuskan bisnisnya ke IKEA, Guardian dan Hero Supermarket menjadi strategi perusahaan untuk mengembangkan format bisnisnya memiliki masa depan. Penutupan seluruh gerai Giant yang mencapai 100 gerai menjadi solusi tend perubahan perilaku konsumen dan juga dampak pandemi.

Pasalnya di tengah pandemi yang mengguncang ekonomi rakyat, kondisi ekonomi Indonesia yang hingga kini masih terjerat dalam jurang resesi, telah merontokkan daya beli masyarakat. Kemampuan daya beli masyarakat menurun. Pilihan bijak yang diambil, dengan menekan komsumsi.
Penurunan konsumsi masyarakat tergambar dari kontraksinya pengeluaran konsumsi rumah tangga, yaitu sebesar -5,52 persen pada kuartal 2 tahun 2020. Meski terjadi sedikit pemulihan, namun hingga kuartal pertama 2021 masih mengalami kontraksi, yaitu minus 2,23 persen yoy. Padahal jika melihat struktur PDB, konsumsi rumah tangga menyumbang 56,9 persen pembentuk PDB.

Sebagai ritel raksasa, pelaku bisnis memang memiliki modal besar dan aset yang tak sedikit. Namun peritel modern raksasa ini, telah berupaya menggunakan dana cadangan, tetap saja dana cadangan tersebut tidak mampu menahan biaya operasional yang lebih besar dari pendapatan. Biaya yang dikeluarkan pada saat pandemi, tidak sebanding dengan pemasukannya.

Tutupnya gerai modern raksasa, yang memiliki tenaga kerja yang cukup banyak, berdampak timbulnya pengangguran baru. Data Asosiasi Serikat Pekerja bahwa jumlah karyawan Giant saat ini mencapai 3.000 karyawan. Kemungkinan pengalihan karyawan Giant ke usaha lain PT Hero Supermarket pun belum mendapatkan kepastian. Selain belum adanya kejelasan kapan outlet Guardian dan gedung baru IKEA bakal dibuka, serapan tenaga kerja dari dua unit usaha tersebut tak sebanyak di Giant.

Tentu ini akan menambah persoalan negara dalam hal pengangguran. Sementara pengangguran terbuka di masa wabah ini, telah meningkat tajam. Badan Pusat Statistik, mencatat pada Februari 2021 jumlah pengangguran terbuka (angkatan kerja yang tidak bekerja sama sekali) di Indonesia mencapai 8,75 juta orang atau meningkat 26,26 persen dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya.

Selain ancaman pemberhentian tenaga kerja Giant, penutupan gerai Giant di seluruh Indonesia juga akan merugikan Usaha Mikro Kecil Menengah. Pasalnya menurut Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) ada ratusan bahkan ribuan pekerja UMKM yang menjadi rantai pemasok barang-barang (supply chain) ke gerai Giant. Tutupnya Giant otomatis akan mengurangi peluang pemasaran produksi UMKM. Hal ini akan berimbas kepada penghasilan UMKM. UMKM pun akan mempertimbangkan kelangsungan usaha, biaya operasional tinggi tidak sebanding dengan pemasukannya. Langkah selanjutnya pilihan wajar, UMKM akan melakukan PHK.

Oleh karena itu, nasib para pekerja tersebut perlu dipikirkan. Tak bijak kiranya berlepas tangan dari kondisi ribuan pekerja, yang terdampak dengan ditutupnya hypermarket Giant. Uluran tangan seluruh pihak, terutama penguasa menjadi keniscayaan untuk melindungi pekerja dari momok ekonomi sekaligus menghindari persoalan sosial lainnya.

Solusi Islam

Persoalan pengangguran telah lama dihadapi bangsa Indonesia. Hanya saja saat ini, pengangguran semakin kompleks. Karena Indonesia dan dunia global tidak mampu menghadapi ujian pandemi, yang secara signifikan memperburuk angka pengangguran. Sistem ekonomi kapitalisme yang dianut oleh negara-negara di dunia, telah menjadi pihak tertuduh berjamurnya pengangguran. Sistem yang memposisikan penguasa sebatas regulator, tak terjun langsung melakukan pengurusan rakyat. Sistem yang membiarkan sektor non riil sebagai cara memperkaya diri yang munculkan gelembung ekonomi. Padahal jika potensi dana dialihkan ke sektor riil, maka akan menyerap banyak tenaga kerja.

Kebijakan negara dalam upaya menyejahterakan rakyat untuk menyelesaikan problem ekonomi setiap individu masyarakat dalam Islam dikenal dengan istilah Politik Ekonomi Islam. Politik Ekonomi Islam, tidak memfokuskan pada kesejahteraan negara secara makro yang tertulis dalam angka. Karena bisa saja angka kesejahteraan ekonomi negara baik-baik saja, namun banyak rakyat miskin dan atau mati kelaparan.

Oleh karena itu dalam Politik Ekonomi Islam ada jaminan bagi setiap individu terpenuhi kebutuhan primernya. Negara dalam Islam seharusnya menempuh tiga strategi kebijakan. Pertama, Islam menetapkan tanggung jawab memenuhi kebutuhan pokok individu berupa sandang, pangan dan papan kepada individu dengan mewajibkan bekerja pada setiap laki-laki yang balig, berakal dan mampu bekerja. Maka negara wajib menyediakan lapangan kerja halal seluas-luasnya dan membangun iklim kondusif untuk usaha sektor riil dan investasi halal.

Kedua, jika individu tersebut tidak mampu dan tidak bisa memenuhi kebutuhannya beserta orang-orang dalam tanggungannya, beban tersebut dialihkan kepada ahli warisnya. Ketiga, jika dengan strategi kedua juga belum terpenuhi kebutuhan pokoknya, maka beban tersebut beralih kepada negara. Negara menanggungnya dengan harta yang ada di kas negara,termasuk yang berasal dari harta zakat. Sementara yang terkait dengan jaminan pendidikan, kesehatan dan keamanan negara secara langsung memenuhinya, untuk semua warga negara tanpa pilih kasih, pandang bulu. Alhasil, dengan adanya perlindungan negara, maka kesejahteraan individu masyarakat akan terjamin, pertumbuhan ekonomi akan stabil, kemiskinan dan pengangguran tidak menjadi momok menakutkan bagi rakyat. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy