Pedagang di Kolut tak Respon Larangan Pemerintah – Kendari Pos
Kolaka Utara

Pedagang di Kolut tak Respon Larangan Pemerintah


KENDARIPOS.CO.ID — Surat penyampaian pemerintah perihal larangan berjualan di luar komplek Pasar Sentral Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), tak mendapat respon dari para pedagang, khususnya penjaja ikan dan sayuran. Pemerintah Kecamatan Lasusua mengaku bingung dan malu karena otorita yang masuk wilayah ibu kota kabupaten itu terkesan kumuh. Camat Lasusua, Amiruddin, mengatakan, surat yang diterbitkan tertanggal 1 Maret 2021 bernomor 510/54/III/2021 merupakan bentuk penegasan pada para pedagang ikan dan sayur, karena tidak kunjung menepati janji untuk pindah lokasi. “Surat itu diterbitkan karena pada tahun lalu, mereka (pedagang) telah menyanggupi pindah masuk ke pasar, paling lambat Juli 2020. Ini sudah 2021 mereka belum mau juga dan ada yang bahkan justru ikut keluar pasar berjualan,” bebernya, akhir pekan lalu.

Suasana sepi di kawasan blok dagangan ikan Pasar Lacaria, karena sebagian penjual beraktivitas di luar pasar

Amiruddin mengakui, dalam surat tersebut ikut dicantumkan jangka waktu toleransi yang diberikan pemerintah ke pedagang hingga 10 hari, pasca penerbitan instruksi. Namun terkait sanksi, Amiruddin tidak menjelaskan lebih lanjut seperti apa saja yang akan diterpakan pada para pelapak bandel itu. “Saya juga didesak pihak Dispenda yang menanyakan kondisi di kawasan pasar itu. Saya bilang, sudah mediasi dan bukan lepas tangan. Karena kan ada pengawal Perda,” argumennya.

Jika memang pedagang tak punya itikad baik, maka bisa saja pihaknya membuat surat penegasan lagi. Setelah itu, ia belum mengetahui kelanjutannya. Apakah pihak Dispenda, Perdagangan atau Satpol PP akan membahas ulang atau bagaimana. Seingat Amiruddin, jumlah pedagang ikan maupun sayur yang telah diundang tahun lalu dan menyanggupi masuk ke kawasan serta tidak akan berjualan di luar pasar, sekitar 30 orang. Ia menegaskan, sangat merespon upaya penertiban itu karena menginginkan Kota Lasusua tertata dan jauh dari kesan kumuh.

Terkait penjual ikan di sekitar bantaran Sungai Pitulua disampaikan juga termasuk dalam surat tersebut. Secara tata ruang wilayah di sana memang tidak diperkenankan berjualan, terkecuali ikan siap saji. “Semisal ikan bakar dan lain-lain. Kalau jual yang masih mentah tidak dibenarkan di tempat itu,” tegasnya. Yang tidak masuk dalam surat itu diperjelas Amiruddin, di luar penjual di Totallang. Alasannya karena mereka jauh dari pusat Kota dan tidak ada pasar di sana.

Amiruddin berterus terang, dirinya mengaku malu sempat mendapat sindirian salah satu anggota DPRD di Sulawesi Selatan yang berkunjung ke Kolut. “Terus terang disampaikan, katanya Kolut ini jorok sekalikah. Kok penjual ikan banyak di dalam kota, tidak merasa bau apa,” kutip Amiruddin. (c/rus)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy