KENDARIPOS.CO.ID — Untuk kedua kalinya saya melintas di poros ini. Dari Labuan ke Ereke via Lakansai. Bagi saya, wartawan, boleh dikata, sepanjang jalan ada berita. Lihat saja waktu tempuh kurang dari 3 jam, sebagian besar waktu digunakan untuk melihat indahnya pemandangan laut.
Pemandangan di bibir pantai, ada.
Pemandangan dari ketinggian, ada.
Maklum, poros ini adalah jalur Pantura Buton Utara.

Sebelah kiri pemandangan laut. Sebelah kanan, pemandangan pegunungan. Ada perbukitan perkebunan warga, ada pula pemandangan hutan perawan, nampak.belum terjamah tangan manusia. Mengagumkan.

La Ode Diada Nebansi

Seperti saya bilang. Sepanjang jalan ada berita. Begitulah. Menulis satu angle soal keindahan laut saja, bisa berhalaman-halaman. Bayangkan, di poros ini ada kelompok nelayan penangkap lobster, kelompok nelayan penangkap udang, kelompok nelayan penangkap kerapu, dan macam-macam kegiatan lainnya. Termasuk, kegiatan ibu-ibu saat istirahat juga ada: cari kutu secara berantai juga saya sempat saksikan. Itu di satu sisi keindahan dan kegiatan masyarakat di sisi utara atau di sisi pantai.

Keindahan lain, ternyata ada sungai pendek di poros ini. Tepatnya, di Desa Lamoahi, Kecamatan Kulisusu Utara. Spot sungai pendek ini oleh masyarakat setempat disebut Labundo-Bundo. Oleh pemerintah setempat, tempat ini telah dikelola sebagai salah satu destinasi wisata. Ini terlihat dari papan nama seukuran 2 meter tinggi dan lebar sekira 8 meteran bertuliskan: Kawasan Wisata Labundo-Bundo.

Seksama diperhatikan, bisa jadi, pendeknya sungai Labundo-Bundo mengalahkan Sungai Tamborasi di perbatasan Kolaka-Kolaka Utara. Air tawar Labundo-Bundo keluar dari dalam gunung batu yang hanya berjarak sekira 5 meteran dari bibir pantai. Airnya dingin. Alamnya Seoul menghadap hutan, dan terasa herah menghadap arah laut.

Penasaran dan ingin buktikan? Datanglah. Sekitar 30 menit dari Pelabuhan Fery Labuan.
Dengan jarak sekira 5 meteran tadi, bolehlah kita sebut sebagai sungai terpendek, mengalahkan Tamborasi. Kira-kira 100an meter ke arah Timur, masih di pinggir jalan, terdapat air terjun mini, tapi ketinggian air terjunnya sekira 40an meter. Bisa jadi juga, di atas gunung yang tinggi itu terdapat sungai. Padahal, kemiringan gunung dipandang dari jalan raya bisa mencapai di atas 70 derajat. Sangat terjal.

Adalagi yang menarik. Orang lain mungkin menganggapnya biasa. Perkebunan kelapa yang melulu kelapa juga memberi pemandangan yang indah bagi sebagian orang. Dan, itu bisa ditemukan di banyak tempat di poros Pantura Butur. Sepertinya, dipan dipan beratap di tengah-tengah pepohonan kelapa itu adalah tempat pengasapan kopra.

Hanya memang, di poros ini, terdapat beberapa tempat dimana kondisi jalannya dalam keadaan “Minta Ampun”. Ada lubang lumpur dan ada lubang berbatu. Khusus yang terakhir ini, Bupati Buton Utara, Drs. H. Ridwan Zakariah MSi sudah mengambil ancang-ancang untuk pemulusannya. Pokoknya, agar masuk Ibu Kota Buton Utara bisa melalui tiga pintu.(nebansi@yahoo.com)

Oleh : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)