Bijak Mengkonsumsi Air Minum Isi Ulang, Oleh : Jalidun, S.Si.,Apt., MPPM – Kendari Pos
Opini

Bijak Mengkonsumsi Air Minum Isi Ulang, Oleh : Jalidun, S.Si.,Apt., MPPM


KENDARIPOS.CO.ID — Apakah air yang anda konsumsi selama ini sudah memenuhi kriteria untuk layak minum? Pertanyaan yang masih berulang dan terus menjadi permasalahan terutama pada daerah padat penduduk. Data BPS Sulawesi Tenggara tahun 2020 mencatat terdapat 34.195 jiwa yang terjangkit penyakit diare yang salah satu penyebabnya adalah konsumsi air.

Jalidun, S.Si.,Apt.,MPPM (Fungsional Ahli Madya Balai POM di Kendari)

Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun 2019 yang mencapai 32.939 jiwa dan menempati urutan ketiga penyakit terbanyak diidap masyarakat Sulawesi Tenggara. Kota Kendari merupakan daerah dengan jumlah jiwa yang terjangkiti diare tertinggi yaitu 5.559 jiwa. Hal ini merupakan kejadian luar biasa dan butuh penanganan dengan segera sehingga kejadian ini dapat diminimalisir dengan meningkatkan pengetahuan praktis kepada masyarakat.

Saat ini, masih ada sebagian masyarakat yang masih menggunakan acuan perubahan warna, rasa dan bau untuk menilai air yamg layak konsumsi untuk diminum. Keterbatasan pengetahuan dan akses informasi menjadikan masyarakat belum memahami pengaruh pencemaran lingkungan terhadap air khususnya air layak minum. Air yang jernih, tidak berasa dan tidak berbau belum tentu layak untuk diminum. Perubahan sifat kimia, fisika dan mikrobiologis pada kondisi tersebut tidak dapat terlihat menggunakan mata namun hanya dapat diamati menggunakan peralatan laboratorium.

Ada beragam efek yang ditimbulkan bila mengkonsumsi air minum baik yang terkontaminasi mikrobiologi maupun yang terkontaminasi zat kimia. Pada air minum terkontaminasi mikrobiologi, tubuh langsung memberikan perlawanan dengan efek diare. Sedangkan air minum yang terkontaminasi kimia, efeknya akan terasa pada jangka Panjang. Bahan kimia tersebut perlahan-lahan terakumulasi dalam tubuh yang akan mengganggu fungsi organ tubuh seperti ginjal dan lain-lain.

Saat ini pemenuhan kebutuhan air minum masyarakat lebih mengandalkan Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) yang jumlahnya terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat. Masyarakat sangat dimudahkan dalam memperoleh Air Minum Isi Ulang (AMIU) yang dikemas dalam gallon dan dapat dijumpai di warung/kios yang ada di sekitar pemukiman masyarakat. Kota Kendari merupakan salah satu daerah yang masyarakatnya juga mengandalkan air minum isi ulang, selain mudah didapatkan, harganya juga terjangkau dibandingkan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang diproduksi oleh brand ternama.

Masyarakat Kota Kendari belum sepenuhnya memahami pentingnya kelayakan air minum terutama yang bersumber dari AMIU. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Juminten Saimin dkk yang diterbitkan Preventif Journal Vol. 4 No. 2/ April 2020 ditemukan bakteri pada 5 sampel dari 6 sampel air dengan menggunakan media Lactose Bile Broth dan ditemukan bakteri coliform pada 4 sampel dengan menggunakan media Brilliant Green Lactose Bile Broth. Penelitian ini menggunakan sampel air yang berasal dari AMIU yang ada di salah satu kecamatan di Kota Kendari.

Air minum berbeda dengan air bersih. Menurut PMK No.736/Menkes/Per/VI/2010, air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat Kesehatan dan dapat langsung diminum. Sedangkan air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat Kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. (Permenkes No.

416/Menkes/Per/IX/1990). Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat mendapatkan air bersih dari air PDAM, air sumur dan lain-lain.
Peraturan Menteri Kesehatan No.492/Menkes/Per/IV/2010 menjelaskan syarat yang harus dipenuhi air layak minum meliputi syarat Fisik, Kimia, Mikrobiologis dan Radioaktif. Syarat fisik bila terlihat jernih, tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau. Syarat mikrobiologis bila tidak mengandung bakteri pathogen yang membahayakan kesehatan.

Dan syarat kimia bila tidak mengandung zat kimia yang dapat membahayakan kesehatan. Mengacu pada PMK. No. 736/Menkes/VI/2010, AMIU seharusnya sudah dapat langsung dikonsumsi sebagai air minum tetapi dengan melihat hasil penelitian di atas memberikan peringatan kepada kita bahwa AMIU yang ada belum bisa memberikan jaminan sebagai air minum tapi perlu perlakuan tambahan seperti memasaknya sebelum menjadi air minum.

Kasus di atas dapat dihindari jika produsen dan konsumen bisa lebih bijak dalam pemenuhan air minum dengan mengacu pada Peraturan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 651/MPP/Kep/10/2004. Peraturan ini disamping mempersyaratkan kualitas air baku dan air minum juga ketentuan lain yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha. Peraturan di atas dengan jelas melarang Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) untuk memiliki stok produk air minum dalam wadah gallon yang siap dijual apalagi dititip atau dijual di toko, kios atau warung.

Penyimpanan ditempat distribusi ini akan menimbulkan potensi bakteri di wadah tersebut karena kemampuan sterilisasi dan filterisasi AMIU yang sangat terbatas bila dibandingkan dengan produk AMDK. Sehingga pada peraturan tersebut, DAMIU hanya diperbolehkan menjual produknya secara langsung kepada konsumen dilokasi depot dengan cara mengisi wadah yang dibawa oleh konsumen atau disediakan depot.

Ada banyak manfaat yang dapat diperoleh konsumen jika mendatangi ke DAMIU, dapat melihat hygiene dan sanitasi ruangan, kondisi alat pembersih gallon, serta kondisi ruang sterilitas pengisian wadah atau gallon. Konsumen juga dapat mengukur kepatuhan pemilik DAMIU terhadap pemenuhan ketentuan yang dipersyaratkan. Konsumen dapat melihat Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi yang biasa dipajang di ruang depot. Sertifikat ini dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kab/kota yang menerangkan bahwa depot telah memenuhi standar baku mutu atau persyaratan kualitas air minum dan persyaratan hygiene sanitasi. Sertifikat ini berlaku selama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang.

Disamping itu konsumen dapat melihat hasil pengujian yang di pajang. Pengujian tersebut meliputi hasil pengujian Fisika, Kimia dan Mikrobiologi. Pengujian tersebut seharusnya secara berkala dilakukan oleh pemilik DAMIU untuk menguji mutu air minum pada laboratorium yang terakreditasi untuk menjamin bahwa mutu air minum yang dimiliki memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan. Kondisi tersebut dapat memberikan gambaran kepada konsumen apakah DAMIU yang selama ini dijadikan sebagai sumber air minum telah memehuhi ketentuan, atau haruskah ke depot lain yang memenuhi kriteria?

Masyarakat sebagai konsumen diharapkan dapat lebih bijak memanfaatkan kemudahan dalam mengakses pemenuhan akan air layak minum. Masa pandemik Covid-19 merupakan momentum melakukan perbaikan kualitas kehidupan kita terutama komsumsi air minum yang menjadi asupan terbesar selain makanan karena kualitas air minum sangat mempengaruhi imunitas seseorang. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy