Puncak Bonus Demografi vs Pandemi, Oleh : Dwina Wardhani Nasution, S.ST – Kendari Pos
Opini

Puncak Bonus Demografi vs Pandemi, Oleh : Dwina Wardhani Nasution, S.ST


KENDARIPOS.CO.ID — Tahun 2021 diprediksi sebagai tahun puncak bonus demografi di Indonesia.Pada tahun ini, rasio ketergantungan mencapai titik terendahnya. Berdasarkan rilis data Sensus Penduduk 2020 (SP2020), jumlah penduduk Indonesia tercatat sebanyak 270,20 juta jiwa. Sebesar 70,72 persen dari populasi ini merupakan penduduk usia 15-64 tahun. Namun upaya memetik bonus demografiterhalang oleh pandemi.Di saat jumah penduduk usia produktif melimpah, pertumbuhan ekonomi justru merosot tajam.

Dwina Wardhani Nasution, S.ST, Statistisi di Badan Pusat Statistik Kabupaten Buton

Bonus demografi terjadi apabila jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Perubahan struktur penduduk ini membuat rasio ketergantungan semakin rendah.Halini juga mengakibatkan perubahan pola konsumsi dan produksi. Dari perspektif pembangunan ekonomi, penyerapan penduduk usia produktif oleh pasar kerja merupakan faktor produksi yang sangat penting dalam meningkatkan produktivitas ekonomi.

Dominasi Generasi Z dan Bonus Demografi Fase II

Struktur penduduk dengan jumlah usia produktif yang besar merupakan salah satu modal pembangunan. Hasil SP2020 menunjukkan mayoritas penduduk Indonesia didominasi oleh Generasi Z dan Generasi Milenial. Proporsi Generasi Z sebanyak 27,94 persen danGenerasi Milenial sebanyak 25,87 persen dari total populasi Indonesia.

Dari sisi demografi, seluruh Generasi X dan Generasi Milenial merupakan penduduk yang berada pada kelompok usia produktif pada tahun 2020. Sedangkan Generasi Z masih terdiri dari penduduk usia belum produktif dan produktif. Sekitar tujuh tahun lagi, Generasi Z ini akan berada pada kelompok penduduk usia produktif. Berdasarkan pengklasifikasian William H. Frey, Generasi Z merupakan penduduk yang lahir dalam rentang tahun 1997-2012. Itu berarti, perkiraan usia sekarang 8-23 tahun. Menariknya, saat ini usia ini merupakan usia sekolah yang berada pada jenjang Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.

Hal ini menjadi peluang dan tantangan bagi Indonesia dalam mempersiapkan Generasi Z. Sebab generasi inilah yang akan menjadi aktor utama dalam menentukan masa depan Indonesia. Peran sektor pendidikan tentu sangat krusial dalam mengoptimalkan kualitas Generasi Z yang jumlahnya mencapai74,93 juta jiwa ini.

Salah satu cermin pembangunan yang telah dicapai oleh Indonesiaadalah meningkatnya usia harapan hidup. Konsekuensinya,terjadi peningkatan persentase penduduk lanjut usia atau lansia (60 tahun ke atas). Berdasarkan hasil SP2010 persentase penduduk lansia Indonesia meningkat menjadi 9,78 persen di tahun 2020 dari 7,59 persen pada 2010.

Di masa yang akan datang, proporsi penduduk lanjut usia akan semakin tinggi. Jumlah lansia diprediksi meningkat tiga kali lipat pada 2045 menjadi 63,31 juta (19,85 persen). Kondisi ini menunjukkan bahwa pada tahun 2020 Indonesia berada dalam masa transisi menuju era ageing population yaitu ketika persentase penduduk usia 60 tahun keatas mencapai lebih dari 10 persen.

Meskipun Indonesia sedangberada dalam periode puncak bonus demografi, tetapi Indonesia harus mulai mempersiapkan diri untuk memasuki masa transisi menuju ageing population. Pemerintah perlu mempersiapkan kebijakan-kebijakan pembangunan yang responsif terhadap kondisi kependudukan di Indonesia. Jika penduduk lansia tersebut memiliki kesehatan, pendidikan, dan keterampilan yang memadai, serta dapat terus berkontribusi dalam perekonomian, maka kelompok penduduk tersebut berpeluang membuka jendela kesempatan untuk memperoleh bonus demografi fase kedua di masa yang akan datang.

Menanggulangi Dampak Pandemi
Pandemi Covid-19 mengakibatkan krisis kesehatan yang menular menjadi krisis sosial ekonomi. Keberadaan pandemi ini turut menghambat berbagai program pemerintah. Tak terkecuali program Keluarga Berencana. Akses masyarakat menuju fasilitas kesehatan (faskes) menjadi terbatas. Para akseptor KB menunda datang ke faskes karena takut tertular Covid-19 atau karena penerapan pembatasan sosial. Selain itu, banyaknya faskes penyedia layanan kontrasepsi tutup karena belum sepenuhnya memiliki sarana pencegahan penularan Covid-19 yang memadai. Ditambah lagi sebagian besar tenaga medis dikerahkan untuk penanganan pandemi.

Hal ini berpotensi meningkatkan ledakan penduduk dan dapat memperpendek periode puncak bonus demografi. Terjadinya lonjakan Kehamilan yang Tidak Diinginkan selama masa pandemi dapat menimbulkan persoalan baru seperti stunting serta angka kematian ibu dan bayi. Kualitas generasi yang lahir pada masa pandemi pun berpotensi menurun akibat keterbatasan akses pemberian imunisasi dasar.

Berdasarkan proyeksi SUPAS 2015, bonus demografi mulai terbuka pada tahun 2012 dan tertutup pada 2036. Itu artinya hampir 10 tahun Indonesia mengalami fase bonus demografi. Dan dalam kurun waktu 15 tahun mendatang, keadaan justru akan berbalik. Perlahan tetapi pasti, angka ketergantungan semakin meningkat.

Hal ini akibat pergeseran kelompok usia muda masa kini yang akan menjadi kelompok lansia. Jika pandemi masih terus berlanjut, kelompok lansia tentu juga perlu mendapat perhatian lebih. Sebab, kelompok penduduk ini memiliki tingkat fatalitas yang paling tinggi jika terpapar Covid-19.Karenanya aspek kesehatan menjadi hal yang paling dikedepankan dalam upaya menanggulangi dampak pandemi.

Dari aspek pendidikan, optimalisasi kualitas pendidikan dan keterampilan di tengah pandemi memiliki tantangan tersendiri. Keberadaan pandemi memang memaksa setiap orang agar cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Namun penyesuaian metode pembelajaran tak harus berbasis digital, tapi juga non digital.

Sebab, masih banyak siswa dan mahasiswa yang tidak memiliki gadget atau komputer. Disamping itu akses internet masih terbatas pada wilayah perkotaan. Sementara di pedesaan, pelaku pendidikan harus menerapkan strategi ‘jemput bola’ demi menjamin keberlangsungan proses belajar mengajar.

Persoalan lain yang perludiantisipasi adalah meningkatnya angka putus sekolah. Terputusnya waktu belajar ditambah lagi himpitan ekonomi dapat mengurangi motivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan. Jika angka putus sekolah naik, maka capaian dimensi pendidikan dari IPM akan menurun. Hal ini berpengaruh pada kinerja pembangunan manusia secara keseluruhan.

Dampak lain dari pandemi adalah penambahan pengangguran yang sulit dihindari. Banyaknya PHK, pengurangan jam kerja dan upah, serta pekerja yang dirumahkan merupakan wajah dunia ketenagakerjaan saat ini. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional(Sakernas) mencatat Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Agustus 2020 sebesar 7,07 persen, meningkat 1,84 persen poin dibandingkan Agustus 2019.

Untuk menanggulangi persoalan ini, pemerintah pusat maupun daerah dapat memanfaatan dana desa untuk pemberdayaan masyarakat serta membangun kesempatan kerja denganperluasan pendidikan vokasi dan pelatihan tenaga kerja. Keberlangsungan UMKM juga harusterus dijaga dengan penyesuaian kebijakan fiskal.

Dari sisi pengusaha, peluang ekonomi di masa pandemi dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Banyak bisnis yang saat ini justru berjaya, seperti usaha alat sanitasi, pelindung diri, vitamindan jamu, makanan beku atau makanan siap saji hingga bisnis tanaman hias. Selain itu, memberikan jasa berupa bimbingan belajar atau pelatihan kompetensi hingga konsultasi secara daring juga menjadi tren bisnis masa kini.

Generasi muda juga dituntut tidak hanya berorientasi pada pencarian lapangan kerja tapi lebih kepada berwirausaha dan menciptakan lapangan kerja. Selain itu tidak hanya mapan secara finansial di masa kini tapi juga mulai berinvestasiuntuk masa tuanya nanti. Pada akhirnya pelayanan dasar menyangkut penduduk, seperti kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan, semua berangkat dari data konkret kependudukan.

Ketersediaan dataibarat pintu masuk bagi rumusan kebijakan di berbagai sektor. Dengan adanya data yang akurat, pemerintah dapat memberikan respon kebijakan yang tepat. Upaya meraih bonus demografi sekaligus menanggulangi pandemi pun akan membuahkan hasil jika seluruh pihakbekerja sama dan menjalin kolaborasi yang baik. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy