Siswa siswi salah satu SMA di Kota Kendari saat merayakan kelulusan beberapa waktu lalu (Sebelum Pandemi Covid-19)

KENDARIPOS.CO.ID— Sebanyak 23 ribu lebih siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Sultra dijad­walkan mengikuti Ujian Sekolah (US) yang akan menjadi penentu kelulu­san. Tepatnya, US dilak­sanakan secara langsung atau tatap muka pada tanggal 29 Maret sampai 7 April.

Kabid SMA Dikbud Sul­tra, Samahu, mengung­kapkan US tingkat SMA akan menjadi momen­tum yang sangat penting. Mengingat sebelumnya Ujian Nasional telah diti­adakan pelaksanaannya secara nasionak. US akan menjadi tolak ukur paling penting dalam menentu­kan kelulusan siswa.

“US kali ini akan men­jadi penentu kelulusan mereka sehingga siswa harus melakukan yang terbaik agar bisa lulus. US akan dilakukan secara tatap muka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Ini akan berlaku pada seluruh SMA di Sultra,” ungkap Sa­mahu, Selasa (23/3).
Diakuinya, di tengah pandemi Covid-19, pelak­sanaan tatap muka harus tetap mengedepankan protokol kesehatan yang ketat. Ini pun harus di­tunjang dengan Sarana dan Prasarana (Sarpras) Prokes.

“Seminggu yang lalu, kami sudah melakukan pemantauan di seluruh sekolah terkait kesiapan, mulai dari penyediaan tempat cuci tangan, hand sanitizer, penyediaan masker, disinfektan dan lain sebagainya. 100 pers­en seluruh sekolah sudah siap,” paparnya.

Ia pun mengingatkan agar seluruh siswa mem­persiapkan diri dengan baik dalam menghadapi US, tentunya dengan be­lajar dan belajar. “Karena dengan melakukan hal tersebut, Insya Allah akan mendapatkan hasil yang maksimal,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 4 Kendari, Liyu, menuturkan bahwa pihaknya sangat siap US tatap muka. Seluruh Sar­pras yang dibutuhkan un­tuk mencegah penyebaran Covid-19, sudah sangat lengkap.

“Kami sangat siap untuk melakukan US di sekolah, dengan Sarpras yang leng­kap. Kita sangat optimis bisa melakukan US secara sukses karena sebelumn­ya sudah mengantisipasi proses pelaksanaannya akan seperti apa, kami akan menggunakan sis­tem sif dengan membagi setiap kelas mejadi dua kelompok. Ini dilaku­kan untuk menghindari terjadinya kerumuman sehingga bisa menekan kasus Covid-19,” tandasn­ya. (Ilw/b)