Citra HRS Vs Citra Tuna Wisma, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Citra HRS Vs Citra Tuna Wisma, Oleh : La Ode Diada Nebansi


KENDARIPOS.CO.ID — Bilamana ada cita-cita jangka pendek, terutama angan-angan untuk merebut kekuasaan, pencitraan memang penting. Seseorang yang kita inginkan menjadi pemimpin, harus dicitrakan.

La Ode Diada Nebansi

Semangatnya kita citrakan.
Kebaikannya kita citrakan.
Kedermawanannya kita citrakan.
Ahlaknya kita citrakan.
Budi pekertinya kita citrakan.
Kecerdasannya kita citrakan.
Kemasyarakatannya kita citrakan. Dan lain sebagainya.

Ini di satu sisi. Di sisi yang lain, terutama dalam hal rivalitas, biarkan orang-orang yang berseberangan mencitrakan hal yang negatif tentang kita. Mari kita adu. Kita adu semangat, adu kebaikan, adu kedermawanan, adu ahlak, adu budi, adu pekerti, adu kecerdasan, dan seterusnya.

Terngianglah fase pencitraan sebelum-sebelumnya. Media-media melakukan framming. Hasilnya, luar biasa. Sukses. Tapi, tunggu dulu. Menggiring pemikiran masyarakat ketika itu sangat ampuh oleh karena keinginan mendapatkan berita secara nasional masih tersentral di televisi. Gampang diarahkan.

Sekarang, media sosial nyaris mengalahkan media-media mainstream dari sisi kecepatan akses informasinya. Benar atau tidak, ndak ada urusan bagi Medsos.
Itulah sebabnya, pencitraan zaman now, kalau tim kreatifnya tak jeli dan tak teliti merekayasa sebuah angle berita, hasilnya bisa berantakan.

Jangan lagi pencitraan dengan memikul karung di pelabuhan bongkar muat, karena kamu ketahuan. Jangankan mengangkat karung, HP, rokok dan maskermu saja dijinjingkan ajudan. Ketahuan.

Jangan juga pencitraan dengan naik bis kota atau angguna, karena kamu ketahuan ternyata, jangankan naik angguna, kendaraan pembantumu saja kalau ke pasar CC-nya setara dengan CC kendaraan pejabat eselon dua.

Mencari pencitraan dengan turun got, apalagi. Jangan. Kenapa? Sudah pernah ada pencitraan dalam got, jangan diulangi. Nanti dibilang ikut-ikut. Pokoknya, jangan diulangi kalau tak mau diketawai.

Jangan juga membuat pencitraan di perkotaan, di metropolitan, yang direkayasa karena wilayah-wilayah seperti ini biasanya, ramai dengan fakta, logika dan kebenaran. Misalnya begini. Kok tiba-tiba ada pemulung yang tidur-tiduran di bawah tembok pagar Rujab Gubernur? Ndak mungkinlah.

Fakta dan logikanya begini. Pagar rujab gubernuran itu bersih, tinggi, panjang dan jauuuh bentangannya. Tidak mungkin ada yang berani istirahat apalagi tidur-tiduran. Kalau ada pemulung istirahat di tempat itu, dipastikan tidak dapat garapan apa-apa dan bisa-bisa kelaparan. Kalau ada orang kaya beristirahat di sepanjang pagar rujab gubernur, dipastikan orang itu rada-rada stress.

Kalau ternyata ada pemulung atau tuna wisma tiba-tiba membentang kardus di emperan kantor DPRD lalu didatangi pejabat yang seolah-olah peduli, maka kesimpulannya, rekayasa. Bahasa Sultra-nya: ingke-ingkeho, atau wuti-wuti, dan pelakunya dipanggil La Cikolu.

Pencitraan memang penting. Perlu. Tapi, citra yang benar-benar citra. Misalnya begini: Seorang pejabat marah-marah di Kantor Catatan Sipil yang sudah menerapkan system online. “Setahuku, online itu kan untuk memudahkan biar nggak wara wiri, ke sono ke mari. Kalau masih harus ke kantor Capil, opo gunane online. Bayangkan kalau ada ibu-ibu sambil nggendong anaknya, naik angkutan dari kampung, hanya untuk urusan tetek bengek kayak gini, yoh kasian toh. Ninggalin pekerjaan, dan kalau ada apa-apa di jalan, apa kamu tanggung-jawab? Mbok ya miiikiiiir. Maaf yah, ta’pecat kamu”.

Menurut saya, ini benar-benar citra. Luar biasa. Saya sangat simpatik karenanya. Saya kira, kamu pun simpati. Dia pun simpati. Mereka juga simpati. Dan, semua simpati. Kenapa? Alami. Kalau toh direkayasa, maka merekayasalah seperti itu. Sempurna rekayasanya. Tapi, feeling saya: fakta.

Tapi, simpati itu seketika sirna ketika melihat adegan tuna wisma di ibu kota. Dalam hatiku, kenapa konyol begini. Kontennya masuk akal tapi adegannya yang membuat konyol. Bukankah urusan tuna wisma bukan saja urusan ibu kota. Tidak sedikit tuna wisma yang terlantar di daerah-daerah.

Mbok yao kamu menaruh peduli besar terhadap tuna wisma di daerah yang belum mendapat perhatian itu. Andai kamu marah-marah di daerah-daerah oleh karena tak adanya perhatian serius pemerintah daerah, saya kira: nilai 100 untuk regu A.
Dengan cara itu, saya yakin, nilai citranya akan melebih citra got, melebihi citra direcall dari menteri, melebih citra karena dikriminalisasi, dan seterusnya. Kalau kalian tak punya tenaga pemikir konten citra, silakan ke Tobuha.

Tahu ndak? Citra terbaik di masyarakat saat ini ada pada Habib Ryzieq Shihab (HRS). Seperti apa ceritanya, terasa panjang untuk ditulis. Yang pasti, andai Pemilihan Presiden digelar pekan atau bulan depan, persentase kemenangan HRS kira-kira seperti juga kemenangan seorang kandidat yang melawan DOS. Kenapa? Karena citra yang dikeluarkan HRS benar-benar alami dan menyentuh hati banyak orang. Alasannya? Alasannya karena setiap diskusi tentang HRS, lebih banyak yang simpati ketimbang yang nyinyir.

Di dunia nyata, begitu. Di dunia maya juga seperti itu. Kalau pun banyak yang nyinyir, saperhatikan too, alee rata-rata yang nyinyir akun palsu belaeee. Sudamina?(nebansi@yahoo.com)

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy