Nilai Tukar Petani Sultra Turun 0,22 Persen

Petani di Kecamatan Lainea, Konawe Selatan, sedang menanam padi di sawah miliknya, beberapa waktu lalu.

KENDARIPOS.CO.ID — Nilai tukar petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami penurunan sebesar 0,22 persen pada November 2020 dibanding bulan Oktober 2020 yaitu dari 97,01 menjadi 96,80.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra, Agnes Widiastuti mengatakan NTP bulan November 2020 mengalami penurunan disebabkan dua dari lima subsektor yang membangun NTP Sultra mengalami penurunan cukup signifikan yaitu subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,63 persen dan subsektor peternakan sebesar 0,40 persen.

“Sedangkan subsektor lainnya mengalami kenaikan yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,07 persen, subsektor tanaman hortikultura sebesar 0,33 persen, dan subsektor perikanan sebesar 0,65 persen,” ungkap Agnes Widiastuti, kemarin.

Dijelaskan, NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR) pada November 2020 mengalami penurunan sebesar 0,63 persen. Hal ini disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan sebesar 0,60 persen, lebih rendah dari pada kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang naik sebesar 0,03 persen.

Turunnya indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh turunnya indeks subkelompok tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,60 persen akibat turunnya harga beberapa komoditas di antaranya nilam 4,82 pereen, lada/merica 1,63 persen, kakao/coklat biji 1,32 persen, dan kopi 1,19 persen. Sementara, naiknya indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,03 persen dan indeks BPPBM sebesar 0,06 persen.

Selanjutnya, NTP Peternakan (NTPT) November 2020 turun sebesar 0,40 persen. Hal ini disebabkan indeks harga yang diterima petani turun sebesar 0,38 persen dan indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,02 persen. Turunnya indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh turunnya indeks subkelompok ternak kecil 0,20 persen, unggas 1,75 persen, dan hasil ternak 0,06 persen.

“Harga komoditas subkelompok ternak kecil yang mengalami penurunan yaitu babi potong 1,01 persen, subkelompok unggas yakni ayam ras pedaging 2,05 persen, dan subkelompok hasil-hasil ternak yakni telur ayam ras 0,29 persen,” jelasnya.

Sementara itu, naiknya indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh turunnya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,06 pesen dan indeks BPPBM sebesar naik 0,20 persen.

“Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib), dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian,” tandas Agnes. (uli/b)

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.