Jabatanku Fungsional, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Jabatanku Fungsional, Oleh : La Ode Diada Nebansi

Oleh : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Hilangnya jabatan eselon III dan IV yang direinkarnasi ke jabatan fungsional, sejatinya, ini akan menjadi sangat produktif. Saya membayangkan, seperti apa jabatan fungsional itu. Dengan jumlah jabatan eselon III dan IV yang begitu banyak, lalu dialihkan ke fungsional, maka akan banyak fungsi di sebuah kantor atau organisasi ASN. Kenapa, karena selain pejabat eselon III dan IV yang sudah ada, PNS lain pun akan ditunjang dengan keuangan negara karena setiap ASN yang diterima, pasti memiliki keahlian.

La Ode Diada Nebansi

Dan, memang, penerimaan ASN berdasarkan kebutuhan keahliannya untuk difungsikan.

Saya guglinglah. Apa yang dimaksud dengan jabatan fungsional itu. Hasil guglingnya ini dia: “Jabatan Fungsional adalah kedudukan yang menunjuk tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam suatu organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri.” Karena keluar-biasaan inilah hingga negara memberi tunjangan kepadanya.

Nah, sekarang. Negara menaruh perhatian kepada ASN. Tentu, negara ingin agar hidup ASN sejahtera. Negara ingin agar setiap ASN benar-benar mandiri dalam menjalankan tugas. Andai negara bisa bicara, dia akan ngomong begini: ASN, kerja yang baik yah. Ndak usah terpengaruh kiri kanan. Layani masyarakat sebaik-baiknya. Ndak usah terpengaruh dengan sogokan atau iming-iming yang menggodamu untuk bertindak salah di luar ketentuan hukum.

Lebih luas lagi, dengan aturan baru ini, sesungguhnya negara ingin agar setiap ASN jika mengakhiri hidupnya bisa jalan tol ke Surga. Andai negara bisa bicara, ya, begitulah.

Jika negara sudah berpikir untuk memaksimalisasi keahlianmu dengan memberi Jabatan Fungsional, apakah kamu ASN masih akan bertindak seperti dulu.

Seperti dulu yang saya istilahkan, di organisasi ASN itu, sepertinya banyak pegawai tapi kekurangan tenaga. Jadi, kelak benar-benar aturan Jabatan Fungsional itu diterapkan, maka tak boleh lagi ada ASN yang kalau masuk kantor buru-buru isi absen lalu bergerombol ngerumpi di sudut kantor atau aula. Jangan lagi seperti itu.

Dengan jabatan fungsional, kalian sudah harus menuju kursi kerja masing-masing.
Yang fungsi perencanaan duduklah di Bappeda. Yang fungsi pengawasan duduklah di Inspektorat.
Yang fungsi administrasi, duduklah di meja kalian masing-masing.
Yang fungsi popoma (makanan, minuman dan lauk pauk) langsung menuju dapur dan kasi menyala kompor.
Yang fungsi kebersihan, langsung ambil sapu dan kain pel.
Yang fungsi pengamanan langsung ambil pentungan rotanmu.

Kalau tak ada yang bisa dipukul dengan pentungan karena tak ada yang melanggar, ya, boleh ambil brasso, lalu kasi mengkilat pentunganmu. Dan lain-lain.

Pokoknya, hargailah tupoksimu. Negara sudah memberimu jaminan kenyamanan kerja dan kesejahteraan pendapatan.

Pertanyaannya. Kenapa negara harus memberi perhatian kepada ASN ? Kenapa negara hanya memberi perhatian terhadap kesejahteraan warganya yang bekerja dalam organisasi ASN ?

Kalau pemberian itu untuk kesejahteraan wargamu wahai negara, bukankah saya juga wargamu ? Kenapa kamu tak pernah berpikir untuk kesejahteraan saya dan kawan-kawan?. Jika kamu (negara) memberi tunjangan hanya karena nilai fungsional seorang ASN yang begitu penting terhadap negara, bukankah petani lebih ahli dalam fungsinya bercocok tanam? Nelayan juga berfungsi penting dan kenapa negara tak memberi tunjangan?.

Andai ada pernyataan seperti ini: Tanpa kerja ASN, masyarakat tersiksa. Oke. Kita akui itu. Sekarang, kita balik. Tanpa kerja petani dan nelayan, apakah masyarakat termasuk ASN tersiksa? Ya. Kita harus akui itu. Lalu, kenapa mereka tidak dipikirkan untuk diberi tunjangan jabatan fungsional?. Pelayan lauk pauk di kantoran kamu tunjang, sementara orang yang bekerja, berfungsi menyediakan bahan pangan negeri ini anda tidak tunjang.

Itu baru fungsi dan tugas petani dan nelayan.

Bagaimana dengan kaum buruh? Bagaimana lagi dengan saya dan kawan-kawan?. Kamu meminta saya untuk memberitakan kemajuan, keteduhan, keharmonisan, turunkan berita-berita yang mendidik masyarakat, turunkan berita untuk kedamaian masyarakat, dan kita lakukan itu. Apakah ini bukan tugas negara yang sungguh sangat bernilai? Ya bernilai dong. Lalu, kenapa anda tidak tunjang saya?. Saya faham, mungkin anda tidak sanggup. Oke. Terpaksa kita terima.

Tapi, untuk niat di awal tadi agar tunjangan yang diberikan untuk bekerja profesional, untuk menghindari iming-iming yang menggoda ASN bertindak dengan melanggar aturan karena tujuan akhirnya jalan tol ke Surga, maka inilah yang saya protes. Di hadapan Tuhan saya akan bilang begini: Tuhan, Tunggu Dulu. Kami juga bekerja untuk negara dengan sungguh-sungguh tapi tidak ditunjang. Karena itu, kami yang harus duluan masuk Surga. Saya membayangkan Malaikat Jibril akan membisik saya: Onggi, benar apa yang kobilang. (nebansi@yahoo.com)

Onggi, Benar Apa yang Kobilang

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy