KENDARIPOS.CO.ID — Forum Perlindungan Jurnalis Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar pertemuan membahas aksi brutal oknum kepolisian yang menganiaya jurnalis Berita Kota Kendari, Rudinan. Pertemuan yang berlangsung, Jumat (19/3) itu, dihadiri Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Sultra, Irwan Zainuddin, Ketua PWI Sultra, Sarjono, Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), M Jufri Rachim, Ketua JMSI, Nasir Idris, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Asdar Zula, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Rosniawati Fikri dan puluhan jurnalis di Kota Kendari.

Mengawali perbincangan, Ketua PWI Sultra, Sarjono menegaskan kasus ini harus dikawal bersama dan meminta pertanggungjawaban petinggi Polri khususnya yang ada di Sultra. “Silahkan korban melapor. Kita kawal hingga akhir. Presentase kesengajaan sangat besar dalam kasus ini karena meski jurnalis sudah memperlihatkan ID Card tetap juga dianiaya,” kata Sarjono.

Penegasan juga disampaikan Ketua SPS Sultra, Irwan Zainuddin. Ia menjelaskan, harus ada kesepakatan bersama untuk mengawal hingga tuntas kasus ini. “Kita harus bersatu. Kalau ada yang terkena kekerasan semua harus merasakan. Kita harus kawal sampai tuntas. Wartawan tidak boleh disakiti saat liputan,” terangnya.

Ketua IJTI Sultra, Asdar Zula, mengungkapkan hal ini tidak bisa ditolerir. Korban sudah memberikan ID Card tapi tetap dipukuli oleh oknum polisi. Apalagi dalam video terlihat jelas aparat tersebut emosional. “Sudah disampaikan jika korban wartawan. Tapi sengaja tetap dianiaya. Kalau hanya dengan kata maaf hari ini kita dikerasi besok minta maaf lagi. Profesi ini jelas dilindungi UU. Jadi kita ingin lanjut sampai tuntas agar tidak ada korban selanjutnya,” tegas Asdar.

Suasana pertemuan membahas penganiayaan wartawan oleh oknum Polisi.

Di tempat yang sama, Ketua AJI Kendari, Rosniawati Fikri, menjelaskan
kasus kekerasan terhadap jurnalis memang kerap terjadi. Pelakunya tidak lain oknum polisi pada saat aksi unjukrasa. “Ini tugas kita bersama. Mari kita kawal. Aji sangat sesalkan kenapa terulang kembali. Dan laporan kasus ini sudah sampai ke AJI Pusat,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan, Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), M Jufri Rachim. Menurutnya, masalah ini sangat jelas ada unsur kesengajaan. Ia meminta kasus terus berjalan hingga ke pengadilan. Jufri juga menginginkan ada MoU yang dibuat antara Polri dan Jurnalis yang dimasukan dalam dalam satu protap agenda Polri dalam setiap pemgawala aksi unjukrasa yaitu jangan pukuli wartawan. “Jadi setiap ada demo mereka sudah disampaikan tidak boleh kasari wartawan yang meliput. Disini kita harus satukan pendapat. Kita kompak mengawal. Tidak boleh lagi ada wartawan dianiaya. Oknum polisi harus di proses,” ucapnya.

Sedangkan Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Nasir Idris, mengungkapkan tekanan terhadap profesi wartawan harus disikapi bersama. Ia pun mengapresiasi kekompakan dari seluruh media. “Peryataan sikap kita disampaikan ke Kapolda dan harus dikawal dengan kongkrit. Jangan lakukan kekerasan terhadap jurnalis,” tutupnya.

Untuk diketahui, usai pertemuan tersebut Forum Perlindungan Jurnalis Sulawesi Tenggara (Sultra) akan mengadakan pertemuan dengan Kapolda Sultra, sekaligus menyerahkan aduan terkait penganiayaan wartawan. Rencananya, agenda tersebut berlangsung Sabtu (20/3/2021) di Mapolda Sultra. (imn)