Gemas di Akhir Ramadan, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Gemas di Akhir Ramadan, Oleh : La Ode Diada Nebansi


Oleh : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Banyak hal yang menggemaskan.


GEMAS 1.
Dilarang mudik antar propinsi. Dilarang mudik antar kabupaten. Bukankah ada protokol kesehatan? Kenapa tidak memperlakukan protokol kesehatan? Biarkan mudik dengan persyaratan ini dan itu. Taati protokol kesehatan. Hal lain, bukankah tidak ada perbedaan jumlah penumpang pesawat sebelum dan setelah musim mudik. Begitu-begitu ji penumpangnya. Full-fullnya tak mungkin ada tambahan kursi.

La Ode Diada Nebansi

Kalau ini diakui, kenapa tidak memberi kelonggaran. Hanya boleh mudik via pesawat. Titik. Artinya, maso akal. Ketatkan aturan, siagakan aparat. Saya kira, masyarakat tak akan berani melawan aparat yang bertindak demi aturan, hukum dan berkeadilan. Hanya pelaksanaan aturan yang timpang dan ditemukan pembanding yang berbeda perlakuan yang acap kali dilawan oleh masyarakat.

GEMAS 2.
Tidak cukup alasankah untuk menghentikan Covid-19 dengan melihat banyaknya tempat berkumpulnya warga, banyaknya kerumunan tanpa memberi reaksi Corona? Tidak cukup alasankah untuk menghentikan Covid-19 dengan pengakuan tukang gali kubur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Punggolaka yang sebelum Corona ia mampu mengantongi duit yang cukup karena gaji galian kubur rata-rata 3-4 kubur.

Sekarang, penggali kubur itu mengaku tak lagi mendapatkan duit yang cukup oleh karena galiannya rata-rata 1-2 kubur. Apa ya, sebelum corona rata-rata 3-4 galian kubur tapi dalam pandemi Covid-19 menurun 1-2 galian kubur? Lalu, apanya yang Pandemi?

Banyak kerumunan, bahkan kadang mengabaikan protokol kesehatan, misalnya kerumunan di dermaga, kerumunan di Pasar Sentral, kerumunan di acara nikahan, dll, tanpa mempengaruhi meningkatnya menularnya virus Corona, apakah ini tidak cukup alasan untuk kita berpikir: Betulkah ini Corona? Jangan-jangan. Jangan-jangan.

Namun ketika semua dijawab: Bro, ini kasus dunia. Aaahhh, kalau saya menyerah. Sebab, terlalu luas dan terlalu mendunia kalau ini didebat. Berpikir curiga pun rasanya ndak maso akal. Misalnya, bisakah kita berpikir untuk mencurigai persekongkolan dunia? Iiiihhh, bukan kapasitas saya, kecuali kita semua bersepakat untuk mencurigai kesehatan dunia.

Kenapa seperti itu? Karena saya hanya gemes melihat kerumunan yang super bejubel tanpa berakhir Corona. Maksud saya, masa sih yang kumpul 1.000 di dermaga dan yang terkena flu demam hanya satu dua orang lalu kita simpulkan Corona?
Kita memberi kesimpulan akibat risiko yang dialami 1-2 orang tanpa mengambil perbandingan kepada 998 orang lain dari 1.000 orang yang berkumpul? Maaf, ini pendapat saya tanpa dasar ilmu kesehatan. Silakan orang-orang Kesehatan memberi penjelasan. Tapi, yang logis nah?

Hanya memang, lain soal lagi jika ternyata persoalan Corona ternyata persoalan multi lateral. Misalnya, ketakutan untuk kemungkinan embargo. Woow, soal semakin jauuuh dari jangkauan berpikir orang-orang inlander. Karena itu, jelaskan saja apa yang terjadi. Dan, kami dan inlander lainnya akan maklum. Percayalah.

GEMAS 3.
Mestinya, Novel Baswedan yang lolos nomor satu. Novel Baswedan harus tercatat di nomor paling atas dalam daftar kelulusan. Tak ada yang bisa sangkali itu. Kenapa? Masyarakat mengenal Novel sebagai penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan telah memberi warna di KPK.

Dengan itu berarti, Novel adalah orang yang bertugas di lembaga anti rasuah, lembaga anti korupsi, kerjanya menyidik para mereka yang terjerat perbuatan korupsi. Dan, kita semua sepakat bahwa perbuatan korupsi adalah perbuatan jahat. Lalu, integritas yang sudah kelihatan selama ini saya kira sudah sangat cukup alasan agar Novel dipertahankan. Bukan malah tak diloloskan.

Dari sisi wawasan kebangsaan, misalnya, yang menjadi penyebab tak lolosnya Novel Baswedan, tidakkah dilihat bahwa Novel telah mengorbankan satu bola matanya dalam tugas pemberantasan korupsi. Oww, jangan sebut Novel mengorbankan satu bola matanya, tapi orang lain yang menghancurkan bola matanya. Oke.

Namun itu juga mestinya justru kian memantapkan posisinya sebagai penyidik karena lawan Novel yang memberantas korupsi pastilah orang atau suruhan orang yang pro korupsi. Masa’ yah, orang yang anti korupsi dan sudah terbukti dihajar oleh orang yang pro korupsi tidak menjadi pertimbangan untuk menarik kesimpulan bahwa sosok Novel layak dipertahankan sebagai penyidik KPK.

Normal dan idealnya begitu.

Kalau terdapat keadaan yang tak normal, dan merasa terganjal dengan sikap istiqamah Novel Baswedan, saya kira kan gampang membuat Novel mlempem dengan tidak melibatkannya dalam penyidikan. Masyarakat akan mahfum dengan keadaan yang seperti itu. Namun ketika Novel dilengserkan atau tak diloloskan maka di situasi ini, masyarakat mulai punya hak untuk komentar. Tetapi, jika Novel tetap jadi penyidik dan tak difungsikan, diimlempemkan, saya kira, masyarakat akan kesulitan untuk “berteriak” karena urusan job dan nonjob, adalah urusan internal. Ini pendapat awam. Maaf jika semua atau sebagian pendapat ini keliru. Kalian luruskanlah.

GEMAS 4.
H-2 lebaran. THR terus-terus berdering. Tak diterima, takut digolongkan orang-orang djedje yang tak sanggup. Diterima juga ragu jangan sampai membludak yang berujung tak cukup. Tapi, dengan kemampuan manajerial, deringan THR mampu dilayani, apakah berisi “benda’ atau hanya sekadar senyum. Pokoknya, diupayakan agar para mereka yang menderingkan telpon harus menutup telponnya dalam keadaan tersenyum. Kecuali, mereka yang bertandang langsung ke rumah, atau yang “live” maka ini wajib hukumnya: saat anda pamit dan meninggalkan rumah, anda dalam keadaan tersenyum. Pokoknya, harus tersenyum.
Kalau tak ada amplop, masih ada rambutan dan papaya kalifornia yang masak. Itumi saja. Sebab, pemberian yang ihlas yakinlah akan berbarengan dengan senyum yang ihlas pula. Demikian empat kegemasanku di akhir Ramadhan ini.(nebansi@yahoo.com)

Kalau Tak Ada Amplop

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy