Ali Mazi Jr, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Ali Mazi Jr, Oleh : La Ode Diada Nebansi


Oleh : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Calon tunggal di pemilihan kepala daerah, bisa dimaklumi. Karena di sini, untuk mendapatkan pintu partai sebagai syarat pendaftaran calon kepala daerah butuh banyak duit. Tapi ini, pemilihan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Tidak butuh bayar-bayar pintu untuk mendaftar. Yang dibutuhkan hanya syarat bahwa anda masih berusia pemuda. Yang penting anak muda, silakan daftar.

La Ode Diada Nebansi

Tapi, kok, calon tunggal? Tidak adakah pemuda? Mana itu para pemuda. Betul, ada syarat keanggotaan, lamanya menjadi pengurus, atau apalah syarat lain agar lolos sebagai calon ketua. Tapi, masa’ yah, ndak ada pemuda yang memenuhi syarat sama sekali?. Benar-benar menggelengkan.

Tarolah, pemuda-pemuda potensial di KNPI memutuskan untuk tidak mendaftar sebagai calon ketua karena lebih dahulu “keder” melihat calon lawan, seorang anak gubernur. Mestinya, ini tidak boleh terjadi. Sebagai anak muda potensi yang kreatif, berwawasan jauh ke depan.

Mestinya, tampilnya Alvin Akawijaya Putra SH bisa dibalik sebagai medan rivalitas yang sangat produktif. Tunjukkan dirimu bahwa anda bersaing, walaupun sudah meyakini diri sulit mengalahkan putera gubernur itu. Sebagai pemuda calon pemimpin yang cerdas, targetmu dalam pencalonan bukan untuk mengalahkan Alvin tapi untuk meyakinkan Alvin bahwa dari sisi kecerdasan intelektual dan manajerial organisasi kita setara. Perbedaannya, bapakku hanya menandatangani permohonan bedah rumah, sedangkan bapakmu menandatangani rumah-rumah yang akan dibedah.

Tunjukkan dirimu bahwa anda adalah pemuda hebat. Bahwa kamu cerdas. Bahwa kamu memiliki banyak pengikut. Bahwa kamu orator ulung. Karena itu tak dilakukan maka, semua keunggulan dan kehebatan yang anda miliki terus terkubur.

Rivalitas dengan Alvin Akawijaya bukan untuk mengalahkan tapi untuk memperkenalkan diri bahwa saya sanggup. Saya cerdas. Saya memiliki banyak pengikut. Saya orator hebat. Itu saja. Bukankah tidak sedikit pemuda yang sukses melalui organisasi KNPI? Kalau itu diakui, lantas kenapa anda tak menggunakan medium Musda KNPI sebagai koridor suksesmu? Menurut saya, anda lalai di etape ini.

Sebagai calon tunggal, Alvin Akawijaya pun sesungguhnya tak menemukan irama Musda organisasi yang super dinamis itu. Medan yang mestinya digunakan sebagai titik start menerapkan taktik dan strategi “turunan” ayah dimana di beberapa medan tarung organisasi apapun selalu keluar sebagai pemenang. Mestinya, di Musda KNPI-lah prakteknya. Bagaimana cara menekan lawan. Bagaimana cara melumpuhkan lawan dengan psywar.

Tapi bilamana, calon tunggal yang terjadi di Musda KNPI Sultra, sesungguhnya design by Alvin Akawijaya, maka ini kita harus angkat topi. Jempol. Ternyata, calon tunggal tidak ujug-ujug terjadi, tapi by design. Oleh siapa? Alvin. Kalau ini yang terjadi, memang: ternyata Ali Mazi junior yang tampil. Mau diapa, bisa jadi ada “darah” Oputa Yikoo mengalir dalam diri Alvin Akawijaya. Darah pemimpin, jelas. Darah Sultan, jelas.

Berikutnya, bagi Alvin Akawijaya, bahwa menjadi ketua KNPI provinsi adalah starting point untuk menunjukkan diri bahwa ketua saat ini memiliki keunggulan lebih. Keunggulan bukan karena sang ayah seorang gubernur, tapi personality Alvin yang Sarjana Hukum itu yang menerapkan manajerial kepemimpinan yang lain dari ketua-ketua KNPI sebelumnya.

Ketua organisasi nirlaba seperti KNPI, tentu beda dengan kepala dinas nirlaba. Sama-sama nirlaba, tapi beda. Sangat beda. Kepala dinas, bisa bagi-bagi proyek, ketua KNPI tidak. Memang, ada samanya antara ketua KNPI dan kepala dinas: sama-sama dituntut sukses menakhodai organisasi.

Kepala dinas dituntut sukses memimpin organisasi. Ketua KNPI pun demikian. Tapi kan, kepala dinas dibekali dengan duit untuk belanja rutin dan belanja publik, sedangkan ketua KNPI, tidak diberi duit. Kalaupun diporsikan duit APBD, besarannya juga tak seberapa.

Porsi anggarannya mengingatkan saya kepada seorang kawan yang selalu menusuk pinggir perutku dari belakang sambil berujar: ssssekedar. Saya kaget dan, benar-benar kaget. Tapi, kekagetanku berubah jadi senyum karena uluran sekedar tadi. Kata La Sabani, teman itu berinisial “L”. Sambil mendekatkan telinga ke mulut La Sabani saya tanya sekali lagi. Berinisial apa? “L”. Ternyata, La Sabani cadel. Mestinya R jadi L.

Oleh karena tuntutan sukses organisasi, Alvin tentu memiliki kemampuan. Dari sisi intelektual, mampu. Dari sisi infrastruktur, punya. Fasilitas, apalagi. Karena itu, wahai para pemuda Sultra, saatnya kalian untuk menunjukkan jati diri. Saatnya membangun diri, membangun organisasi dan menunjukkan kepada dunia luar bahwa SDM pemuda Sulawesi Tenggara memiliki daya saing, dan harus pula dipandang sebagai aset unggul bangsa ini.

Untuk mewujudkan itu semua, tentu dibutuhkan pemimpin yang visioner. Pemimpin yang memiliki jaringan luas. Pemimpin yang sanggup membaca tanda-tanda zaman. Pemimpin yang mampu membaca setiap potensi yang bisa dikelola sebagai hal yang sangat produktif. Dan, Alvin Akawijaya Putra SH-lah orangnya. (nebansi@yahoo.com)

Pemimpin yang Visioner

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy