Tantangan dan Peluang Pemulihan Ekonomi Nasional, Oleh : Haris Zaky Mubarak, MA – Kendari Pos
Opini

Tantangan dan Peluang Pemulihan Ekonomi Nasional, Oleh : Haris Zaky Mubarak, MA


KENDARIPOS.CO.ID — Tantangan perbaikan dan pemulihan ekonomi Indonesia masih akan berlanjut pada periode 2021. Jika mengacu pada data ekonomi sepanjang 2020 yang minus 2,07 persen, optimalisasi untuk pengendalian kasus Covid-19 menjadi prasyarat utama dalam menggerakkan roda ekonomi Indonesia agar dapat lebih efektif.

Haris Zaky Mubarak, MA (Direktur Eksekutif Jaringan Studi Indonesia)

Ini bukanlah hal yang sederhana untuk dikembalikan secara cepat. Terlebih jika melihat data Badan Pusat Statistik (BPS, 2020) yang menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 2,07 persen pada 2020. Maka, ruang pemulihan ekonomi pada 2021 diperkirakan tak naik secara drastis.

Kendati masih akan terkontraksi pada 2021, awal triwulan 2021 diperkirakan mengalami kenaikan sedikit, yakni 1 persen. Hal itu menimbang catatan laporan per triwulan 2020 yang mengarah pada penurunan nilai negatif. Seperti dalam analisis triwulan II 2020 yang mengalami catatan negatif 5,32 persen mengarah nilai negatif 3,49 persen pada triwulan III 2020 dan negatif 2,19 persen triwulan IV 2020. Indikasi ini jelas membawa pengaruh besar bagi pertumbuhan ekonomi yang akan terjadi dalam triwulan I tahun 2021.

Langkah Rasional

Pada 2021, sejumlah lapangan usaha masih terdampak pandemi. Sektor industri pengolahan, perdagangan, dan transportasi masih terkontraksi meskipun dalam analisis sederhana ada arah tren membaik tiga triwulan terakhir. Sementara itu, konsumsi rumah tangga yang menjadi lokomotif penyumbang utama pertumbuhan diprediksi masih terkontraksi pada level 3,61 persen.

Kontraksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu merupakan yang terdalam sejak 1998 yang negatif 13,13 persen. Tantangan terberat untuk membalikkan arah pertumbuhan ekonomi tahun ini adalah pengendalian pandemi Covid-19. Selama pandemi belum bisa dikendalikan, aktivitas ekonomi akan terus tertahan.

Pembatasan sosial akan menahan mobilitas penduduk dan aktivitas ekonomi. Adanya peningkatan mobilitas masyarakat setelah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mendorong perbaikan konsumsi rumah tangga dan investasi. Perbaikan sisi permintaan, terutama konsumsi rumah tangga, masih didorong dengan mengoptimalkan serapan belanja pemulihan ekonomi. Banyak pihak yang optimistis program vaksinasi dan kepatuhan masyarakat mampu menggerakkan ekonomi Indonesia secara perlahan.

Satu hal yang hampir dipastikan tak berubah akibat situasi pandemi Covid-19 adalah kecanduan dari seluruh masyarakat ekonomi untuk aktif secara penuh dalam menjalankan ekonomi digital. Kita bisa melihat, selama masa pandemi Covid-19, masyarakat makin aktif memanfaatkan teknologi digital guna mendukung kehidupan usaha ekonomi. Indikasi ini jelas memperlihatkan betapa besarnya peran ekonomi digital pada 2021.

Transformasi Pasar

Ekonomi digital merupakan hal yang menandakan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi pada masa yang akan datang. Ditandai dengan semakin pesatnya perkembangan bisnis atau transaksi perdagangan yang menggunakan internet sebagai media berkomunikasi, kolaborasi, sekaligus bekerja sama antar perusahaan atau individu. Konsep dasar ekonomi digital kali pertama diperkenalkan oleh Don Tapscott (1995) yang menitikberatkan pada ruang ekonomi berbasis informasi. Dalam bukunya, The Digital Economy: Promise and Peril In The Age of Networked Intelligence, Don Tapscott memberi banalitas tentang transaksi global lintas batas yang menghubungkan teknologi informasi sebagai penghubung ekonomi atau connected economy.

Penerapan ekonomi digital menjadi tantangan bagi sebagian pengusaha. Sebab, bagi yang mampu beradaptasi, keuntungan berlipat ganda akan didapat. Sebaliknya, pengusaha yang tidak dapat mengikuti kecanggihan perkembangan zaman bukan tidak mungkin akan jauh ketinggalan. Dalam perkembangan empat tahun terakhir, ekonomi digital memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada 2017 kontribusi pasar digital terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia meningkat 4 persen dibandingkan 2016 sebesar 3,61 persen dan 2018 yang diperkirakan mencapai 10 persen.

Berdasar data dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sebanyak 52,6 juta pekerjaan di pasar kerja Indonesia berpotensi diganti oleh otomasi seperti mesin ataupun robot. Pekerjaan tersebut antara lain di sektor pertanian sebesar 49 persen, manufaktur sebesar 45 persen, perdagangan ritel sebesar 53 persen, dan transportasi mencapai 64 persen. Pekerjaan yang akan hilang ini merupakan pekerjaan dengan keterampilan terbatas.

Dampak lainnya dari perkembangan ekonomi digital adalah banyaknya toko ritel yang tutup karena kemunculan e-commerce sehingga toko online lebih berjaya. Persaingan bisnis di era ekonomi digital ini bersifat customer oriented dan competition oriented. Bisnis memerlukan teknologi yang canggih agar kegiatannya berjalan lancar dan dapat membantu semua kegiatan dengan para konsumen dan produsennya. Saat ini pendapatan e-commerce di Indonesia telah mencapai USD 6 miliar. Diperkirakan, pertumbuhan e-commerce di Indonesia menembus 18 persen per tahun dan berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga USD 35 miliar.

Indonesia saat ini sedang berada di jalur utama untuk menjadi salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara. Saat ini nilai ekonomi digital Indonesia mencapai USD 44 miliar atau meningkat 11 persen dibandingkan 2019 dan 2020. Diprediksi, 2025 nilai valuasi ekonomi digital Indonesia mencapai USD 124 miliar dan menjadi negara dengan valuasi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Peningkatan nilai ekonomi ini nyatanya juga diikuti semakin banyaknya pelaku usaha yang terlibat pada sektor ekonomi digital dan hal ini pastinya akan memperketat persaingan antar pelaku usaha.

Peluangnya. Ada dua pendekatan strategis yang perlu dilakukan pemerintah saat ini dalam melakukan pembinaan ekosistem ekonomi digital. Pertama, pemerintah perlu melakukan pengembangan model pertumbuhan ekonomi ke depan yang sangat bergantung pada berbagai inovasi teknologi, terlebih jika melihat potensi ekonomi digital Indonesia yang besar karena banyaknya sektor usaha rintisan. Maka, tugas pemerintah memastikan ekonomi digital harus menopang pertumbuhan ekonomi dalam jangka waktu yang panjang. Di sini pemerintah harus mematok batasan berapa tahun periode rintisan dan berapa tahun periode investasi.

Kedua, pemerintah perlu mendorong upaya peningkatan produktivitas kreasi usaha digital sekaligus menjaga konstelasi pertumbuhan yang merata pada banyak daerah di Indonesia. Upaya ini akan mendorong besarnya permintaan domestik, meningkatkan perdagangan antarkawasan, sekaligus memberi peluang terjadinya diversifikasi ekonomi. Dengan adanya rasionalisasi diversifikasi ekonomi, peningkatan kualitas infrastruktur digital juga akan berkembang merata sehingga meminimalkan ketimpangan ekonomi di seluruh Indonesia. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy