Saya curiga, kamu samakan kemampuan berhitungnya Tuhan dengan kemampuan berhitungnya Ketua Partai. Saya curiga, kamu samakan daya ingat Tuhan dengan daya ingat Ketua Partai. Begini. Umpama seorang Ketua Partai, atau Ketua DPR/DPRD, atau kepala daerah, atau kepala negara, memberimu sebuah proyek penanaman sebatang pohon di lintasan jalan di tengah gurun kerontang di area terbuka. Umpamanya begitu.

La Ode Diada Nebansi

Lah, kamu bisa saja meyakinkan Ketua Partai, Ketua DPR/DPRD, kepala daerah, kepala negara, atau pejabat di atasmulah, bahwa proyek penananam sebatang pohon di pinggir jalan area terbuka yang kerontang itu tak ada manfaatnya. Karena itu, uang proyek dijadikan saja SPPD.

Argumentasimu, masuk akal. Dan, dialihkanlah proyek penanaman sebatang pohon. Artinya, untuk kegiatan ini, kamu meyakini bahwa daya hitungmu dan daya hitung pimpinanmu lebih tinggi dari daya hitung Tuhan. Padahal, tidak.

Hitungan Tuhan kamu tak sanggup menembus. Kenapa?
Karena Tuhan telah menghitung berapa nilai ibadahmu ketika orang berteduh di bawah pohon yang kamu tanam.
Tuhan telah menghitung berapa amalanmu tatkala ulat-ulat dikenyangkan dengan sebagian kecil dedaunan tanamanmu.
Tuhan telah pula menghitung berapa microba yang anda hidupi akibat dedaunan lapuk dari tanamanmu.

Ini satu. Dua. Di negara yang beriman ini, Kepala Desa bisa kamu tipu. Bupati bisa kamu tipu. Gubernur bisa kamu alihkan pemikirannya. Presiden pun yang berniat tulus demi bangsa dan negara bisa kamu kelabui. Tapi, Tuhan tidak.

Jangan berpikir bahwa perilaku tipu dan memperdaya pimpinan untuk tujuan yang tak diridhai, kamu anggap tak berisiko. Sangat berisiko. Kamu yang bukan Islam, boleh mengabaikan ini. Tapi, jika kamu Islam, ingatlah pesan Tuhanmu.

Begini pesan Allah SWT: “Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari”. Itu kata Tuhan. Karena itu, berpikirlah bahwa hidup di alam dunia ini paling juga 60, 70, 80, 90 tahun. Setelah itu: kita berpindah alam.

Yah, kita berpindah alam. Dari alam dunia ke alam barzah. Alam kubur. Bagi kamu yang berpikir, perpindahan alam ini seperti juga perpindahan alam lainnya, yakni, dari alam Rahim (kandungan) ke alam dunia.

Andai di alam kandungan ada koran, maka Tulisan Winto ini saya ibaratkan untuk para penghuni Rahim dan saya ulangi tulisan awal bait ini. “KARENA ITU, BERPIKIRLAH (wahai penghuni kandungan) BAHWA HIDUP DI ALAM KANDUNGAN INI PALING JUGA 6, 7, 8, 9 BULAN. Nol-nya saya hapus dan “Tahun” saya ganti “Bulan”. SETELAH ITU KITA BERPINDAH ALAM. YAH, KITA BERPINDAH ALAM. DARI ALAM KANDUNGAN KE ALAM DUNIA. PERPINDAHAN ALAM INI SEPERTI JUGA PERPINDAHAN ALAM LAINNYA, YAKNI, DARI ALAM KUBUR KE ALAM AKHIRAT.

Yah, perpindahan alam ini mestinya Ustadz yang bahas. Saya hanya meyakini bahwa untuk mencapai keadilan Tuhan memang harus ada perpindahan alam. Kalau tidak, maka Tuhan tak adil. Tapi, bukankah Tuhan Maha Adil? Yah, Tuhan maha adil.

Tapi, mereka yang berpikir pendek, ndak bakal berpikir. Pokoknya, mati yah mati. Setelah mati, selesai semua. Woow, tidak begitu bro. Kalau kematian menyelesaikan semuanya, maka Tuhan tak adil. Kenapa? Yah, kamu banyak duit, punya jabatan, mobil mewah, rumah gedongan, sementara La Kepe, gubuk reyot, tak punya duit, kendaraan arco pun tak punya.

Tidak adil tuhan jika setelah kalian mati, maka selesailah semuanya. Ketidak-adilan ada sama La Kepe. Kenapa kamu kaya, La Kepe miskin? Tidak adil Tuhan. Yah, karena La Kepe, misalnya, lahir
dari keluarga miskin dan kamu lahir dari keluarga kaya. Ooh, kalau gitu, kenapa Tuhan dia kasi lahir La Kepe (misalnya) dari keluarga miskin? Tidak adil Tuhan. Dan seterusnya, dan seterusnya. Tuhan tak adil kalau setelah kematian maka selesailah semua persoalan.

Nah, untuk mencapai keadilan Tuhan, maka harus ada hisab. La Kepe akan dihisab dengan kemiskinannya, apakah ia sanggup bersabar dengan kemiskinannya. Dan, kamu akan dihisab dengan jabatan, rumah menterengmu, uangmu, kekayaanmu, apakah kamu sanggup bersyukur dengan segalanya itu.

Maksud saya begini. Siapapun kamu, ingatlah keadilan Tuhan. Ingatlah hisab Allah. Ingatlah siapa yang jemput kamu saat kamu berpindah alam. Ketika kamu berpindah alam dari alam rahim ke alam dunia, kamu dijemput oleh mahluk yang berusia hingga 90 tahun. Makhluk (kamu) yang hanya berusia 9 bulan dalam kandungan kamu tak akan sanggup memikirkan umur hidup penjemputmu (manusia) yang bisa 90 tahun.

Demikian halnya, mahluk yang hanya berusia 90 tahun tak bakal sanggup memikirkan umur hidup penjemputmu di alam kubur (malaikat). Kamu yang berumur 90 tahun tak bakal sanggup memikirkan berapa umurnya malaikat. Seperti juga, ketidaksanggupan janin (bayi) dalam kandungan memikirkan umur bidan atau sando (dukun beranak) yang akan menjemputnya saat kemunculannya di dunia ini.

Maksud saya begini. Pikirkanlah keadilan Tuhan. Pikirkanlah kehidupan setelah ini. Bagi orang yang berpikir, tahun 2020 telah pergi dan apakah kamu mengakhiri tahun 2020 ini dengan khusnul
khatimah?

Jangan akhiri tahun 2020 dengan suul khatimah.
Dan, jangan juga akhiri kekayaanmu dengan suul khatimah.
Jangan akhiri jabatanmu dengan suul khatimah.
Jangan akhiri pertemanmu dengan suul khatimah.

Aduh, hampir lupa. Untuk kata Tuhan yang saya “petik” di atas, agar tak menimbulkan keraguan saya tuliskan Arabnya: “Yukhaadi’uunallaha wallaziina aamanuu, wamaa yakhda’uuna illaa angfusahum wamaa yasy’uruun (Al-Baqarah:9)”. (nebansi@yahoo.com)

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)