Jangan “Meoti-oti” di Hadapan Allah, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Jangan “Meoti-oti” di Hadapan Allah, Oleh : La Ode Diada Nebansi


KENDARIPOS.CO.ID — Terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir. Maka, berpikirlah saya. Karena itu, kamu juga mestinya berpikir. Berpikirlah saat bertemu kepala daerah.Misalnya, diundang gubernur.Kira-kira satu dua jam sebelum waktu bertemu, saya sudah stand by di kursi tunggu. Menunggu kalau-kalau ada panggilan.

La Ode Diada Nebansi

Kenapa segitu sigap dan cepatnya kamu stand by di ruang tunggu? Karena, saya tahu, gubernur, bupati dan wali kota, apalagi presiden, adalah tempat meminta. Meminta apa saja bisa. Andai status “Maha Pemberi” itu bukan hak Tuhan, mestinya merekalah yang berhak. Kenapa? Ya, minta kedudukan ada jabatan, minta uang ada proyek, minta apa saja: bisa.

Oleh karena kepala daerah juga punya air liur, punya adrenalin, bisa senyum ketawa, bisa cemberut marah, maka permintaanmu akan dilayani jika kepala daerah mengenalmu dengan baik, kepala daerah senang dengan kamu, suka dengan kamu, dan seterusnya. Oh, kalau gitu, pikirkan juga bagaimana agar Allah mengenalmu, suka dengan kamu, senang melihatmu, kamu akrab Dengan-Nya.

Terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir.
Berpikirlah saya bagaimana caranya akrab dengan kepala daerah.
Berpikirlah saya, bagaimana agar kepala daerah senang dengan saya.
Oooowww, caranya harus mendekat. Harus dikenal. Harus membuat nilai positif di hadapannya. Kalau kepala daerah kita anggap sebagai sosok pemberi apa saja, maka siapapun kita akan sepakat: jangan kecewakan kepala daerah. Senangkan dia. Dan, seterusnya.

Terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir.
Berpikirlah saya. Diundang kepala daerah saja, satu dua jam sudah stand by.
Itupun belum tentu ada.
Lah, kenapa kamu dipanggil Allah tak se-sregep dipanggil gubernur?
Allah memanggilmu: Allah bilang: “Datanglah Mengambil Kemenangan”.
“Kodatang sini SAYA Kasiko Kebahagiaan”.
Kamu cuek. Kamu memilih plirit urut kartu karena posisi kartumu: Yoker Cari Teman.
Dalam hatimu: Ah, jammiii, iniheee, yoker cari teman. Sebentar lagi gem dan menang.

Berpikirlah saya. Kepala daerah yang bisa memberi tak boleh dibuat tersinggung, bagaimana lagi dengan Sang Maha Pemberi, Maha Kuasa, Maha segala-galanya? Jangan kamu buat Allah tersinggung. Tapi, kayanya, Allah tak mungkin tersinggung dengan ulah makhluk yang Ia ciptakan sendiri.

Seperti juga saya, tak mungkin tersinggung dengan gerakan robot yang saya buat sendiri. Tak mungkin saya tersinggung dengan layang-layang yang saya terbangkan lalu menukik tajam dan merusak bunga kesayangan mamanya anak-anak yang dibeli mahal yang orang-orang sebut “Janda Bolong” itu. Tak mungkin tersinggung.

Berpikirlah saya.
Jangan samakan layang-layang dengan manusia walaupun sama-sama diciptakan.
Jangan membandingkan ciptaan Allah dengan ciptaanmu. Jangan. Kalau kamu membandingkan ciptaan Allah dengan ciptaanmu, maka Allah bukan saja tersinggung tapi juga murka. Kenapa? Efeknya berat. Misalnya, ciptaan Allah membuat ulah dengan merusak lingkungan. Jika Allah tak tersinggung dengan ulah ciptaannya, maka kehancuran di ambang pintu. Kehancuran apapun bisa terjadi, oleh karena tak ada peringatan.

Misalnya, manusia nekat menerbangkan pesawat yang tak layak lagi terbang. Akhirnya, menukik jatuh. Misalnya, manusia nekat menebas gunung-gunung untuk dijual kayu hutan dan nikelnya, akhirnya banjir menggenangi beberapa wilayah. Sudah diingatkan lebih awal oleh Allah melalui Al-Quran, tapi kamu tak gubris.

Ciptaan Allah merusak ciptaan Allah.
Manusia merusak gunung. Bukankah Allah sudah memberitahumu bahwa gunung itu untuk pasak bumi. Tapi, kamu ngeyel.

Ciptaan Allah merusak ciptaan Allah.
Manusia merusak hutan.
Kenapa kamu merasa enteng dan merasa tak bersalah saat merusak hutan?
Kenapa kamu tak merasa bersalah menebas gunung.
Tak merasa salah menggali tanah merah?

Ya, karena kamu kira, hutan, gunung, hamparan tanah merah itu adalah harta tak bertuan dan tak ada yang miliki. Perasaan yang sama, seperti juga kamu tak merasa berdosa, tak merasa salah bahkan ada rasa senang ketika kamu dan kalian berhasil menggondol sebagian APBN atau APBD. Kenapa? Karena kalian merasa, APBD, APBN adalah duit yang tak bertuan. Aleee, keliru bosuuu.

Gunung, Hutan, Tanah, Air, ABPD, APBN itu milik Allah yang kita-kitami ini menyebutnya “Milik Rakyat”. Jangan ya. Eling bro. Jangan sampai Allah tersinggung.
Terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir. Ketika presiden, gubernur atau bupati tersinggung kepada kita dan memerintahkan ajudan untuk menghardik kita, maka dengan hentakan kaki ajudan, rasanya jantung mau copot. Dan, takutnya minta ampun.

Berpikirlah saya. Ketika Allah tersinggung dan memerintahkan malaikat untuk menghardik kita, maka, kira-kira kalau dia kore sedikit saja ini bumi dengan jari kelingkingnya, bisa taguling-guling hancur ini dunia.

Berpikirlah saya, tsunami Aceh kira-kira peringatan Allah. Gempa bumi juga peringatan Allah. Banjir juga begitu. Pesawat jatuh, juga begitu. Lalu, meminta dan memohon-mohonlah kita kepada Allah. Seperti juga 300-an masjid di Kota Kendari yang kemarin menggelar zikir akbar, menolak balaa, agar bencana yang melanda Sulbar tak terjadi di Sultra.

Berpikirlah saya. Allah akan menerima permohonanmu dengan catatan, hindari apa yang dilarang Allah. Sekali Allah melarang, tetap terlarang. Allah bukan kepala daerah. Jika kita melanggar anjuran kepala daerah, maka dengan meoti-oti sekalipun, boleh jadi luluh rasa marahnya sang gubernur, bupati, walikota. Tapi, Allah adalah Rabb-mu. Allah tahu, kamu meoti-oti (berkamuflase) atau sungguhan karena Allah Maha Mengetahui yang gaib dan zohir. Jangan meoti-oti di hadapan Allah. (nebansi@yahoo.com)

Berpikirlah Saya

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy