Selamat Datang Pimpinan Baru, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Selamat Datang Pimpinan Baru, Oleh : Prof. Hanna


KENDARIPOS.CO.ID — Pemilihan kelapa daerah serentak tahun 2020 selesai dilaksanakan. Prosesnya berjalan sesuai tahapan, walaupun di daerah lain masih terjadi siku menyiku, saling menyalahkan dan saling adu argumentasi data, meskipun sudah banyak yang sesuai data KPUD.

Prof. Hanna

Dalam proses pelaksanaan pilkada serentak tahun ini ada beberapa incumbent yang terkalahkan dan saat ini menjadi buah bibir. Pasca pemilihan kita calling down, ini berarti bahwa pertama cara pandang masyarakat terhadap pemilihan sudah satu persepsi bahwa siapapun pemenangnya itulah pimpinan yang perlu didukung.

Demikian juga calon yang kalah. Sudah memhami bahwa kemenangan ada pada pihak lawan, walaupun masih ada lagi belum siap kalah dan siap menggugat. Para tim sudah mendudukan fungsi budaya sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi adat dan budaya demokrasi.

Peristiwa kemenangan itu, sama halnya dengan kisah Nabi Ibrahim yang dibakar oleh Raja Namrud lalu seekor burung pipit yang selalu menyiram air dan mengibaskan sayapnya agar api padam. Cicak pun tertawa terbahak-bahak melihat perilaku sang burung pipit.
Kata sang Cicak, ” Hai pipit…kamu adalah binatang yang paling bodoh yang saya tahu. Paruhmu yang kecil itu hanya bisa menghasilkan beberapa tetes air saja. Manalah mungkin bisa memadamkan api itu.

Kata Sang Burung pipit, “Wahai cicak. Saya sadari bahwa tak mungkin saya bisa memadamkan api yg besar itu. Tapi aku tak mau jika Allah SWT melihatku diam saja saat sesuatu yang Allah SWT cintai dizhalimi. Allah SWT tak akan melihat hasilnya apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak. Tapi Allah SWT akan melihat di mana aku berpihak”.

Cicak pun terus tertawa. Sambil menjulurkan lidahnya ke arah burung pipit, ia berusaha meniup api yang membakar Nabi Ibrahim AS. Memang tiupan cicak tak ada artinya. Tak menambah besar api yang membakar Nabi Ibrahim AS. Tapi Allah SWT melihat dimana ia berpihak.

Dari ceirta singkat di atas kita dapat memetik makna bahwa mungkin pasangan yang kita pilih akan kalah tenar, dan bisa jadi tidak menang tapi bisa juga menang.
Satu suara dari kita pun mungkin tidak akan membuat pasangan yang kita pilih lolos bisa juga sangat menentukan.

Tapi biarkan kita seperti burung pipit, jika kelak dimintai pertanggungjawaban, Allah SWT tahu di mana kita berpihak. Karena sebagai orang beriman yang memahami kodratnya sebagai manusia ciptaan Tuhan, lalu diberikan akal, pikiran pasti memahami bahwa calon yang terpilih pasti tertulis di Lauhul Mahfudz-Nya.

Dalam dunia politik kemenangan adalah tujuan akhir dari sebuah perjuangan. Dengan cara apapun demi kesejahteraan masyarakat. Sehubungan dengan itu dalam dunia politik, nasihat Pericles menjadi motivasi. Pericles berkata “Hanya karena anda tidak berminat mengambil bagian dalam politik, itu tidak berarti bahwa politik tidak akan mengambil minat anda”.

Artinya, dalam praksis politik, tidak penting ada perbedaan antara tidak berfikir, diam saja, atau pura-pura tak mendengar, berlagak netral dan sok filosofis. Perlu dipahami bahwa dunia politik mengandung konsep one man one vote, sama kalau ketidakhadiran adalah nihil.

Oleh karena itu, dalam pandangan politik masalah tersebut di atas perlu menjadi satu rujukan bahwa mereka yang diam, netral dan tidak memilih, adalah satu tindakan yang keliru karena akan melahirkan atau setidaknya meloloskan pemimpin-pemimpin yang tidak sependapat dengannya, dan itu merupakan pilihan yang menyedihkan.

Padahal setelah mereka terpilih tidak sedikit diantara yang diam, netral, tidak memilih merasa terkejut, mereka berkuasa, tanpa persetujuan kita, dan mereka akan menentukan masa depan atau hajat hidup kita?.

Senada dengan hal tersebut di atas, Rogers, pelawak politik berkata bahwa politik itu mahal, bahkan untuk kalahpun kita harus mengeluarkan uang banyak sebagai biaya politik. Biaya yang digunakan sebagai Course politik itulah ditanggung oleh rakyat sebagai imbas bahkan sampai pada anak-cucu kita.

Coba bayangkan jika pemimpin yang kita pilih hari ini ternyata tidak mewakili keinginan rakyat maka 5 tahun lamanya penderitaan itu kita alami sampai menunggu pemilihan berikutnya. Sebagai pemimpin baru yang menahkodai negeri ini, perlu merenungkan nasihat Imam Al-Gazali Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz II mengatakan: “Sesungguhnya, kerusakan rakyat di sebabkan oleh kerusakan para penguasanya, dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama, dan kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan; dan barang siapa dikuasai oleh ambisi duniawi ia tidak akan mampu mengurus rakyat kecil, apalagi penguasanya. Allah-lah tempat meminta segala persoalan” (Ihya’ Ulumuddin II hal. 381).

Bagi Imam al-Ghazali, krisis yang menimpa suatu negara dan masyarakat berakar dari kerusakan yang menimpa para ulamanya. Karena itu, reformasi yang dilakukan Sang Imam dimulai dengan memperbaiki para ulama. Selain itu dalam pandangannya, pemimpin negara tidak boleh dipisah dari ulama. Ulama tidak boleh ditinggalkan, sebagaimana agama tidak boleh ditinggalkan oleh negara.

Ulamapun harus memberikan kontribusinya dengan nasihat dan peringatan terutama nasihat-nasihat akidah dan adab kepada pemimpin. Usaha-usaha perbaikan politik yang di lakukan Imam al-Ghazali dengan menerapkan amar ma’ruf nahi munkar kepada ulama sekaligus kepada penguasa.

Tahapan usaha yang dilakukan adalah, peringatan, kemudian nasehat. Demikian juga nasihat Berthold Brecht (1898 – 1956), seorang penyair Jerman, yang juga dramawan, dan sutradara teater yang mengatakan “buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy