Kota Kendari dan La Rochelle Perancis Menuju Kota Kembar, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Kota Kendari dan La Rochelle Perancis Menuju Kota Kembar, Oleh : Prof. Hanna




KENDARIPOS.CO.ID — Beberapa hari yang lalu untuk pertama kali saya mencoba melewati Jembatan Teluk Kendari. Dari atas jembatan, saya memandangi Kota Kendari dan melihat beberapa deretan perahu rakyat tertambat. Terlintas ingatan saya dengan salah satu kota di Perancis yakni La Rochelle, tempat saya dan beberapa teman melakukan kegiatan akademis beberapa tahun lalu.

Mengapa saya teringat dengan kota La Rocchelle ini karena struktur tata kota yang begitu indah, dan sangat artistik apalagi dalam kondisi saat ini Kota Kendari menjadi pembicaraan masyarakat dengan hadirnya Jembatan Teluk Kendari. Sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, pembangunan fisik lainnya di Kota Kendari sangat pesat.

Prof. Hanna

Kalau pembaca sempat mengunjungi kota La Rocchelle dan memperhatikan penataan kota, mungkin akan sepikiran dengan saya. La Rochelle adalah sebuah kota di pantai barat tengah Perancis dengan 75.735 penduduk pada tahun 2017, terletak di tepi Samudra Atlantik. Kota ini terhubung dengan jembatan sepanjang 2,9 kilometer (1,8 mil) yang diselesaikan pada tanggal 19 Mei 1988.

Hingga hari ini, kota ini masih memiliki kekayaan sejarah, termasuk menara Saint Nicolas, dan warisan kota lama. Aktivitas perkotaannya beragam dan sangat bervariasi. Kota dengan pelabuhan dan industri menambah keindahan kota itu dengan memiliki sektor administrasi dan tersier yang dominan diperkuat oleh universitasnya dan industri pariwisata yang berkembang pesat Dalam beberapa tahun terakhir, kota ini secara konsisten menempati peringkat tertingi di antara kota-kota paling layak huni di Perancis.

Kendari adalah nama kotamadya dan juga sebagai ibukota dari Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia diresmikan sebagai kotamadya dengan UU RI No. 6 Tahun 1995 tanggal 27 September 1995. Kota ini memiliki luas 296,00 km² dan berpenduduk 392.830 jiwa.

Beberapa tahun terakhir ini Kota Kendari banyak diceritakan orang mulai dari sistem pemerintahan, politik ekonomi maupun kehidupan masyarakatnya yang sangat majemuk. Cerita itu tentu saja sebagai wujud rasa cinta masyarakat terhadap Kota Kendari yang dijuluki Kota Bertaqwa. Tidak terlepas dari sejarahnya sebagai kota yang dikagumi oleh Eropa dengan keindahannya, maka tidak heran dalam beberapa tahun ini Pemerintah Kota Kendari memaksimalkan pembangunan di pesisir pantai yang mengakibatkan bermunculan obkek-objek dan destinasi wisata bahari yang sangat menarik diperbincangkan karena akan menambah income masyarakat kota Kendari.

Wisata bahari tetap akan jadi prioritas pemasukan daerah dengan tetap memperhatikan masyarakat lokal. Pariwisata adalah salah satu sektor penting bagi pembangunan ekonomi nasional. Kendari memiliki peluang mengembangkan kawasan wisata bahari melihat geografi menjadi keunggulan.

Semua kekayaan alam ini mesti diberdayakan agar meningkatkan pemasukan darah tetapi yang paling penting adalah menyediakan lapangan kerja baru. Namun, pemberdayaannya mesti mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya dan ekosistemnya hingga menjamin kehidupan masyarakat lokal. Hal ini tentu saja melibatkan masyarakat sebagai pelaku industri wisata bahari dengan tetap menjaga lingkungan laut dan pesisir akibat tindakan masyarakat yang membuang sampah plastik sembarangan sehingga mengancam kehidupan fauna dan flora laut jenis mamalia dan ekosistem terumbu karang.

Pendekatannya, pertama, pengembangan wisata bahari sebaiknya berorientasi dan menitikberatkan aktivitas padat karya (labour intensive) ketimbang padat modal (capital intesive). Usaha wisata bahari diharapkan mengurangi pengangguran lewat penyediaan dan penyerapan tenaga kerja baru.

Kedua, kepemilikan akses maupun aset serta kontrol terhadap sumber daya wisata bahari mengedepankan masyarakat lokal (endogen) ketimbang korporasi. Artinya, prinsip kolektif-deliberatif dan pengelolaan partisipatif berbasiskan masyarakat lokal lebih diutamakan ketimbang pihak luar. Hal ini bakal mendorong inovasi dan kreasi masyarakat lokal untuk menjadi tuan di negeri sendiri. Apalagi didukung sistem digital sehingga akan menyejahterakan hidupnya secara berkualitas dan menciptakan keadilan distribusi ruang, sumber daya maupun sosial.

Ketiga, dikarenakan pendekatan degrowth berorientasi padat karya, pengembangan usaha wisatanya berskala usaha kecil dan menengah ketimbang usaha besar. Model kelembagaannya ialah usaha kecil (termasuk BUMDes), menengah, dan koperasi. Peran pemerintah ialah menyediakan skema permodalan dan kebijakan afirmatif (insentif pajak, perizinan dan pelatihan SDM profesional) sehingga memperkuat kapasitas sumber daya manusianya di level lokal untuk mengelola wisata

Sektor pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Seperti halnya dengan sektor lainnya, pariwisata juga berpengaruh terhadap perekonomian di suatu daerah atau negara tujuan wisata.

Katakanlah Kendari Beach dan pantai Nambo yang memang sudah lama menjadi ikon kota ini. Destinasi yang saya katakan baru bermunculan dengan hadirnya beberapa destinasi baru seperti tambat labuh, sungai kadia, bungkutoko, water front Kendari suatu pemadngan yang sangat menarik. Paling ramai dikunjungi saat ini adalah kali jodoh atau masyarakatnya menyebut kali biru yang berlokasi di wilayah Pelindo Bungkutoko.

Tentu saja masyarakat yang tadinya hanya menunggu hasil tangkapan ikan secara tradisional ternyata hadirnya destinasi baru tersebut mendongkrak penghasilan masyarakat semakin meningkat. Saya punya pengalaman saat mengikuti pelatihan di Kucing Malaysia, saya terkesan dengan restoran Perahu yang mengelilingi sungai dengan beberapa destinasi. Restoran perahu ini sangat disenangi oleh wisatawan asing. Sambil menghadiri rapat, mereka dapat menyaksikan pemandangan kota Kucing di malam hari ibarat dalam kapal pesiar.

Sekarang pemerintah Kota Kendari telah membangun wadah destinasi pariwisata bahari yang alami. Katakanlah kita berinovasi meniru cara pengusaha dari Malaysia ini dengan restoran perahunya. Kita dapat mengambil titik star dengan rute di jembatan Kuning Bungkutoko mengelilingi water front Kendari dengan menyaksikan pemandangan nelayan memancing ikan di teluk Kendari di malam hari, atau dengan cara lain mengelilingi teluk Kendari, tentu saja harapan kita adalah menjaga ekosistem laut agar tetap bersih. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy