Penderita Komorbid Tak Boleh Divaksin

KENDARIPOS.CO.ID — Pemprov Sultra telah menerima 20.400 dosis vaksin Covid-19 merek Sinovac Biotech. Rencananya vaksin itu diprioritaskan untuk tenaga kesehatan yang berjuang di garis depan menangkal Covid-19. Untuk masyarakat, nanti pada tahap berikutnya.

Nah, soal vaksinasi ini, rupanya ada kelompok tertentu yang tak dapat divaksinasi. Mereka adalah para penderita komorbid atau yang memiliki penyakit penyerta.

Plt.Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi, Hj. Usnia membenarkan hal itu.

Bahkan terdapat rekomendasi yang berisi daftar penderita penyakit komorbid yang tidak bisa atau belum layak mendapatkan vaksin Covid-19. “Sehingga untuk menghindari kemungkinan terburuk, orang yang memiliki penyakit penyerta sebisa mungkin tetap di rumah dan meminimalisir kontak dengan lingkungan luar,” ujar Hj. Usnia kepada Kendari Pos, Rabu (6/1) kemarin.

Kendati vaksin diprioritaskan bagi tenaga kesehatan (Nakes) namun jika memiliki penyakit komorbid maka tidak akan divaksinasi.
Bukan hanya itu, masyarakat yang memiliki riwayat penyakit komorbid tidak dapat diikutkan dalam vaksinasi (lihat grafis).

“Makanya ada aplikasi yang disiapkan Kemenkes yang didalamnya sudah masuk sekira 17 ribu lebih nakes di Sultra, nanti mereka bakal menerima pesan, diterima sebagai penerima vaksinasi. Dan jika mereka tidak menerima pesan, berarti tidak masuk kategori yang akan divaksin,”jelas Hj.Usnia.

Dalam video konferensi dengan pemerintah pusat, belum ada keputusan pasti kapan vaksin ini akan disalurkan. Dinkes Sultra masih menunggu informasi lebih lanjut. “Saya berharap dengan adanya vaksin ini, nantinya masyarakat bisa segera menerima semua. Sehingga masyarakat kita bisa sehat, bahkan pandemi bisa hilang khususnya wilayah Sultra,”pungkas Hj.Usnia.

Sementara itu, Gubernur dan Wakil Gubernur Sultra, Ali Mazi-Lukman Abunawas (Aman) siap menjadi yang pertama di vaksin. Ali Mazi, mengaku harus memberi contoh kepada masyarakat. Upaya ini untuk menghilangkan pandangan negatif mengenai vaksinasi yang bakal dilakukan secara massal ini. “Kita memang harus komitmen memberikan contoh pada masyarakat. Jadi bagi kita itu tidak ada masalah,” ujarnya kepada Kendari Pos.

Tetapi, kata dia, terdapat ketentuan-ketentuan khusus terkait prosedur usia bagi penerima vaksin. Tidak diperuntukkan untuk usia lanjut atau 58 tahun ke atas. “Jadi mereka diusia itu tidak diperkenankan menerima vaksin covid lebih awal. Bukan berarti apa-apa, artinya kan diberikan dulu bagi mereka yang fisiknya kuat-kuat di usia 18 sampai 58 tahun,” ucapnya.

Terpisah, Wakil Gubernur Sultra, Lukman Abunawas mengaku siap bila memang di minta dan ada arahan dia menjadi percontohan untuk di vaksin pertama di Sultra. “Tentu ini kita sambut baik karena insya Allah ini kalau sudah di vaksin mempunyai kekebalan, daya tahan untuk di vaksin Corona. Kalau saya diminta menjadi yang pertama di vaksin untuk wilayah Sultra tidak ada masalah, saya siap,”tegas Lukman.

Sebelumnya, pakar epidemiologi Sultra Dr. Erwin Jayadipraja mengatakan berakhirnya pandemik corona masih sulit diprediksi dan masih mengintai kehidupan masyarakat. “Adanya vaksin yang di programkan pemerintah sebagai solusi meningkatkan kekebalan tubuh manusia,” ujarnya kepada Kendari Pos.

Dosen Pascasarjana Universitas Mandala Waluya itu menjelaskan vaksin berfungsi untuk memperkuat imun manusia sehingga ketika terjadi invasi virus pada tubuh, maka kerja vaksin menangkalnya, mereduksi, atau menghancurkannya. Vaksin memperkuat kekebalan tubuh.

Ketika ada virus menyerang maka tubuh mendeteksi dan mengenalinya. Sehingga tidak akan memengaruhi kesehatan tubuh karena sudah ada vaksin yang menangkalnya. “Tetaplah konsisten menerapkan prokes secara maksimal agar terjaga dari paparan Covid,” tandas Dr. Erwin Jayadipraja. (rah/ali/b)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *