Makna Dibalik Peringatan 190 Tahun Kota Kendari, Oleh : Oleh: Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M. Pd – Kendari Pos
Opini

Makna Dibalik Peringatan 190 Tahun Kota Kendari, Oleh : Oleh: Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M. Pd


Masyarakat Menanti Monumen/Tugu Kandai


Oleh: Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M. Pd. (Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia/Ketua Peneliti Penemu Hari Lahir Kota Kendari 9 Mei 1831)

KENDARIPOS.CO.ID — Mencermati dinamika yang berkembang dalam masyarakat akhir-akhir ini tentang upaya pelestarian budaya dan peninggalan sejarah di Kota Kendari, kiranya lebih bijak mengulas lebih awal sejarah Kota Kendari. Secara historis Kota Kendari tidak bisa dipisahkan kaitannya dengan sejarah Kerajaan Laiwoi dan dinamika kehidupan sosial budaya masyarakat di pesisir Teluk Kendari sebagai cikal bakal pusat Kota Kendari.

Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M. Pd. (Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia/Ketua Peneliti Penemu Hari Lahir Kota Kendari 9 Mei 1831)

Sebelum terbentuknya Kota Kendari penduduk pertama yang mendiami wilayah yang sekarang menjadi wilayah administratif Kota Kendari, seperti Lepo-lepo, Puwatu, dan Abeli didiami etnis Tolaki. Di Lepo-lepo telah berdiri sebuah gedung besar yang disebut Laika Aha terbuat dari kayu, diatapi, tinggi sekitar 6 meter, berbentuk segi empat, terdapat di hutan di tengah alang-alang (Sekarang disebut Baruga) berdiri sekitar tahun 1810 (Vosmaer, 1939: 80). Berbeda dengan pesisir Teluk Kendari yang kelak menjadi cikal bakal purat Kota Kendari didiami Etnis Bajo di Kandai dan Langi Bajo, disusul Etnis Bugis yang mendiami Kandai, Kampung Salo, Sodohoa, Kendari Caddi, selanjutnya Etnis Muna mendiami pesisir perbukitan Gunung Jati dan Gunung Potong, di Kampung Butung bermukim Etnis Buton, Bugis dan Muna.

Perkembangan awal basis Kota Kendari terkait dengan kehadiran Aru Bakung/Arung Bakung, seorang bangsawan Bugis yang beberapa saat tinggal di wilayah Sampara. Kemudian pindah di Lepo-Lepo/Teluk Kendari di wilayah kekuasaan Sapati Ranomeeto, selanjutnya ia pergi ke Tiworo kawin dengan putri bangsawan Tiworo. Pada tahun 1824 datang undangan Sapati/Raja Tebau dari Ranomeeto/Laiwoi, maka Aru Bakung bersama 20 perahu rombongannya tiba kembali di Teluk Kendari bergabung dengan Orang Bajo (Vosmaer, 1839: 132).

Aru Bakung bersama Orang Bajo selama menetap di Teluk Kendari mulai terusik ketenangannya. Mereka sering diganggu ketentramannya oleh kelompok yang tidak dikenal dari pedalaman (Konggoasa, tt: 10). Aru Bakung berhasil menertibkan/mengamankan Teluk Kendari dan kekuasaannya tidak saja terhadap orang Bugis, tetapi juga terhadap suku-suku lain yang berdiam di Teluk Kendari. Setelah Aru Bakung pergi, maka orang Bugis memilih di antara mereka seorang pemimpin sebagai Kepala Orang Bugis di Teluk Kendari. Dari Ligvoet diberitakan bahwa seseorang yang bernama Daeng Pawata pernah menjadi Hoofd van de Boegieneezen oon de Vosmaer Baai.

Pentingnya kedudukan orang Bugis dan orang Bajo di Teluk Kendari dalam kehidupan Kerajaan Laiwoi, sehingga dalam kontrak dengan Belanda yaitu Long Contract yang ditandatangani pada 21 Desember 1885 oleh Raja Laiwoi Sao-Sao, maka turut pula ditandatangani oleh: Kepala Orang Bugis (het hooft der Boegineezen), Lolo Bajo (hset hoafd der Badjoreezen), di samping Sapati dan Kapita Laiwoi.

Tahun 1810 rupanya Kerajaan Laiwoi telah menggantikan posisi Kerajaan Konawe, khususnya dalam hubungan luar negeri dengan bangsa-bangsa lain. Raja Laiwoi menjalin hubungan kekerabatan dengan bangsawan Bugis dan Tiworo. Dalam silsilah yang dikemukakan oleh Ligvoet dapat dilihat bahwa Lasambawa anak Arung Bakung dari hasil perkawinannya dengan seorang Putri Tiworo, kawin dengan Maho anak Tebau Raja Laiwoi dan melahirkan Mango (Lamangu) Raja Laiwoi (Ligvoet, 1877: 22).

Pengganti Maho adalah Lamangu, putra mahkota dari hasil perkawinannya dengan Lasambawa. Artinya bahwa dalam struktur bangsawan yang memerintah di Kerajaan Laiwoi yang berpusat di Teluk Kendari mengalir darah bangsawan Tolaki, Bugis, dan Muna. Ketiga etis inilah yang menentukan dinamika kehidupan politik, ekonomi dan sosial budaya di Kota Kendari.

Artinya kehidupan sosial budaya yang berkembang dari waktu ke waktu sangat ditentukan oleh aktivitas ketiga etnis ini termasuk etnis Bajo yang pertama kali mendiami pusat Kota Kendari. Kendari sebagai kota maritim, tentu tidak dapat dilepaskan dari dinamika historis aktivitas di wilayah perairan Teluk Kendari, diantaranya kehidupan nelayan, yang mondar-mandir di laut menggunakan perahu yang digerakkan layar, dayung dan kandai (tokong). Rupanya dari aktivitas nelayan ini kelak lahir nama Kota Kendari, berasal dari kata ”KANDAI”, kelak kemudian Bangsa Belanda menulis dengan kata ”KANDARI”, selanjutnya populer di kalangan masyarakat nama Kandari. Dinamika selanjutnya kata ”KANDARI” diubah menjadi KENDARI.

Dalam perkembangan terakhir ini ada aspirasi yang berkembang untuk membangun monumen peningalan sejarah dan budaya masyarakat Kota Kendari yang mencerminkan budaya etnis tertentu, dan perlu dicermati, karena kelompok etnis tersebut yang bermukian di wilayah lain, tidak tertutup kemungkinan akan mengembangkan budaya yang sama di wilayahnya dan tidak ada jaminan untuk tidak akan muncul keberatan dari wilayah tertentu yang memandang wilayahnya yang paling berhak menjadikan budaya itu sebagai monumen khas daerahnya.

Terdapat dua pilihan kata yang layak digunakan/dibuat untuk membuat suatu bangunan monumental peringatan peristiwa khas daerah, termasuk Kota Kendari, yaitu: Monumen dan Tugu. Kata ”monumen”sendiri menurut KBBI berarti bangunan atau tempat yang mempunyai nilai sejarah yang penting karena itu dipelihara dan dilindungi negara. Sedangkan kata ”tugu” menurut KBBI adalah bangunan yang didirikan sebagai tanda untuk mengingat peristiwa penting, peristiwa bersejarah atau untuk menghormati orang atau kelompok yang berjasa.
Di sisi lain daerah/kota cenderung membangun monumen berdasarkan khas/peristiwa/tokoh daerah/kota tersebut, seperti: Singapura membangun monumen Singa, Surabaya membangun monumen 10 November 1945, Bandung membangun Monumen Asia Afrika, dan Makassar membangun monumen Sultan Hasanuddin.

Monumen Nasional atau Monas atau Tugu Monas merupakan monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari kolonial Hindia Belanda. Monumen Pancasila Sakti dibangun untuk mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi mempertahankan ideologi Pancasila dari ancaman ideologi komunis melalui Gerakan 30 September 1965.
Memperingati pertempuran 5 hari di Semarang tahun 1945, Monumen Ambarawa. Berawal dari peristiwa 15 Desember 1945, ketika Bangsa Indonesia mampu mengusir tentara sekutu dari Ambarawa, selanjutnya setiap tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Infanteri. Pemerintah Kota Semarang membangun Tugu Muda sebagai monumen peringatan. Pemerintah Kota Palu membangun monumen perdamaian Nosarara Nosabatutu tahan 2014.Tugu ini dibangun sebagai simbol persatuan dan perdamaian masyarakat Sulawesi Tengah.

Sekarang ini sudah ada beberapa monumen, seperti: Bundaran Pesawat, Bundaran Tank, tugu adipura, namun monmen ini belum mampu mewakili peristiwa dan atau tokoh yang menjadi ciri khas Kota Kendari. Hal yang sama bisa didapati di daerah lain, dan benda tersebut tidak mewakili peristiwa yang terjadi di Kota ini, sehingga belum mampu memberikan kesan, makna dan nilai historis yang dapat menginsfirasi untuk mengembangkan karakter yang melihatnya.

Akhirnya pemerintah Kota Kendari seharusnya lebih bijak, untuk menghadirkan suatu monument yang memperlihatkan ciri khas Kota Kendari, berbasis pada suatu peristiwa yang menjadi bagian dari episode sejarah Kota Kendari yang membedakan dengan daerah/kota lain di Sulawesi Tenggara dan daerh lain di manapun: (1) Mempertimbangkan budaya tertentu yang menjadi milik bersama kelompok etnis sama yang berada di daerah lain, demi menghindari komplain dikemudian hari, (2) Mempertimbangkan simbol ”Kandai” sebagai monumen khas Kota Kendari, karena ini mencerminkan perpaduan beberapa etnis (Tolaki, Bugis, Bajo, dan Muna) yang menjadi pendukung utama terbentuknya ”Kota Kendari” yang berciri maritim.

Masyarakat Kota Kendari sudah lama merindukan lahirnya identitas historis yang bisa memperkaya memori masa lalu Kota Kendari, untuk dibuat suatu bangunan monumental sehingga siapapun yang melihat dan meyaksikannya dapat memetik nilai dari sejarah kehadiran Kota Kendari yang komprehensip dan merupakan ciri yang membedakan dengan daerah lainnya.

Pembangunan monumen merupakan representasi spirit dinamika kehidupan masyarakat yang diwujudkandalam bentuk membangun jiwa bahari masyarakat untuk cinta dan bangga terhadap wilyahnya. Monumen Kandai seharusnya ditempatkan di ruang publik sebagai sebuah “peringatan” terhadap sejarah dinmika kehidupan masyarakat Kota Kendari yang berjiwa bahari dalam perjuangan memenuhi kehidupan sehari-hari. Di samping itu, patung dapat merepresentasikan peristiwa mendekati kenyataan sebenarnya.

Monumen Kandai sebagai bentuk“peringatan” terhadap suatu peristiwa pada masa lalu saat masih banyak orang/nelayan menggunakan “kandai” untuk menggerakkan perahu di air dangkal, tetapi saat ini nilai-nilai tersebut sudah “terputus” karena umumnya masyarakat tidak mengenal lagi peristiwa atau fenomena seperti itu dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat kehilangan makna sejarah Kota Kendari, sehingga mereka seakan tercabut dari akar sejarah dan budayanya sebagai budaya maritim, sehingga fungsi monument sebagai jembatan masa lalu dengan masa kini dan masa yang akan dating sangat urgen dan sudah lama dinantikan masyarakat. Memori mengenai peristiwa yang menyertai fenomena kandai tidakdiingat lagi, antara lain disebabkan perjalanan waktu yang semain panjang dan tidak ada upaya dari pemerintah atau masyarakat untuk mendirikanmonumen tersebut, sebagai bentuk pemeliharaan daya hidup budaya bahari di Teluk Kendari yang saat nyaris tenggelam dalam lumpur yang memenuhi perairan Teluk Kendari.
Pembangunan monumen pada dasarnya merupakan suatu bentuk etnosentrisme yang merupakan akar nasionalisme dalam bidang seni. Aplikasinya melalui seni monumen, bukan saja dilihat dari sudut pandang ukuran monumen besar dan monumental, tetapi yang terpenting adalah kandungan makna yang ada di dalamnya.

Pembangunan “Monumen Kandai” sebagai bagian integral dari perjuangan untuk menciptakan harga diri Kota Kendari, memperkuat derajat semangat membangun, etos kerja, dan menunjukkan kepada dunia luar bahwa Kota Kendari adalah daerah potensial dan masyarakatnya memiliki etos kerja yang tinggi, ditunjukkan dalam bentuk seni dan relief pada bangunan monumen.

Bangunan Monumen Kandai seni dan reliefnya harus berakar pada budaya Masyarakat Kendari yang multietnis.Monumen Kandai sebagai instrumen pemersatu dari berbagai etnis. Sebagai rujukan, tidak ada satu pun monumen yang dibangun era Sukarno menggambarkan etnis tertentu, walaupun monumen tersebut dibangun atas dasar memperingati terhadap peristiwa yang terjadi di suatu wilayah.

Secara filosofi pembangunan monumen diwujudkan melalui tugu yang tidak mengkonotasikan suatu golongan atau etnis tertentu di suatu daerah, tetapi wujud monumen divisualisasikan melalui figur universal. Ekspresi monumen harus memiliki citra meningkatkan derajat masyarakatnya dan mencerminkan multietnis, serta berupaya menyatukannya dalam suatu bingkai monumen yang indah, penuh makna, dan nilai. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy