Pengamat: Tiga Petahana Tersungkur Imbas Program Non Populis – Kendari Pos
Politik

Pengamat: Tiga Petahana Tersungkur Imbas Program Non Populis

Dr. Najib Husain

KENDARIPOS.CO.ID — Kontestasi pilkada 9 Desember 2020 berlangsung sengit. Hasil real count KPU tiga petahana tumbang. Tak berdaya menghadapi rivalnya. Di Kolaka Timur Bupati petahana Tony Herbiansyah-Baharuddin harus mengakui kekalahannya dari Samsul Bahri Madjid-Andi Merya Nur. Sementara petahana Buton Utara Abu Hasan-Suhuzu tumbang oleh rival lama Ridwan Zakariah-Ahali. Terakhir, petahana Wakatobi Arhawi-Hardin La Omo juga kalah oleh Haliana- Ilmiati Daud. Misteri dampak kekalahan tiga petahana menarik perhatian publik. Apa sebab sehingga mereka tersisihkan dari panggung politik Bupati.

Pengamat politik Sultra, Dr. Najib Husain mengatakan, terdapat beragam alasan fundamental petahana mengalami kekalahan. Salah satunya, sikap overconvidence atau terlalu percaya diri petahana memandang lawan politiknya. Gelagat menganggap remeh ini, menjadi zona nyaman yang pada akhirnya secara tidak langsung incumbent tidak menyadari bahaya dari pergerakan masif penantang. Percaya diri tersebut lahir karena merasa kekuatan membersamainya begitu tinggi. Misalnya Tony Herbiansyah dikelilingi oleh partai besar yang mengusungnya. Dengan mengantongi 13 kursi di parlemen. Secara kasat mata, terlihat begitu kuat dan sulit tertandingi. Namun jangan dilupa, penantang Samsul Bahri Madjid bersama tandemnya Andi Merya Nur gigih bergerak konsolidasi diberbagai lini. Dari hulu hingga hilir. Ditambah dengan isu keterzaliman yang dimainkan Andi Merya Nur (Wakil Bupati aktif Koltim) yang notabene mantan kolega petahana. Menjadi bola panas yang bergerak liar di tengah masyarakat. Menarik simpati secara gradual membentuk sebuah kekuatan dukungan massa yang tak sedikit.

“Pada eskalasi pertarungan politik, setiap perputaran waktu bahkan detik apapun bisa berubah. Tergantung ketepatan strategi yang diramu secara cerdas dan cerdik. Ini yang kurang dimiliki oleh Tony Herbiansyah. Kelemahan tersebut mampu dimanfaatkan secara gemilang oleh penantang,” kata Dr. Najib Husain kepada Kendari Pos.

Kelemahan lain petahana, sambung Najib Husain, terletak pada program atau model pembangunan yang ditempuh. Koltim, hampir tidak memiliki ikon pembangunan yang bisa menjadi kebanggan masyarakat. Misalnya, lalulintas orang yang melewati jalan Koltim menuju ke Kolaka, Kolaka Utara, atau sebaliknya, hanya lewat begitu saja. Tidak ada sasaran kawasan yang bisa memantik perhatian untuk dapat disinggahi sejenak. Akhirnya iklim pembangunan terasa hambar tanpa ada kesan prestisius. Termasuk pada aspek perekonomian. Yang paling menonjol hanya sektor pertanian. Itupun pengaruhnya tidak begitu signifikan di tengah masyarakat. Ditambah sajian kerusakan jalan yang beberapa kecamatan belum tersentuh perbaikan.

“Petahana lebih fokus menata ibu kota. Lupa menancapkan kekuatan pada akar rumput. Memberi solusi melalui program partisipatif yang imbasnya bisa dirasakan langsung. Seperti nihilnya bantuan penunjang pertanian baik benih, pupuk, alat-alat pertanian. Cela tersebut menjadi isu sentral yang diangkat oleh penantang. Jangan heran, dominan kemenangan Samsul Bahri Madjid berasal dari daerah pinggiran,” terang Najib.

Di Wakatobi, kekalahan Arhawi dari penantangnya Haliana dipicu kegagalan petahana mengentaskan berbagai polemik krusial yang mendera daerah dengan julukan pariwisata itu. Angka kemiskinan di Wakatobi masih cukup tinggi sekira 14,74 persen. Lebih tinggi dibandingkan provinsi Sulawesi Tenggara yang hanya 11,24 persen. Penyebab utama, karena nihilnya ketersediaan lapangan kerja. Yang mengakibatkan pengangguran menjamur bak dimusim hujan. Situasi tersebut, menjadi sasaran empuk Haliana sebagai isu atau jualan menarik simpati masyarakat. Bahkan yang paling unik, Haliana bersama koleganya Ilmiati Daud mampu menyentuh simpati pemilih kalangan wanita khususnya ibu-ibu melalui program pemberdayaan perempuan.

“Petahana juga kurang memanfaatkan dengan baik potensi pariwisata Wakatobi. Padahal saat kemimpinan Hugua berhasil membawa sekor pariwisata Wakatobi ke kancah internasional. Kekurangan tersebut, disebabkan lemahnya networking (jaringan) oleh petahana,” beber Najib Husain.

Sementara di Buton Utara, tersisinya petahana Abu Hasan karena imbas dari program pembangunan yang digagas tidak bersifat populis. Artinya, misi beragam program yang dijewantahkan tidak menyentuh akar persoalan yang sedang dialami oleh masyarakat. Abu Hasan menerapkan sistem pembangunan yang bersifat jangka panjang, seperti pertanian organik. Secara rasional, program tersebut cukup baik untuk daerah. Namun idealnya dikerjakan saat detik-detik massa akhir jabatannya.

“Pada awal menjabat, seharusnya Abu Hasan menuntaskan masalah mendasar yang urgen bersentuhan langsung dengan perekonomian masyarakat. Seperti perbaikan jalan secara menyeluruh dengan kualitas terbaik,” kata alumni Universitas Gajah Mada (UGM) itu.

Akademisi Fakultas Ilmus Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Halu Oleo (UHO) itu menjelaskan, penantang Ridwan Zakariah-Ahali mampu mengambil panggung Abu Hasan dengan menjual isu yang tidak menjadi perhatian utama petahana saat memimpin. Seperti pembenahan infastruktur jalan maupun jembatan. Akhirnya menggerus kekuatan petahana dengan sangat signifikan.

“Jika sejak awal Abu Hasan fokus mengentaskan persoalan primer masyarakat seperti perbaikan jalan, maka potensi besar melanggeng ke periode kedua sangat terbuka lebar. Dalam artian mengunci simpati mereka. Karena sejatinya, seorang pemimpin mesti mengambil langkah, berangkat dari polemik mendasar yang sedang mendera. Karena akan berakhir percuma mengukir program berbasis kualitas semata namun tidak menyentuh kebutuhan yang paling fundamental oleh rakyat,” tandasnya. (ali).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy