Utak Atik 2023, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Utak Atik 2023, Oleh : Prof. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Berdasarkan perolehan suara hasil pemilu legislatif 2019, kursi di DPRD memunculkan 5 kekuatan politik dominan. Yakni PAN dengan 8 kursi, Golkar 7 kursi, Demokrat 5 kursi, PDI-P dengan 5 kursi dan Nasdem 5 kursi.

Selebihnya PKS adalah 4 kursi dan Gerindra masing-masing 4 kursi. PKB yakni 3 kursi, PPP yakni 2 kursi. Sementara itu, PBB dan Hanura mengirim masing-masing 1 kursi.

Dosen Fisip Universitas Halu Oleo, Prof. Eka Suaib

Dari perolehan tersebut, tidak ada partai yang betul-betul ‘aman’ dalam pengajuan calon. Soalnya, untuk bisa mengajukan calon, maka minimal memenuhi 9 kursi. Itu artinya, bahwa partai politik harus melakukan koalisi.

Dalam konteks itu, maka berdasarkan maksimal calon yang diusung dari jalur parpol yakni 5 pasang.Syarat pencalonan adalah yakni jumlah kursi DPRD hasil pemilu terakhir dikalikan 20 persen. Jumlah maksimal kursi di DPRD DPRD adalah 45 x 20 bagi 100 yakni 9 kursi.

Dengan melihat itu, maka ada 5 papan ‘atas’ untuk mengusung calon gubernur melalui jalur parpol atau gabungan parpol yakni PAN, Golkar, Demokrat, PDI-P dan Nasdem. Menjadi pertanyaan, siapa yang akan berkoalisi, dengan siapa.

Jika pencalonan, berlangsung dengan koalisi ‘kurus’, maka setidaknya akan maksimal calon ada 5. Koalisi kurus yakni tidak ada satu figur yang mendominasi proses pencalonan, sehingga elite parpol berkompromi. Hanya saja, berdasarkan pengalaman pilgub sebelumnya, tidak pernah ada 5 pasang calon. Saat Pilgub Sultra 2005-2010, jumlah pasang calon yakni ada 4 pasang, selanjutnya 2010-2015 ada 3 pasang calon, dan pilgub tahun 2018 ada 3 pasang calon.

Bagaimana kecenderungan koalisi pada Pilgub Sultra 2023? Tidak akan berubah dengan pola koalisi seperti pilgub yang lalu. Yakni koalisi variatif dengan orientasi hanya pada kemenangan calon yang diusung. Kecenderungan itu terjadi, karena hanya berdasarkan ukuran jumlah partai dan kursi partai.

Menjadi pertanyaan, siapa saja aktor yang paling potensial untuk maju dan diusung oleh parpol. Pertama, elektabilitas calon. Parpol akan senang untuk mengusung calon yang memiliki tingkat elektabilitas tinggi. Hal itu, bisa dilihat pada pengalaman kemunculan Ali Mazi saat pilgub yang lalu, dengan berhasil memanfaatkan pintu Golkar. Padahal saat itu, Ridwan BAE masih menjabat sebagai Ketua Umum DPD Golkar.

Kedua, kemampuan masing-masing calon untuk menampilkan jejak rekam melalui posisi dan peran yang sudah pernah dilakukan. Ketiga, kemampuan calon melakukan komunikasi politik. Hanya, saja perlu diingat saat ini ada proses nominasi pencalonan terdapat watak parpol yang oligarkis. Jadi, bisa saja meski calon gubernur potensial tetapi tidak mendapat restu dari pimpinan parpol, maka sulit ia akan melenggang. Apalagi penentuan akhir, yakni dominasi sentral “orang Jakarta”.

Saat ini ada sejumlah nama potensial dengan variasi latar belakang seperti Lukman Abunawas (saat ini Wagub), Kery Saiful Konggoasa (Bupati Konawe), Ridwan Bae (anggota DPR RI), La Ode Ida (mantan Wakil Ketua DPD RI), Umar Samiun (mantan Bupati Buton), Abdurrahman Shaleh (Ketua DPRD Sultra).

Ada juga baliho yang sudah banyak terpasang, yakni Andi Sumangerukka. Tidak jelas, apakah pemasangan baliho yakni ikhtiar untuk maju. Hanya saja, sejumlah baliho banyak tersebar di sejumlah titik. Ada juga baliho Bahtiar di sekitaran MTQ. Informasinya, Bahtiar adalah latar belakang akademisi.

Mungkin masih ada kader potensi lain, seperti Wali Kota Baubau saat ini, Dr.H.AS. Tamrin, Bupati Bombana, H.Tafdil. Kedua pimpinan daerah ini, pada tahun 2023 sudah tidak mencalonkan diri lagi di masing-masing daerah. Terdapat nama Rusda Mahmud (anggota DPR RI) dan Tina Nur Alam (anggota DPR RI), keduanya politisi.

Melihat banyaknya figur menandakan dengan berbagai latar belakang bupati, anggota DPR, politisi, militer, dan akademisi memperlihatkan bahwa sumber kepemimpinan di daerah saat ini sudah cukup baik. Juga kombinasi latar belakang, laki-laki dan perempuan juga sudah terjadi, meski laki-laki yang masih dominan.

Kita tunggu masing-masing figur untuk menampilkan performa yang terbaik saat ini. Hal itu penting agar memiliki posisi tawar yang tinggi untuk dipinang oleh parpol. Perlu diingat bahwa Pemilu 2023 yakni sangat strategis bagi parpol yang akan ikut kontestasi pemilihan serentak 2024. Jadi, parpol sangat berkepentingan dengan arena Pilgub Sultra. Sebab, memenangkan kontestasi Pilgub Sultra akan turut membantu para calegnya untuk duduk di kursi legislatif. Hanya saja, kapan itu pilgubnya ? Ulasan ini, topik lain lagi. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy