Jingga di Ujung Senja, Oleh : Annisah Andi Achmad

KENDARIPOS.CO.ID — Malam itu Camilia, salah satu teman kami sedang berulang tahun. Bagi kami ulang tahun adalah pesta dan pesta adalah kebebasan. Bau minuman keras menyeruak tajam dalam sebuah ruangan private yang telah disewa oleh Camilia. Cahaya lampu berpendar-pendar mengiringi alunan musik yang menghentak-hentak.

Di depan meja bar aku telah menghabiskan tiga gelas minuman yang disodorkan oleh Yuda. Pemuda yang diperkenalkan Camilia kepadaku seminggu sebelum dia berulang tahun. Kami berbincang ehhh bukan tepatnya kami saling berteriak ketika berbicara mengimbangi suara musik yang semakin tinggi.

Malam semakin larut, obrolan semakin hangat. Perlahan tapi pasti, Yuda mulai mendekatkan dan selanjutnya merapatkan tubuhnya kepadaku. Dalam hitungan menit kami sudah berpindah tempat untuk menikmati sisa malam. Berdua saja.

Sama dengan malam-malam sebelumnya yang aku habiskan bersama Dany. Sama dengan malam-malam sebelumnya yang aku habiskan bersama Rio. Sama dengan malam-malam sebelumnya yang aku habiskan bersama seorang lelaki bule dan malam-malam lain yang aku habiskan bersama lelaki yang aku pilih sesuka hati. Hidup hanya sekali dan bukankah harus dinikmati ???


“Bu, silahkan membaca berkas ini dengan teliti sebelum ditanda tangani”

Suara seorang perempuan muda berjilbab syari membuyarkan lamunanku pada jejak peristiwa belasan tahun lalu. Waktu dimana aku menghabiskan hari demi hari dengan prinsip hidup merdeka semau gue.
“Baik, mba”, aku mencoba tersenyum dan mulai membaca satu persatu berkas perjanjian yang tesusun rapi dalam selembar map batik.

Dengan perlahan aku membubuhkan tandatangan dan kembali menyerahkan berkas kepada wanita muda itu. Selanjutnya dia membisikkan beberapa kalimat yang aku jawab dengan anggukan kepala tanda setuju.

Hatiku berdesir dengan rasa yang sulit terdefenisikan. Akhirnya waktu ini tiba juga. Waktu yang selama belasan tahun aku nantikan. Matahari di luar sana bersinar malu-malu setelah beberapa saat yang lalu hujan mengguyur tanah. Dengan perlahan aku menarik nafas panjang sebelum melangkahkan kaki ke sebuah ruangan sederhana berukuran 4×4 meter.

Dadaku terasa sesak seperti tertindih ribuan ton besi yang tiba-tiba membuat langkahku terhenti. Kakiku dingin dan bergetar. Airmataku tumpah tanpa kendali ketika dibalik pintu kayu bercat hijau, aku menyaksikan seorang anak laki-laki berumur 12 tahun sedang menyetor hapalan Al-Quran kepada seorang lelaki paruh baya berwajah teduh yang memakai gamis putih.

Sama dengan anak-anak lain yang berada dalam ruangan itu. Mereka juga telah menyetor bacaan Al-Quran. Bedanya, anak laki-laki berbaju koko putih dengan sulaman coklat itu menyetor hapalan Al-Quran dengan mata yang tidak sepenuhnya terbuka. Kedua bola matanya hanya nampak segaris. Ternyata dia tak dapat melihat, dia buta.

Dia adalah anak laki-laki yang kutitip 12 tahun yang lalu di pondok pesantren sederhana ini. Anak yang lahir dari rahimku sebagai hasil pergaulan di malam-malam yang penuh kebebasan. Anak yang mungkin hanya aku dan Tuhan yang tau siapa ayah biologisnya. Wanita macam apa aku?. (KP)

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.