KENDARIPOS.CO.ID — Konflik internal Demokrat tambah memanas. Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), yang dihadiri eks elite partai dan sejumlah organisasi sayap partai menetapkan Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan, sebagai Ketua Umum DPP Demokrat. Langkah itu sebagai upaya menggulingkan kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyoni (AHY). Meski begitu, DPD Demokrat Sultra tetap berada di kubu AHY.

Wakil Ketua DPD Demokrat Sultra, Abdul Salam Sahadia menolak tegas KLB yang diprakarsai eks kader Demokrat. Langkah politik yang mereka tempuh, mencederai demokrasi Indonesia karena menggunakan cara-cara politik ilegal.

“Apapun bentuk gerakan yang sedang mereka tempuh, tak sedikitpun menggoyahkan tatanan kekuatan Demokrat. Niat mereka ingin menggulingkan AHY, sangat tidak berdasar, juga tidak resmi. Karena mereka bukan lagi bagian dari partai,” katanya.

Abdul Salam Sahadia

Jalinan harmonisasi kader DPD Demokrat Sultra, kata dia, masih solid mendukung AHY sebagai nakhoda partai. Tidak ada yang perpecahan sedikitpun, kekuatan internal partai kokoh.

“Kami tidak terpengaruh sedikitpun dengan isu KLB itu. Dan apapun titah AHY, kami konsisten patuh secara utuh. Satu komando dan satu intruksi,” tegasnya.

Sebelumnya, Ketua DPD Demokrat Sultra, Muhammad Endang, memastikan belum ada kader Demokrat Sultra yang ikut-ikutan melakukan upaya kudeta terhadap kepemimpinan AHY. Demokrat Sultra tetap solid dan mendukung kepemimpinan AHY sebagai ketua umum.

“DPD Demokrat Sultra beserta DPC, PAC, sampai ranting tetap setia dan solid membela AHY sebagai ketua umum DPP Demokrat,” kata mantan Wakil Ketua DPRD Sultra itu.

Terpisah, Pengamat Politik Sultra Dr. Najib Husain mengatakan, langkah kudeta AHY oleh eks kader partai, bagian dinamika dalam kancah perpolitikan. Jika benar-benar terjadi kudeta, maka akan sangat memengaruhi stabilitas internal politik Demokrat. Pengaruhnya akan merambah hingga ke tingkat daerah.

“Fenomena ini bagian dari ujian kekuatan kepemimpinan AHY dalam menakhodai Demokrat. Bagaimana menunjukkan dirinya bisa menjadi pemimpin yang dapat mengendalikan segala gejolak politik yang terjadi. Persoalan ini mesti segera diselesaikan untuk menjaga maruah ataupun eksistensi partai,” katanya.

Terkait pengaruhnya isu tersebut di tingkat daerah, kata dia, berpotensi menggoyang keharmonisan internal partai, jika kudeta AHY benar-benar terjadi. Masalah ini bagian dari konsekuensi politik sebagai pemimpin partai.

“Karena ukuran besar memimpin partai terletak pada kemenangan ketika kontestasi pemilihan. Termasuk keberhasilan menjaga akselerasi dan keharmonisan partai. Citra demokrat dalam kurun terakhir ini bersifat stabil,” tandas akademisi FISIP Universitas Halu Oleo itu. (ali/b)