KENDARIPOS.CO.ID — Seperti yang saya bilang. Pasca Pilkada akan banyak kejadian yang akan membuat gaduh. Ada gaduh terang-terangan, ada gaduh silent.

Di Butur, silent. Hanya ngedumel dalam hati. Jangan jangan, jangan jangan. Tapi, Ridwan Zakariah sebagai Bupati terpilih, yakinlah, tak punya karakter untuk menghukum tanpa salah. Karena itu, tenanglah. Merasa diri benar, kenapa harus gelisah. Merasa salah, tengadahkanlah tangan, atau bacakan sawurondo agar tak ketahuan.

La Ode Diada Nebansi

Di Konsel, gaduh dengan bayang-bayang PSU. Kalau kalau PSU bolehlah kita membayar kekeliruan tindakan yang kemarin, toh pememangnya sudah ketahuan, dan, kemungkinan akan menang lagi. Kalau ternyata tak dapat peluang untuk dimaafkan, ya, sekalian bertarung memperkuat lawan, toh, tak berjuang pun sudah pasti diamputasi.

Di Koltim, gaduh dengan berita duka. Belum sempat memetik hasil perjuangan, sudah keburu dipanggil Yang Maha Kuasa. Tapi saya kira, Andi Merya Nur sebagai second line dan sekarang ditunjuk sebagai first line, tentulah memahami kegamangan bagi yang galau.
Yakinlah, Andi Merya akan memanfaatkan kesempatan ini sebagai pintu masuk untuk menunjukkan bahwa dia perempuan tangguh, berjiwa pemimpin sejati yang dapat mengayomi masyarakat dan Koltim akan maju. Tujuannya hanya itu? Bukan. Andi Merya akan ke periode berikutnya yang titik startnya sekarang.

Di Muna, yang galau guru-guru yang dimutasi. Kalau yang ini, saya kira risiko perbuatan. Artinya, yang galau pastilah mereka yang bergerak silent tapi juga diintai silent. Bergerak politik dan merasa tak diketahui tapi sesungguhnya apa yang dia lakukan begitu terang benderang. Karena itu, kalau merasa aktif dalam Pilkada kemarin, maka siaplah.Dengan kesiapan itu, justru akan melahirkan kesimpulan baru: Ngeri tuorang ee.

Nah, kalau ini dilakukan konsisten, yakinlah, periode selanjutnya jika kamu guru maka bisa jadi kepala sekolah. Kamu kepala sekolah, bisa jadi Kabid. Kabid bisa Kadis. Kadis bisa Kadis. Tapi kalau kandidat tempatmu melengket ternyata salah lagi, ya sudah. Banting haluan.

Agar jelas: tanya yang paham. Tanya surveyor kah. Tanya dukun kah. Tanya yang pengalaman kah. Atau, tanya saya. Artinya to.

Di Universitas Halu Oleo (UHO) juga gaduh. Khusus kegaduhan ini, agak riskan di kolom Winto. Kenapa? Harus tuntas mengupasnya. Harus detail menulisnya. Karena ini menyangkut orang-orang intelek, menyangkut pendidikan tinggi, menyangkut guru besar, menyangkut perguruan tinggi yang membanggakan dan dibanggakan masyarakat Sulawesi Tenggara.

Di dalamnya disesaki oleh orang orang berdedikasi, teruji secara akademik, terakreditasi C, B, A baik di mata hukum, di mata pendidikan bahkan di mata Tuhan. Tapi kalau kemudian kesandung masalah, itu artinya ada turbulensi di UHO. Ini yang saya maksud harus padat ulasannya. Dan, yang mengulas pun tak boleh orang sembarang. (nebansi@yahoo.com)

Tanya yang Paham

Gaduh Pasca Pilkada
Oleh : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)