Ide Kreatif Kunci Survive Swiss-Belhotel di Tengah Pandemi – Kendari Pos
Nasional

Ide Kreatif Kunci Survive Swiss-Belhotel di Tengah Pandemi


KENDARIPOS.CO.ID — Terpaan badai pandemi Covid-19 memengaruhi tingkat hunian (okupansi) hotel di Kota Kendari. Bahkan, okupansi hotel anjlok hingga nol persen. Tak sedikit karyawan hotel terpaksa dirumahkan. April 2019 lalu, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sultra mencatat lebih dari seribu karyawan hotel dan restoran dirumahkan.

Direktur Utama Kendari Pos, Irwan Zainuddin (dua dari kiri), General Manager Swiss BelHotel, Firman Hidayat (tiga dari kanan) dan jajarannya bersama Pemimpin Redaksi Kendari Pos, Inong Saputra (kiri), Biro Direksi Kendari Pos, Sawaluddin Lakawa (kanan), serta Manajer Iklan Kendari Pos Awal Nurjadin (dua dari kanan) usai acara Bincang Pagi Kendari Pos Channel, Kamis (14/1) kemarin

Tak ingin tergerus dengan keadaan, sejumlah hotel berusaha survive dari tantangan berat tersebut. Manajemen Swiss-Belhotel Kendari, satu-satunya hotel bintang empat bertaraf internasional di Sultra menggerakkan segala sumber daya yang dimiliki untuk mempertahankan bisnisnya.

Berkat ide-ide kreatif dan bantuan berbagai pihak, bisnis Swiss-Belhotel Kendari semakin pulih. Okupansi kian membaik. Swiss-Belhotel Kendari kini menatap dan menjemput optimisme pemulihan ekonomi dari balik “badai” bernama pandemi Covid-19.

General Manager Swiss-Belhotel Kendari, Firman Hidayat mengatakan, dampak pandemi sangat dirasakan Swiss-Belhotel saat Covid-19 pertama mewabah di Sultra, Maret 2020. Okupansi hotel yang sempat menyentuh angka 100 persen, menurun drastis hingga tersisa hanya 10 persen. “Dampaknya luar biasa. Waktu kasus pertama diumumkan, tiba-tiba banyak tamu yang check out dan okupansi tinggal 10 persen,” ujar Firman Hidayat saat menjadi pembicara Bincang Pagi Kendari Pos Channel, Kamis (14/1) kemarin.

Firman mencoba menguatkan diri secara psikologis dalam situasi yang berat. Ada tanggung jawab besar yang dipikulnya. Dengan bantuan tim Swiss-Belhotel Kendari, berbagai ide kreatif mulai diaplikasikan selama pandemi. Hal pertama yang dilakukan yaitu mengidentifikasi lembaga-lembaga pemerintah yang masih memiliki agenda rapat di tahun 2020. “Tamu kita memang kebanyakan dari government (pemerintah). Kita identifikasi mana yang masih ada rencana meeting dan kita lakukan pendekatan secara personal. Langkah ini cukup berhasil. Beberapa government akhirnya menggelar meeting di hotel. Tentu dengan protokol kesehatan yang ketat,” bebernya.

Kata Firman, larangan berkumpul menyebabkan Swiss-Belhotel kehilangan sumber pendapatan. Sebab, tak ada lagi acara wedding dan seminar-seminar besar yang diselenggarakan di hotel. Kendati begitu, Firman memaklumi bahwa yang dilakukan pemerintah semata untuk kepentingan yang lebih besar.

“Kami memahami bahwa regulasi itu demi kebaikan masyarakat luas. Sumber revenue kami pada saat itu banyak yang hilang. Tapi saya percaya, pasti akan ada ganti yang lebih baik,” imbuhnya.

Kesabaran tersebut berbuah manis. Di akhir tahun 2020, ketika pemerintah mulai melonggarkan aktivitas masyarakat, permintaan terhadap paket wedding Swiss-Belhotel Kendari meningkat tajam. Berbagai agenda yang diselenggarakan di hotel makin menumpuk. Bahkan, event besar pertama dari pemerintah digelar di Swiss-Belhotel Kendari. Permintaan penggunaan jasa hotel untuk berbagai event terus berdatangan.

“Saya merasa bahwa ini berkah yang tertunda. Saya juga sangat mengapresiasi bantuan dari berbagai kenalan dan teman-teman yang membuat saya bertahan sampai hari ini,” tuturnya.

Kepercayaan dari berbagai pihak untuk menggunakan jasa Swiss-Belhotel Kendari tidak datang dengan sendirinya. Jauh sebelumnya, ketika awal pandemi, manajemen Swiss-Belhotel beradaptasi dan meningkatkan pelayanan terutama dari segi kebersihan. Swiss-Belhotel Kendari merupakan hotel pertama di Sultra yang memasang gate (gerbang) disinfektan untuk memastikan setiap pengunjung steril dari virus.

Selain itu, manajemen Swiss-Belhotel juga menyediakan masker gratis untuk semua tamu yang datang tanpa masker. Setiap kali tamu check out, petugas akan memasang alat sterilisasi selama 30 menit untuk membunuh kuman yang ada di udara. Untuk area-area high risk touch seperti receptionist counter, sofa, lift, dan lainnya, juga dibersihkan secara berkala.

Berbagai langkah tersebut mendapatkan pengakuan dari Sucofindo, tim audit dan verifikasi CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environment Sustainability) yang ditunjuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada medio November 2020.
Swiss-Belhotel Kendari memperoleh skor 100 persen dan menerima sertifikat kelayakan dan kepedulian hotel dan restoran terhadap empat unsur yang sudah ditetapkan yaitu kebersihan, kesehatan lingkungan, keselamatan kerja, dan penjagaan ekosistem lingkungan di area hotel dan sekitarnya.
“Dengan adanya Covid-19 ini membuat kami meningkatkan standar demi keamanan dan kenyamanan tamu. Kondisi ini akhirnya berkelanjutan,” ujarnya.

Firman mengakui, tekanan Covid-19 telah mendorong tim Swiss-Belhotel untuk berpikir lebih kreatif. Berbagai ide cemerlang berhasil dicetuskan. Mereka berusaha keras untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Menurutnya, tingkat hunian Swiss-Belhotel Kendari dapat tumbuh positif disebabkan berbagai faktor antara lain keagresifan tim sales dan, safety (tingkat keamanan) yang ditawarkan, support dari owner, dan berbagai pihak lainnya.

“2021 masih susah diprediksi. Namun, saya yakin bisnis akan jauh lebih baik dibandingkan 2020,” pungkasnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra mencatat, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Sultra pada November 2020 sebesar 40,29 persen atau naik 4,38 poin dibandingkan Oktober 2020 yang tercatat 35,91 persen. Meski menunjukkan penurunan 4,88 poin dibandingkan dengan November 2019 yang tercatat 45,17 persen, kondisi ini membawa angin segar bagi pemulihan bisnis perhotelan di Sultra.

Koordinator Fungsi Statistik Distribusi BPS Sultra, Surianti Toar mengatakan TPK hotel bintang di Sultra pada 2020 mengalami peningkatan secara tahunan hanya pada Januari dan Februari. Data November 2019 sampai November 2020, TPK tertinggi tercatat pada Februari 2020 sebesar 54,32 persen, sedangkan TPK terendah pada April 2020 sebesar 10,48 persen.

“Ini terjadi karena adanya pandemi Covid-19 yang membatasi pergerakan, baik pegawai maupun pengusaha untuk memanfaatkan fasilitas hotel yang ada di Sultra,” ujar Surianti, kemarin. (uli/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy