Andriana Lisnasari, S.ST.

KENDARIPOS.CO.ID — Virus corona (Covid-19) mulai masuk di Indonesia pada bulan Maret 2020, tepatnya saat Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa terdapat warga negara Indonesia yang terjangkit virus corona pada 2 Maret 2020. Setelah pengumuman tersebut, penyebaran virus corona semakin tak terkendali hingga pada 13 Maret 2020, melalui Keppres nomor 7 tahun 2020 dibentuklah gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 dan kemudian disusul dengan penetapan Covid-19 sebagai bencana nasional oleh presiden yang dituangkan dalam Keppres nomor 12 tahun 2020 pada tanggal 13 April 2020. Kasus positif Covid-19 di Sulawesi Tenggara pertama kali diumumkan oleh pemerintah pada 19 Maret 2020. Kendati sudah hampir satu tahun, kasus positif Covid-19 masih terus bertambah hingga saat ini, terlebih lagi dampak yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 ini masih menjadi tugas besar untuk kita semua. Seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat telah berusaha untuk dapat beradaptasi dengan kondisi pandemi ini agar tidak terus larut dalam keterpurukan yang ditimbulkan oleh Covid-19. Sektor perekonomian menjadi hal yang tak luput dari serangan Covid-19 dan dampaknya pun sangat nyata dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat.

Salah satu indikator yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian suatu wilayah adalah nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara dalam publikasi Provinsi Sulawesi Tenggara dalam Angka 2021 pada Jumat, 26 Februari 2021 yang lalu, nilai PDRB atas dasar harga berlaku Sulawesi Tenggara tahun 2020 adalah Rp 130,18 triliun dan PDRB atas dasar harga konstan dengan tahun dasar 2010 adalah Rp 93,45 triliun. Apabila dilihat menurut lapangan usaha, sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan masih menjadi kontributor PDRB terbesar untuk Sulawesi Tenggara dengan kontribusi PDRB sektoral sebesar 24,13%, dan disusul sektor pertambangan dan penggalian yang berkontribusi sebesar 20,26%. Kondisi ini masih sama dengan tahun 2019 lalu, dimana kedua sektor tersebut menjadi sektor potensi untuk Sulawesi Tenggara. Sementara itu, apabila dilihat berdasarkan wilayah kabupaten/kota, PDRB atas dasar harga berlaku tertinggi tahun 2020 dimiliki oleh Kabupaten Kolaka dengan Rp 25,55 triliun, kedua adalah Kota Kendari Rp 22,05 triliun, dan ketiga adalah Kabupaten Konawe Selatan Rp 11,83 triliun. Urutan tersebut masih sama untuk kurun waktu 4 tahun terakhir.

Kondisi ekonomi lebih dapat digambarkan dengan melihat angka pertumbuhan ekonomi yang diperoleh dari laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan, dimana pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara tahun 2020 adalah -0,65%. Nilai tersebut sangat kontras jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada tahun 2019 yaitu 6,50%. Hal ini menunjukkan adanya kontraksi ekonomi yang signifikan sebagai akibat dari Covid-19. Hal serupa juga dirasakan di tingkat nasional dengan angka pertumbuhan ekonomi nasional 2020 adalah -2.07%. Walaupun demikian, apabila dilihat menurut wilayah kabupaten/kota, terdapat 8 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara yang memiliki angka pertumbuhan ekonomi positif atau tidak mengalami kontraksi ekonomi pada tahun 2020, yaitu Konawe (6,42%), Buton Tengah (3,07%), Buton Utara (0,99%), Wakatobi (0,76%), Bombana (0,56%), Muna Barat (0,42%), Kolaka Utara (0,40%), dan Muna (0,07%). Sebaliknya, untuk 3 kabupaten/kota dengan laju pertumbuhan ekonomi terendah tahun 2020 adalah Kolaka (-3,40%), Konawe Selatan (-2,22%), dan Kendari (-1,30%). Walaupun ketiga wilayah tersebut merupakan kabupaten/kota dengan nilai PDRB terbesar di Sulawesi Tenggara, namun ketiga daerah tersebut juga mengalami kontraksi ekonomi terbesar di Sulawesi Tenggara. Apabila dilihat berdasarkan jumlah kasus positif Covid-19 ketiga wilayah yang mengalami kontraksi ekonomi terbesar tersebut merupakan wilayah dengan kasus positif Covid-19 yang termasuk tinggi di Sulawesi Tenggara.

Selain melihat pertumbuhan ekonomi berdasarkan wilayah, gambaran kondisi ekonomi juga dapat dilihat dari laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan menurut lapangan usaha. Indikator ini dapat menjadi petunjuk awal untuk mengetahui sektor yang paling terdampak Covid-19. Pada tahun 2020, sektor usaha yang memiliki laju pertumbuhan PDRB tertinggi di Sulawesi Tenggara adalah sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (8,10%) dan urutan kedua adalah sektor informasi dan komunikasi (8,08%). Kondisi tersebut agak berbeda jika dibandingkan dengan tahun 2019 dimana laju pertumbuhan PDRB tertinggi ada di sektor industri pengolahan dan urutan kedua adalah sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Perubahan tersebut tidak lepas dari dampak Covid-19 dimana selama masa pandemi seluruh kegiatan masyarakat lebih banyak dilakukan di rumah, mulai dari sekolah yang dilaksanakan secara daring, penerapan kebijakan Work From Home (WFH), serta peningkatan aktivitas jual beli dan hiburan secara daring. Hal tersebut menyebabkan adanya peningkatan konsumsi masyarakat terhadap produk sektor informasi dan komunikasi khususnya jaringan internet, sehingga pertumbuhan PDRB di sektor informasi dan komunikasi mengalami peningkatan.

Sama halnya dengan laju pertumbuhan PDRB menurut wilayah, laju pertumbuhan PDRB menurut sektor pada tahun 2020 di Sulawesi Tenggara juga mengalami kontraksi pada beberapa sektor. Empat sektor dengan laju pertumbuhan PDRB terendah adalah sektor transportasi dan pergudangan (-5,25%), pertambangan dan penggalian (-4,45%), perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor (-4,28%), serta penyedia akomodasi dan makan minum (-3,93%). Keempat sektor tersebut merupakan sektor yang paling terdampak dengan adanya pandemi Covid-19 ini, bahkan pada sektor pertambangan dan penggalian yang merupakan sektor potensi penyumbang PDRB terbesar kedua untuk Sulawesi Tenggara ternyata turut merasakan dampak besar Covid-19 dengan mengalami penurunan PDRB yang signifikan.

Berdasarkan data yang telah disebutkan, dapat dilihat bahwa serangan pandemi Covid-19 yang mengacaukan kondisi perekonomian, baik nasional maupun daerah, masih belum dapat teratasi. Walaupun demikian, pemerintah pusat dan daerah telah mengupayakan berbagai usaha dan menetapkan berbagai macam kebijakan untuk dapat memulihkan kondisi perekonomian, diantaranya yaitu penyesuaian postur dan rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), memberikan berbagai stimulus ekonomi untuk mendorong peningkatan konsumsi produk dalam negeri yang dapat memberikan multiplier effects, meningkatkan daya beli masyarakat dan aktivitas dunia usaha, insentif pajak, serta menjaga stabilitas ekonomi dan ekspansi moneter. Seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, masih harus terus bekerja keras untuk dapat bangkit dari keadaan ini. Berdasarkan ulasan singkat mengenai data perekonomian Sulawesi Tenggara, terdapat beberapa saran bagi pemerintah dalam rangka melaksanakan pemulihan kondisi perekonomian. Pertama, memaksimalkan potensi dari sektor unggulan Sulawesi Tenggara yaitu sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan; dan sektor pertambangan dan penggalian. Kedua, meningkatkan kerjasama seluruh pihak terkait, baik pemerintah maupun masyarakat khususnya para pelaku usaha untuk dapat bertahan dan berusaha bangkit dari tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19, terutama bagi sektor-sektor yang paling terdampak di Sulawesi Tenggara, yaitu sektor transportasi dan pergudangan, sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor penyedia akomodasi dan makan minum. Pemerintah diharapkan dapat memberikan perhatian khusus untuk sektor-sektor tersebut dalam rangka PEN yang lebih efektif dan efisien.

*Penulis merupakan Statistisi Ahli Pertama di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kendari.
** Kontak Penulis : 087878007616