Segera Pulih, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Segera Pulih, Oleh : Prof. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Alhamdulillah, kemarin, 9 Dsember, pemilih sudah menyalurkan hak suaranya. Catatan ini, masih tentang lembaga survei. Sebab, lembaga survei melakukan aktivitas survei sebelum hari pencoblosan. Pada umumnya, disebut elektabilitas dan popularitas. Saat hari “H” yakni pencoblosan, ada lembaga survei melakukan quick count. Ada juga kegiatan lain yakni exit poll.

Prof. Dr. Eka Suaib

Ketiganya, yakni survei elektabilitas+quick count+Exit Poll merupakan metode survei. Sebagaimana lazimnya, dalam metode survei dipergunakan untuk melakukan penelitian pada populasi besar maupun kecil. Data yang dipelajari yang diambil dari populasi tersebut. Berikut ini penjelasan ringkas ketiganya.

Survei elektabilitas dilakukan saat sebelum hari pencoblasan. Sifat survei yakni didasarkan pada opini. Jadi, sangat dinamis karena saat sebelum masuk ke bilik suara, sangat mungkin bisa terjadi perubahan. Apalagi jika bukan strong voters, iman politiknya masih bisa berpindah ke lain pasangan. Dengan kata lain pergerakan suara dinamis, tidak statis. Biasanya, survei pra pemilu dilakukan sebelum pemilih menggunakan hak pilihnya.

Quick count (hitung cepat) yakni metode perhitungan secara cepat langsung dari TPS yang dijadikan sebagai sampel. Seharusnya, hasil dari hitung cepat yakni lebih akurat karena sudah bukan persepsi atau pengakuan, tetapi basis respondennya dari formulir C1.

Untuk melengkapi hitung cepat, biasanya juga diadakan exit poll. Biasanya kegiatan ini dilakukan pada saat proses pemilihan di TPS masih berlangsung dan saat penghitungan di TS hendak dilakukan, Exit Poll sudah selesai dilakukan. Biasanya, exit poll digunakan untuk mengetahui kecenderungan perilaku pemilih. Sebab, basisnya adalah pemilih. Sementara, hitung cerpat, basisnya adalah TPS yang menjadi sampel.

Kehadiran hitung cepat memiliki manfaat untuk mendapatkan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Jika dilakukan dengan prosedur akademik yang ketat, maka prediksi hitung cepat dengan yang diumumkan oleh KPU tidak berbeda jauh. Kunci keberhasilan yaikni pada sampel TPS yang diambil. Pengambilan sampel memenuhi prinsip probabilitas. Prinsip ini dilakukan dengan cara mengambil sampel dengan azas keacakan. Setiap elemen atau unsur dalam populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih menjadi sampel.

Manfaat lain, pada suatu daerah dengan kompetisi kandidat yang cukup ketat. Informasinya dapat mengurangi tensi politik. Bukan, sebaliknya, quick count dapat menjadi sumber konflik.

Menurut Burhanuddin Muhtadi, Indonesia dengan cara perhitungan bertingkat, justru quic count sebagai cara mencegah agar tidak terjadi kecurangan dalam pemilu.

Kontroversi bisa terjadi, terutama bagi pasangan yang dinyatakan tidak menang. Atau juga membuat quick count dengan versi lain. Atau membuat ‘angka-angka’ lain. Akibatnya, masyarakat menjadi bingung informasi mana yang untuk dipercaya.

Pekerjaan rumah terakhir yang perlu digarisbawahi adalah menjaga suasana kondusif pasca pemungutan suara. Sudah sepantasnya kita menyambut gembira pelaksanaan pilkada serentak. Berikan kepercayaan kepada penyelenggara pemilu untuk menuntaskan tugas dan fuungsinya. Kepada para calon bupati yang melakukan kompetisi, sudah sepantasnya untuk saling berangkulan. Alangkah indahnya, meski bukan hasil resmi, pasangan yang lebih rendah suaranya untuk menyatakan selamat kepada pasangan yang meraih suara paling besar.

Kompetisi yang sudah begitu ketat saat pilkada, menyebabkan banyak energi yang dikerahkan untuk memikirkan soal-soal politik. Masyarakat sudah menentukan pilihannya. Masih banyak persoalan yang segera diatasi. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy