KENDARIPOS.CO.ID — Sudah satu tahun pandemi membersamai manusia di Negara ini. Segala daya dan upaya sudah dilakukan, keterbatasan di semua lini kehidupan sepertinya tidak menjadikan manusia sadar siapa dirinya, lihat saja berbagai peristiwa seperti panggung tontonan yang mengecewakan pemirsanya dari layar kaca. Penciptaan manusia di dunia bukan sebuah kebetulan, manusia diciptakan bukan hanya untuk mengisi ruang kosong pada kehidupan di dunia. Ibarat permainan, manusia memiliki tugas dan perannya masing-masing. Bahkan hal tersebut sudah dituliskan sebagai bagian dari takdir manusia.

Muhammad Radhi Mafazi, M.Psi, Pembimbing Kemasyarakatan di Balai Pemasyarakatan Kelas II Baubau

Takdir yang telah ditetapkan kepada manusia merupakan naskah kehidupan yang harus diselesaikan. Manusia memiliki kemampuan yang sama untuk menyadari hal ini, mengikuti jalanannya dengan usaha terbaik adalah kunci keberhasilan agar setiap kejadian yang telah digariskan dalam kehidupan mendapatkan makna kehidupan. Pada kondisi seperti sekarang, banyak manusia modern yang lupa akan tugas-tugasnya di dunia, agar dapat melanjutkan pada tahap level kehidupan selanjutnya.

Bukan hal mudah untuk menyadari tugas dari setiap level ini. Meminjam istilah dari seorang filsuf bernama Johan Huizinga yang berpandangan bahwa manusia adalah makhluk bermain, Faiz (2020) dalam bukunya Menjadi Manusia Menjadi Hamba menjelaskan bahwa hidup ini bekerja, berpikir, dan bermain, untuk menjadi manusia seutuhnya tiga hal ini berjalan secara seimbang.

Berangkat dari pemikiran itu mencoba lebih dalam mencerna, ketika manusia hidup manusia digambarkan sebagai permainan maka dirinya sebagai aktor, ia hanya memainkan peran dari skenario yang ditulis oleh sang sutradara, dan sudah layaknya seorang sutradara mengarahkan ketika aktor yang mengabaikan perannya dalam wujud rangkaian tugas, dan bagaimana jika seorang aktor mau menjadi superstar kalau dirinya cenderung mengabaikan tugas yang diperankan atau tidak peduli.

Tugas yang Terabaikan

Hakikat manusia adalah makhluk, dia tidak “ada” dengan sendirinya (Faiz, 2020), penciptaan manusia mempunyai tujuan. Mengherankan apabila manusia sekarang sering memposisikan diri seolah seperti penciptanya dengan berbagai modal kecerdasan artifisial yang berada dalam genggaman tangannya, dengan modal jari-jari yang telah diciptakan oleh sang pencipta ia gunakan untuk mengunggah postingan dengan niat menghakimi bahkan menjatuhkan sesamanya karena berbeda pandangan, secara tidak sadar menghambakan diri pada nafsunya semata, sehingga lupa bahwa dirinya hanyalah makhluk dengan tugas yang telah ditentukan oleh sang pencipta.

Kesadaran bahwa manusia hanyalah makhluk, mulai luntur terjadi pada fenomena sosial hari ini ketika ketika ada manusia yang terkena virus covid-19 respon lingkungan bahkan lingkungan inti mengucilkan, bahkan dicari kait-kaitkan dengan kesalahannya. Tugas hubungan interpersonal merupakan hal yang sering terabaikan.

Diciptakannya media sosial sebagai upaya menjalin kedekatan personal, disalahgunakan sebagai media untuk menyoroti kesalahan oranglain, bahkan hasil survei dari Digital Civility Index 2020 yang dibuat dari teknologi Microsoft menyebutkan netizen di Indonesia paling tidak sopan se- Asia Tenggara, menempati posisi 29 dari 32 negara. Hubungan antara manusia memang merepotkan, hal ini menyebabkan manusia melupakan tugasnya, dan berakhir pada konflik dengan sesamanya.

Menyelaraskan Diri

Cara paling sederhana menghindari sekaligus menyelesaikan konflik hubungan interpesonal adalah melakukan perannnya masing-masing, dengan menyadari tugas yang telah diembannya. Kishimi (2020) pada bukunya berjudul Berani Tidak Disukai, menjelaskan bahwa membentuk hubungan interpersonal yang baik memerlukan jarak pada tingkat tertentu, ketika jaraknya terlalu dekat dan satu dengan yang lainnya merekat mustahil untuk saling menasihati, begitu pula ketika jaraknya terlalu jauh.

Terjadinya sikap saling menghakimi, dan menjatuhkan di media sosial merupakan contohnya, mungkin selama ini manusia terlalu dekat hingga ia harus dipisahkan dengan sebuah virus yang menyebabkan pandemi, atau mungkin kita terlalu jauh sehingga dapat memaksimalkan kecerdasan buatan untuk lebih dekat.

Sebagai cara menghindari bencana yang diciptakan oleh dirinya sendiri, karena tidak dapat membendung hasrat sesaat. Menyelaraskan diri merupakan jalan satu-satunya sehingga tahu isi setiap perjalanan kehidupan mengandung tugas yang perlu diselesaikan. Kishimi (2020), menjelaskan bahwa ibarat pertunjukan pentas tari di atas panggung dengan lampu sorot. Beberapa dari manusia yang menyoroti kehidupan oranglain hingga terlena akan tugas yang harus diselesaikan, menyebabkan lupa akan tugas yang telah ditugaskan untuk tujuan tertentu, dan sibuk mengintervensi tugas kehidupan oranglain, sehingga tidak bisa mencapai tujuan kehidupannya atau tercapai dengan hasil yang biasa.

Manusia merupakan aktor dalam panggung pertunjukkan, ia memiliki tugas yang telah ditentukan oleh sutradaran dengan tujuan tertentu. Simon Sinek (Faiz, 2020), meyebutkan dua tipe gaya hidup dalam permainan yaitu finite game dan infinite game. Manusia yang suka memainkan peran dengan gaya finite game dalam penyelesaian tugasnya dengan tujuan hanya ingin menang, musuh terbesarnya adalah oranglain yang menghalanginya dan setelah berhasil ia merasa sukses, padahal hidup tidak sesederhana itu. Tipe infinite game, gaya permainan manusia yang lebih memilih mencari makna kehidupan, berfokus pada pengembangan diri, musuh terbesarnya adalah dirinya sendiri. Dua tipe gaya permainan yang ditawarkan untuk menyelesaikan tugas kehidupan menuju level selanjutnya.

Mencari Terang

Menarik ketika melihat keadaan sosial sekitar kita, terlebih bagi manusia yang pernah terjerumus pada jalan sesaat. Kebanyakan dari mereka menggunakan cara bermain finite game, seolah oranglain yang menghalangi tujuannya harus disingkirkan dengan merebut haknya. Jarang dari manusia dengan tipe bermain infinite game, terjebak dalam jalan sesaat hingga merenggut hak oranglain. Mereka yang tidak dapat mencari terang dengan cara , berusaha mencari hikmahnya, berjalan di jalan kesesaatan semakin jauh, apalagi kalau sudah merasa benar dengan apa yang telah dilakukan, ini gawat.

Ilmu mencari titik terang seringkali diabaikan dan dianggap sebagai sesuatu yang mengada-ada, para ahli menyebutnya sebagai ilmu hikmah, ya setiap peristiwa selalu meninggalkan makna. Tergantung bagaimana seseorang memahami peristiwa tersebut. Hal ini memang sulit, terlebih bagi manusia yang bersikap tidak peduli dan mengalir begitu saja, bahkan tidak disadari kalau mengalirnya air itu kebawah. Bahkan filosofi dasar dari pemasyarakatan di Indonesia adalah pengembalian hidup,kehidupan, dan penghidupan.

Artinya tiga aspek ini sebagai pedoman, untuk mengembalikan keutuhan manusia, mengambil hikmah dari jalan gelap merupakan cara mencari terang. Mungkin selama ini sebagai manusia melupakan jati diri seorang manusia, menempatkan diri kita malah selevel dengan Tuhan, yang segala sesuatunya kita intervensi hingga tanpa sadar mengambil hak oranglain. Atau sebagai manusia kita lupa untuk tidak melakukan tugas penghidupan, hingga kita tanpa sadar dengan dalih khilaf melanggar hak oranglain.

Pada akhirnya menyadari bahwa manusia hanyalah sebuah makhluk yang telah ditentukan takdir kehidupannya, dengan segala tugas yang perlu diselesaikan dengan cara terbaik untuk mencapai tujuan terbaik tanpa perlu mengintervensi tugas manusia lainnya, merupakan cara menghadapi dunia yang penuh tipu daya, menghambakan diri pada sang pencipta sebagai sutradara kehidupan merupakan fitrah seorang makhluk karena menyadari bahwa dirinya lemah, tugas manusia berikhtiar, hasilnya pada sang pencipta. (*)