Bangkitkan Jiwa Patriotisme, IPMIL-Raya dan KKL Sultra Gelar Dialog Publik – Kendari Pos
Metro Kendari

Bangkitkan Jiwa Patriotisme, IPMIL-Raya dan KKL Sultra Gelar Dialog Publik

KENDARIPOS.CO.ID — Tiap tanggal 23 Januari, masyarakat Luwu di mana saja berada merayakan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL). Di Sultra, perayaan HPRL ke-75 dikemas dalam bentuk dialog publik di aula Graha Pena Kendari, Minggu (24/1). Acara ini diinisiasi Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Luwu Raya (IPMIL-Raya) Sultra dan Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKL).

Dialog publik ini bertemakan “Refleksi 75 Tahun Hari Perlawanan Rakyat Luwu”. Menghadirkan pembicara, Lukman To Madessa yang merupakan aktivis/pegiat kebudayaan Sulawesi Selatan, Ittong Sulle mantan Ketua PB IPMIL Raya periode 2018-2020, Sekretaris KKL Raya Sultra, Haji Andi Hasby Saing dan dimoderatori pengurus PC IPMIL Raya Cabang Sultra, Muhammad Jaya.

Ketua IPMIL Raya Sultra, Irfan Dirfan mengatakan momentum bersejarah ini menarik perhatian banyak masyarakat asal tanah Luwu. Hidup diperantauan tak membuat Wija To Luwu (masyarakat keturunan atau berasal dari tanah Luwu) yang berada di Sultra melupakan sejarah dan budayanya.

“Kegiatan ini bertujuan untuk merefleksi kembali semangat perjuangan rakyat Luwu memerdekakan Indonesia. Menyatakan bahwa Indonesia sudah merdeka. Semangat itu ingin ditumbuhkan ke jiwa generasi milenial seperti kami,” ungkapnya.

DIALOG PUBLIK : Sekertaris Umum KKL Raya Sultra Andi Hasbi Saing (dua dari kanan), Aktivis/Penggiat Budaya Sul-Sel Lukman To Madessa (kanan), Mantan Ketua PB IPMIL Raya Ittong Sulle (dua dari kiri), hadir sebagai narasumber dalam giat Dialog Public IPMIL Raya Sultra, di Aula Graha Pena Kendari Pos, Minggu (24/1).

Sekretaris KKL Raya Sultra, Haji Andi Hasby Saing menuturkan 23 Januari 1946 merupakan kepingan sejarah bangsa kita di tanah Luwu, peristiwa heroisme dan patriotisme terpampang nyata. Momentum memperingati HPRL menyimpan makna keramat, merupakan kilas balik patriotisme rakyat Luwu menghadapai penjajah. Peringatan HPRL merupakan suatu bentuk refleksi perjalanan panjang masyarakat Luwu untuk memerdekakan wilayahnya.

Ia turut bercerita tentang aksi heroik Datu Luwu Andi Djemma, Raja Luwu masa itu. Seorang tokoh Indonesia dan dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional tanggal 8 November 2002. Satu ungkapan Datu Luwu Andi Djemma yang paling terkenal terkait peristiwa ini adalah saat didatangi tentara Netherlands Indie Civil Administration (NICA) di Istana Kedatuan Luwu. Lalu diminta menurunkan bendera merah putih.

“Kalau saya turunkan bendera merah putih itu, pasti saya akan dibunuh oleh rakyatku. Tapi jika saya tidak menurunkan bendera merah putih itu, saya akan dibunuh oleh tuan-tuan. Jika itu pilihannya, saya lebih baik dibunuh oleh tuan-tuan dari pada saya dibunuh oleh rakyat ku sendiri,” ungkap Haji Andi Hasby Saing mengutip kalimat yang diucapkan Datu Luwu Andi Djemma yang menentang permintaan tentara musuh saat itu. (b/ndi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy