Tantangan Covid-19 dan Peran Dai, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Tantangan Covid-19 dan Peran Dai, Oleh : Prof. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Tantangan nyata dari wabah pandemik yakni membawa dampak pada sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat. Ahli kesehatan, dapat dengan mudah dari data yang ada. Ekonom, dengan mudah untuk mengungkap bahwa pandemik Covid-19 berimplikasi pada sektor perekonomian.

Ilmuwan politik, juga mengungkap bahwa akibat pandemik membawa implikasi pada perilaku politik. Sosiolog, juga mengemukakan bahwa akibat pandemik berimplikasi pada mental, perilaku, dan cara hidup baru.

Prof. Dr. Eka Suaib

Perubahan juga dilakukan pada aspek kebijakan. Lihat saja istilah-istilah yang maknanya sama, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), kini berubah menjadi PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan masyarakat). Hal itu, logis, pada situasi krisis, kebijakan yang lahir yakni dengan ciri kompleks dan kadang kontroversial.

Aktivitas masyarakat juga berubah akibat pandemi Covid-19 ini. Kini, banyak masyarakat yang belanja online. Pada aspek pendidikan, pembelajaran kini dengan mengandalkan pada sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ). Dahulu, mengandalkan tatap muka, kini dengan dunia maya. Ada istilah luring dan daring. Luring (luar jaringan), itu berarti dengan cara virtual. Orang juga biasa juga menyebutnya off line. Ada daring (dalam jaringan). Itu berarti on line, virtual. Para siswa kini, diperbolehkan di rumah, tidak perlu ke sekolah. Padahal dahulu, para siswa wajib untuk disiplin, tidak boleh bolos sekolah.

Pada aspek sosial budaya, juga terjadi perubahan. Sejak dulu kita terbiasa hidup kolektif. Jika ada pesta apa saja, pasti ngumpul. Sekarang, akibat pandemik Covid-19, berubah dituntut untuk individual. Pun, juga dituntut tertutup sebab ada pembatasan interaksi antar individu untuk menekan penyebaran virus.

Norma sopan santun yang umumnya diekspresikan dengan berpelukan, bersalaman dan mencium tangan. Lalu kini? Yah, cukup dengan kepalan tangan. Melanggar normakah? Tunggu dulu, ini masa pandemik.

Tradisi mudik, sudah merupakan ritual bagi orang kota untuk kembali ke kampung. Kini, sudah 2 tahun pemerintah melarang untuk mudik. Jika ada orang yang mudik, maka ia dianggap egois dan melawan hukum. Juga dianggap membahayakan bagi keselamatan warga kampung. Padahal dahulu, jika tidak mudik kampung, dianggap sombong dan angkuh. Tidak tahu diri, karena sudah menjadi ‘orang kota’.

Bagaimana dengan perubahan pada aspek keagamaan? Sebelum pandemik, kebiasaan melakukan aktivitas ibadah dengan ‘jamaah’. Kini, setelah pandemik, ada narasi untuk beradaptasi melalui kebiasaan baru. Akibat pada imbauan untuk melakukan jarak, maka saf-saf kini tidak lagi ‘rapat’, tapi ‘atur jarak’.

Haji dan umrah merupakan ibadah yang paling terdampak pelaksanaannya. Indonesia sebagai negara dengan umat Islam yang sangat besar, sementara kuota Indonesia tidak memadai, menjadikan pelaksanaan ibadah haji memerlukan waktu tunggu yang relatif lama bagi masyarakat yang berniat menunaikan ibadah tersebut. Dengan adanya pandemi, penundaan, pembatasan, dan pembatalan, semakin memperpanjang daftar waktu tunggu ibadah haji.

Dalam waktu-waktu sebulan yang akan datang, yakni pada bulan ramadan, peran sental mereka yakni para dai, sangatlah vital. Sebab, peran dari para dai terhadap perubahan-perubahan akibat pandemik sangatlah penting. Penyampaian pengetahuan, imbauan dan kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19 memiliki dampak terhadap perilaku umat. Sebaliknya, jika informasi yang disampaikan kurang tepat, dapat berpengaruh pada lambatnya penanganan covid-19. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy