Penulis :
Siti Eva Rohana, S.Si (Pemerhati Masalah Sosial)

KENDARIPOS.CO.ID — Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Sayang Anak Sepanjang Galah. Ungkapan peribahasa yang menunjukkan bahwa kasih sayang orang tua memang tak kenal batas dan tak mungkin terbalas. Orang tua mana yang tega membiarkan anaknya menderita, walau betapa sulitnya kehidupan, kebahagiaan sang anak tetap menjadi prioritas utama. Namun faktanya sebagian anak Indonesia harus merasakan penderitaan karena kekerasan dan kejahatan yang dialami.

Siti Eva Rohana, S.Si (Pemerhati Masalah Sosial)

Konawe Selatan menjadi salah satu daerah yang membuktikan bahwa kasus kekerasan dan kejahatan pada anak masih saja terjadi. Tercatat jumlah kasus kekerasan pada anak di Konawe Selatan (Konsel) dari Januari hingga Maret 2021 mencapai 19 kasus. Hal itu berdasarkan data Satuan Bakti Pekerja Sosial Perlindungan Anak Kementerian Sosial Wilayah Konsel. Jumlah tersebut tentu menambah catatan buku hitam kasus kekerasan dan kejahatan pada anak di Indonesia.

Mari kita buka kembali catatan kelam kekerasan pada anak di Indonesia. Dikutip dari situs kemenpppa.go.id, berdasarkan data SIMFONI PPA, pada 1 Januari – 19 Juni 2020 telah terjadi 3.087 kasus kekerasan terhadap anak. Di antaranya 852 kekerasan fisik, 768 psikis, dan 1.848 kasus kekerasan seksual, di mana angka ini tergolong tinggi.

Selanjutnya, berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2019, khususnya di satuan pendidikan, tercatat sebanyak 21 kasus pelecehan seksual dengan jumlah korban 123 anak. Dari 123 korban ini, terdapat 71 anak perempuan dan 52 anak laki-laki, sedangkan untuk jumlah pelaku ialah 21, yang terdiri dari 20 laki-laki dan satu perempuan. Mirisnya lagi, kasus kekerasan seksual tidak hanya terjadi pada jenjang SD, SMP dan SMA saja, melainkan juga hingga jenjang perguruan tinggi.

Data tersebut telah membuat hati siapapun terluka dan tentu mengharuskan kita untuk membuka mata, meningkatkan kepedulian akan nasib generasi masa depan bangsa yang semakin tergilas karena kehidupan yang serba menyulitkan. Kekerasan pada anak terjadi karena tak sedikit orang tua yang lupa bahwa keberadaan anak adalah amanah yang harus dijaga dan dididik dengan baik dan kelak di akhirat mereka akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah Swt.

Fitrah seorang ibu perlahan luntur bahkan hilang karena tuntutan kehidupan dan tekanan ekonomi yang begitu besar, memaksanya harus bekerja di luar rumah sehingga anak-anakpun harus rela kehilangan sosok ibu dalam beberapa waktu. Rasa lelah karena berbagai tekanan membuat emosi seorang ibu rawan tak terkendali sehingga beberapa kasus anak menjadi tempat meluapkan emosi.

Lapangan pekerjaan yang semakin sulit dan kehidupan yang semakin terhimpit juga telah membuat ayah sulit menahan emosi. Sehingga sering kali kita temukan kekerasan pada anak terjadi karena perilaku seorang ayah. Gempuran konten-konten pornoaksi dan pornografi yang mengelilingi keseharian ayah, ikut memicu gejolak seksual yang berujung memunculkan aksi pencabulan dan kejahatan seksual pada anak. Akibatnya fitrah ayah sebagai pemimpin, pencari nafkah dan penjaga keluarga tidak lagi terbangun, bahkan tak jarang terbalik fungsinya dengan ibu.

Jika sudah seperti ini maka jiwa anak akan kering karena tak lagi merasakan fungsi keberadaan seorang ayah dan ibu. Ditambah minimnya pengawasan membuat anak mudah melihat konten-konten negatif sehingga memicu masalah kekerasan lainnya. Kasus kekerasaan terhadap anak tak mungkin dapat terselesaikan jika Negara masih mempertahankan sistem sekulerisme-kapitalisme. Sekulerisme telah menyerahkan pembuatan aturan dalam kehidupan umum kepada manusia. Hal tersebut sering kali menimbulkan pro dan kontra antara berbagai pihak yang memiliki pandangan dan kepentingan berbeda. Akibatnya penegakan aturan tidak dapat optimal dan efektif menyelesaikan akar masalah.

Atas nama kebebasan berperilaku dan ekonomi, Kapitalisme telah membuat konten-konten pornografi sangat mudah untuk diakses. Siapapun boleh mengembangkan usaha yang menguntungkan, meski akhirnya dapat merusak dan membahayakan masyarakat. Selain itu Kapitalisme juga telah menghasilkan banyak kemiskinan akibat lalainya negara dalam mengatur distribusi kekayaan secara merata kepada setiap individu rakyat. Kemiskinan ini telah memicu kekerasan pada anak dan menjadi alasan untuk melakukan kejahatan dengan motif mendapatkan uang.

Butuh solusi tuntas untuk menyelesaikan masalah kekerasan pada anak. Dalam Islam perlindungan terhadap anak tidak hanya diserahkan pada individu atau keluarga. Namun nasib anak juga menjadi kewajiban Negara untuk menjaminnya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yagn memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim)

Dalam mengatasi kasus kekerasan seksual terhadap anak, Islam memiliki mekanisme secara sistemik melalui penerapan berbagai aturan diantaranya negara mewajibkan seluruh individu rakyatnya untuk taat kepada aturan Allah Swt. Serta upayanya dalam menanamkan akidah Islam pada diri setiap Insan (umat) melalui berbagai sarana dan institusi baik formal maupun non formal. Dalam sistem ekonomi, Islam mewajibkan Negara menyediakan lapangan kerja yang cukup dan layak agar para kepala keluarga dapat bekerja dan mampu menafkahi kelurganya.

Dalam sistem sosial Negara wajib menjamin interaksi yang terjadi antara laki-laki dan perempuan berlangsung sesuai ketentuan syariat. Di antara aturan tersebut adalah: perempuan diperintahkan untuk menutup aurat dan menjaga kesopanan, serta menjauhkan mereka dari eksploitasi seksual; larangan berkhalwat; larangan memperlihatkan dan menyebarkan perkataan serta perilaku yang mengandung erotisme dan kekerasan (pornografi dan pornoaksi) serta dapat merangsang bergejolaknya naluri seksual. Ketika sistem sosial Islam diterapkan maka tidak akan muncul lagi gejolak seksual yang liar sehingga memicu kasus pencabulan, perkosaan, serta kekerasan pada anak.

Negara wajib mengatur media massa dan melarang apapun yang dapat melemahkan keimanan dan mendorong terjadinya pelanggaran hukum Islam. Berita dan informasi yang disampaikan media hanyalah konten yang membina ketakwaan dan menumbuhkan ketaatan. Selain itu negara juga akan memberikan sanksi yang tegas dan keras terhadap pelaku kekerasan. Kesempurnaan aturan Islam tersebut hanya dapat diterapkan dalam institusi Khilafah. Ketika Khilafah tegak maka Islam akan menjadi rahmat bagi semesta alam, anak-anak pun akan tumbuh dan berkembang dalam keamanan dan kenyamanan serta jauh dari bahaya yang mengancam. (*)