Menakar Pemulihan Ekonomi Nasional, Oleh : Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika – Kendari Pos
Opini

Menakar Pemulihan Ekonomi Nasional, Oleh : Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika

KENDARIPOS.CO.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis perkembangan ekonomi mutakhir (triwulan I 2021). Data ini ditunggu banyak pihak untuk mengetahui prospek ekonomi 2021. Secara keseluruhan, data terbaru itu menunjukkan tiga perkembangan pokok. Pertama, perekonomian sejak triwulan III 2020 terus menunjukkan perbaikan ke arah pemulihan ekonomi. Sampai triwulan I 2021 memang pertumbuhan ekonomi masih negatif 0,7% (YoY), tapi secara konsisten membaik dari waktu ke waktu.

Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika (Pakar Ekonomi. Guru Besar FEB UB.)

Kedua, sektor ekonomi yang pertumbuhannya positif makin meningkat. Jika pada triwulan sebelumnya hanya sektor telekomunikasi, pertanian, dan kesehatan yang positif, sekarang terdapat sektor lain yang tumbuh positif. Artinya, geliat ekonomi mulai mekar berbunga.
Ketiga, Pulau Jawa dan Bali masih mengalami tekanan ekonomi yang berat. Hal itu ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi di dua pulau tersebut yang masih negatif cukup dalam. Padahal, dua pulau itu menjadi titik tumpu penyumbang pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada level global, terdapat sinyal positif perbaikan ekonomi. Dua data penting layak dicatat di sini. Indeks PMI (purchasing managers’ index) global terus mengalami peningkatan sejak Januari–Maret 2021. Di luar itu, harga komoditas penting yang menjadi andalan Indonesia juga mengalami kenaikan di pasar internasional seperti minyak kelapa sawit, kopi, dan aneka produk tambang (aluminium, nikel, dan tembaga).

Berikutnya, surplus neraca perdagangan Indonesia diharapkan terus meningkat karena kondisi ekonomi negara mitra dagang merangkak naik. Tiongkok, AS, Singapura, Korsel, Vietnam, dan Hongkong telah mengalami pertumbuhan positif pada triwulan I 2021.
Pertumbuhan ekonomi Uni Eropa memang masih negatif, tapi terus membaik jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (BPS, 2021). Jika situasi itu berjalan konsisten, pada triwulan berikutnya ragam perbaikan terus berlangsung. Hal itu bagi Indonesia merupakan harapan musim semi yang dirindukan.

Menko perekonomian amat yakin meramalkan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2021 di kisaran 7%. Optimisme itu tentu bukan tanpa alasan. Pertama, secara konsisten sejak triwulan III 2020 pertumbuhan ekonomi berangsur membaik meski masih negatif. Kesinambungan itu merupakan modal besar untuk terus berlanjut pada triwulan berikutnya.

Kedua, beberapa program pemulihan ekonomi, salah satunya belanja sosial, terserap lumayan besar sehingga menjadi penyumbang penting pergerakan ekonomi rumah tangga. Di samping itu, tambahan belanja yang bersumber dari THR (baik yang diberikan pemerintah, BUMN, maupun sektor swasta) juga menjadi kekuatan besar mendongkrak daya beli masyarakat.

Ketiga, pemberian vaksin terus bertambah sehingga menambah kepercayaan warga negara melakukan aktivitas di luar rumah. Kebijakan pelonggaran aktivitas transportasi juga membuat aktivitas ekonomi makin bergerak. Di sisi lain, baru saja umat muslim merayakan Idul Fitri. Pelaksanaan ritual itu memang belum semeriah seperti masa sebelum pandemi. Warga yang tinggal di kota besar seperti Jakarta dilarang mudik sehingga pergerakan orang masih terbatas. Namun, jika dilihat secara saksama, ritual mudik tetap terjadi. Diperkirakan sekitar 1,5 juta orang mudik dari Jakarta menuju wilayah-wilayah lain. D

Demikian pula terdapat puluhan ribu pemudik lain yang berasal dari luar Jakarta. Di luar itu, konsumsi yang meningkat selama Ramadan dan Idul Fitri menjadi kebiasaan yang selalu terjadi. Menjelang Lebaran, pusat perbelanjaan disesaki pengunjung sehingga terjadi penumpukan manusia. Hal yang sama terjadi pada tempat-tempat wisata yang pengunjungnya membeludak. Jika dilihat dari sisi kesehatan, peristiwa ini sebetulnya meresahkan. Tetapi, bila dilihat dari sisi ekonomi, itu menjadi pemicu gerak ekonomi yang penting bagi pemulihan ekonomi.

Meskipun terdapat tanda yang bagus, ketebalan optimisme mesti dijaga secara terukur. Penjualan mobil secara wholesale (penjualan sampai tingkat diler) triwulan I 2021 mengalami penurunan 21,05% jika dibandingkan dengan triwulan I 2020 (YoY). Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (QtQ), penjualan telah meningkat 16,63%. Hal yang sama terjadi pada semen. Produksi semen pada triwulan I 2021 turun 18,10% (QtQ) dan turun 2,15% (YoY). Pengadaan semen dalam negeri pada triwulan I 2021 juga turun 17,65% (QtQ), tetapi naik 2,21% (YoY) (BPS, 2021).

Mobil dan semen kerap dijadikan sandaran optimisme dan pergerakan ekonomi dalam enam bulan ke depan. Peningkatan produksi/penjualan terhadap komoditas tersebut mencerminkan prospek ekonomi yang cerah dalam jangka pendek. Demikian sebaliknya. Jadi, situasinya belum semapan seperti yang diharapkan.

Pada momen triwulan II 2021 ini terdapat tujuh sektor ekonomi yang perlu diperhatikan agar pertumbuhannya positif, yakni konstruksi, perdagangan, industri, jasa pendidikan, pertambangan, administrasi pemerintahan, dan jasa keuangan. Sektor-sektor itu mengalami pertumbuhan negatif pada triwulan I 2021 (namun di bawah 3%) sehingga punya potensi didongkrak saat ini. Apabila rencana itu berjalan dengan baik, tujuh sektor tersebut akan mengikuti enam sektor yang tumbuh positif sebelumnya, yaitu infokom, pengadaan air, jasa kesehatan, pertanian, pengadaan listrik dan gas, serta realestat. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy