Ekspor Pertanian Sultra Masih Minim

Petani kol (kubis) di Konawe Selatan saat memindahkan hasil taninya ke mobil pengangkut, beberapa waktu lalu. Produk ini akan dipasarkan di Kota Kendari.

KENDARIPOS.CO.ID— Besi dan baja serta bermacam hasil laut masih menjadi komoditas unggulan ekspor Sulawesi Tenggara (Sultra). Sementara, ekspor produk pertanian masih minim.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Sultra pada November 2020 meningkat sebesar 39,17 persen dibandingkan Oktober 2020 yaitu dari 294,59 juta Dolar AS menjadi 409,97 juta Dolar AS. Secara kumulatif, total ekspor Sultra Januari-November 2020 tercatat 2.159,52 juta Dolar AS atau naik 236,65 persen dibanding periode yang sama tahun 2019. 

“Ekspor Sultra November 2020 didominasi oleh kelompok komoditas besi dan baja dengan nilai 406,33 juta Dolar AS. Selanjutnya kelompok komoditi ikan dan udang dengan nilai 1,97 juta dolar AS. Di urutan ketiga ada kelompok komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah di urutan ketiga dengan nilai 0,70 juta Dolar AS,” ungkap Koordinator Fungsi Statistik Distribusi BPS Sultra, Surianti Toar, kemarin. 

Lanjut dia, kenaikan terbesar ekspor Sultra terjadi pada kelompok besi dan baja senilai 116,78 juta Dolar AS atau sebesar 40,33 persen. Dari sisi pertumbuhan kumulatif Januari-November 2020, ekspor lima golongan barang utama naik 74,71 persen terhadap periode yang sama tahun 2019.

Secara kumulatif Januari-November 2020, negara tujuan ekspor utama Sultra yaitu Tiongkok, India, Korea Selatan, Taiwan, dan Amerika Serikat masing-masing dengan nilai 2,041 miliar Dolar AS, 79,64 juta Dolar AS, 15,09 juta Dolar AS, 1,21 juta Dolar AS, dan 10,79 juta Dolar AS. Peranan kelima negara tersebut mencapai 99,46 persen dari total ekspor Sultra pada periode Januari-November 2020. Naiknya ekspor Sultra pada November 2020 dibanding Oktober dipengaruhi oleh naiknya ekspor ke Tiongkok. Ekspor ke Tiongkok naik sebesar 41,89 persen atau senilai 116,98 juta Dolar AS.

Surianti menyebut, menurut sektor ekonomi, ekspor Sultra November 2020 didominasi oleh industri pengolahan sebesar 408,36 juta Dolar AS (99,61 persen) dan sisanya sektor pertanian 1,61 juta Dolar AS (0,39 persen). 

“Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor Januari-November 2020, ekspor produk industri pengolahan memberikan andil sebesar 99,49 persen, ekspor produk pertambangan 0,20 persen, dan sisanya 0,32 persen dari ekspor produk pertanian,” pungkasnya.

Dihubungi terpisah, Pengamat Ekonomi dari Universitas Halu Oleo (UHO), Dr Syamsir Nur menilai, Pemda perlu mendorong ekspor produk pertanian, perikanan, dan perkebunan dan tidak hanya fokus pada sektor pertambangan. Meskipun kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi tinggi, menurutnya, sektor ini tidak alamiah dan tidak inklusif. Sektor petanian, perkebunan, dan perikanan perlu dikembangkan menjadi kekuatan baru ekonomi Sultra bersanding dengan sektor pertambangan dan industri pengolahan yang lain. 

“Hilirisasi yang mulai dilakukan untuk beberapa komoditas perlu diperluas sehingga memberikan nilai tambah secara optimal,” tuturnya, kemarin. (uli/b)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *