Dua Oknum Polisi di Buton Diduga Aniaya Anak di Bawah Umur di Buton – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Dua Oknum Polisi di Buton Diduga Aniaya Anak di Bawah Umur di Buton

KENDARIPOS.CO.ID — Proses hukum dugaan tindak pidana pencurian yang melibatkan tiga anak di bawah umur dan satu orang dewasa dianggap cacat oleh pihak keluarga. Tiga anak berhadapan hukum itu sudah divonis, sementara satu orang dewasa tengah menjalani proses persidangan.

Setelah pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Pasarwajo, 24 Maret lalu, cerita lain yang mewarnai proses penyelidikan dan penyidikan polisi pun terkuak. Semuanya kompak membeberkan dugaan penganiayaan oleh oknum polisi Polsek Sampuabalo. Mereka disiksa berhari-hari di Mapolsek bahkan diancam dibunuh. Diungkapkan pula, bahwa karena siksaan bertubi-tubi itulah yang membuat anak-anak terpaksa mengakui tindakan kriminal yang dialamatkan padanya.

Dua oknum polisi personel Polsek Sampoabalo, Polres Buton berinisial LA dan IS dilaporkan ke Propam Polda Sultra pihak keluarga bersama kuasa hukum. Kabid Humas Polda Sultra, Kombes Pol Ferry Walintukan mengatakan, Polda Sultra sudah bergerak memeriksa terhadap dugaan tersebut. Sudah ada tim yang diperintahkan memeriksa ke Polres Buton dan Polsek Sampoabalo atau tempat kejadian dimaksud.

“Bapak Kapolda Sultra, Irjen Pol Yan Sultra Indrajaya telah memerintahkan Itwasda dan Bid Propam bergerak cepat, mengecek ke Polres Buton dan Polsek Sampoabalo. Perintah ini, sebelum laporan dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum penyidik Polsek Sampuabalo masuk ke Bid Propam Polda Sultra,” ujarnya kepada Kendari Pos, Minggu (18/4).

Terpisah, Kuasa hukum korban, La Ode Abdul Faris, SH mengatakan, hal itu mereka laporkan ke Propam Polda Sultra demi mendapatkan keadilan hukum. Dia mengaku kliennya adalah korban intimidasi polisi. “Bahwa selama proses pemeriksaan mereka disiksa. Empat-empatnya disiksa baik secara fisik maupun psikis. Ada yang diinjak, ditelanjangi, dijepit kursi bahkan diancam dibunuh,” ujarnya kepada Kendari Pos, kemarin.

Karena tertekan lanjut dia, kliennya mengaku mencuri agar penyiksaan oknum polisi segera berakhir. “Saya menduga kasus ini semacam by desain by order, karena orang tidak melakukan tapi dipaksa mengakui dengan cara-cara brutal seperti itu,” lanjutnya.

Atas fakta-fakta itu, pihaknya mengambil langkah terbaik dengan melaporkan dua oknum polisi yang diduga menyiksa. “Kita sudah melapor ke Propam, sudah diterima dengan sangat baik. Dan akan ditindak lanjuti,” ujar La Ode Abdul Faris, SH.

Lanjut dia, soal vonis yang sudah dijatuhkan PN Pasarwajo pada kliennya akan ditindaklanjuti dengan banding. Namun masih menunggu hasil sidang salah satu kliennya (dewasa) tanggal 22 April. “Tetap kita banding, karena anak-anak ini mengaku sama sekali tidak bersalah,” tegasnya.

Sementara itu, Hasim, paman MS memastikan akan terus mencari keadilan atas kasus tersebut. Menurutnya, oknum polisi salah tangkap. Sebab, polisi menangkap MS hanya karena pengakuan AG yang saat itu ada di bawah tekanan polisi. “Saya ingin mempertanyakan standar kasus yang di P21kan oleh jaksa itu bagaimana, karena anak kemenakan kami ini tidak bersalah tapi dipaksa bersalah oleh polisi,” ujarnya.

Kata Hasim, banyak kejanggalan dalam penanganan kasus tersebut. Pertama, laporan polisi handphone yang hilang itu merek Oppo 11K. Sementara barang bukti Oppo bukan tipe itu. “Lalu, laporan pencurian dilakukan 1 Januari, selanjutnya tanggal 2 langsung penangkapan. Masih banyak lagi yang janggal,” tambahnya.

Hasim menambahkan, janganlah karena mereka adalah masyarakat kecil lantas dengan mudahnya dizalimi oleh alat negara, lewat polisi jaksa dan hakim. “Ini kasus manipulatif, kami harap ada titik terang melalui jalan yang kami tempuh sekarang dengan cara melapor ke Propam dan mempersiapkan banding,” harapnya.

Menanggapi polemik kasus tersebut, Kapolres Buton AKBP Gunarko mengatakan pihaknya akan terus bekerja atas nama hukum. Menurutnya, proses penyelidikan dan penyidikan sudah berjalan sesuai hukum dan memenuhi semua unsur-unsurnya. “Secara hukum sudah berjalan. Kalau kasus itu sudah P21 berarti unsurnya sudah terpenuhi, harus ada alat bukti,” katanya.

Namun jika belakangan beredar informasi ada perlakukan intimidasi saat proses investigasi oleh aparat Polsek Sampoabalo, Kapolres juga mempersilahkan korban untuk membuat surat aduan atau laporan polisi. Dia memastikan jika memang terbukti anak buahnya bersalah maka proses hukum juga akan dikenakan pada mereka.

“Saat investigasi penyelidikan di Polsek katanya ada intimidasi. Itu kita juga ada evaluasi internal. Kapolsek kita panggil, dan kita lihat juga ada dokumentasi mereka.Kalau terbukti, kita ada kode etik juga dan pasti diproses juga, namanya hukum semua sama,” papar AKBP Gunarko.

Hanya saja, sejauh ini kata dia belum ada tanda-tanda jika intimidasi itu benar adanya. “Sampai hari ini belum ada yang mengarah ke sana (bukti intimidasi, red). Tapi jika ada fakta, kita tidak akan menutupi,” tambah Kapolres Buton AKBP Gunarko.

Kapolres menunggu perkembangan hasil pemeriksaan dari Propam Polda Sultra. Ia menegaskan bahwa tidak akan mentolerir hal tersebut jika memang oknum penyidik itu terbukti melakukan penganiayaan. “Kita tidak akan mentolerir jika terbukti betul menyalahi aturan, sekarang masih menunggu hasil pemeriksaan Propam Polda Sultra,” ujarnya.

Untuk diketahui, kasus itu berawal dari laporan Kepala SMP bernama Saharuddin yang kehilangan sebuah handphone, laptop dan uang tunai, Kamis 24 Desember 2020 ke Polsek Sampoabalo.

Dalam penanganan polisi, pada tanggal 2 Januari 2021, empat orang terduga pelaku diamankan di Mapolsek Sampoabalo kemudian menjalani proses hukum. Mereka adalah AG (12), RN (14), AJ (16) dan MS (22). Pengadilan memutuskan, RN dan AG menjalani 5 bulan hukuman di pesantren. AJ (16) dikembalikan ke orang tuanya. Sedangkan MS masih menjalani persidangan. (lyn/ndi/b)

Kapolres Tunggu Perkembangan Pemeriksaan Propam

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy