Keindahan Wisata di Kolut, Dari Gua Tembus ke Sungai – Kendari Pos
Nasional

Keindahan Wisata di Kolut, Dari Gua Tembus ke Sungai

KENDARIPOS.CO.ID — Keindahan alam Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) begitu memikat. Destinasi wisata-nya, masih “perawan”, belum terjamah. Gua Tapparang, sekeping surga yang jatuh di Bumi Patampanua. Objek wisata itu berada di telaga biru di Desa Rante Baru, Kecamatan Rante Angin.

Jurnalis Kendari Pos Muh Rusli saat menyambangi
Gua Tapparang,di Desa Rante Baru, Kecamatan Rante Angin.

Jaraknya sekira 41 kilometer dari ibukota Kolut. Papan nama objek wisata ini terpampang di tepi Jalan Trans Sulawesi setempat. Dari jalan poros, hanya berjarak sekira 1 kilometer. Walau tertutupi ilalang, namun ada jejak langkah manusia, petunjuk jalan menuju gua. Melalui medan terjal dan licin saat hujan.

Gua itu memiliki stalagmit dan stalaktit yang sangat unik. Suara air yang menetes dari stalaktit terdengar jelas. Kicauan burung walet bersahut-sahutan, beterbangan dalam gua.

Kedalaman telaga di bibir gua itu berkisar 1 hingga 10 meter. Airnya jernih, dasar telaga terlihat jelas. isata itu kerap dikunjungi masyarakat. Di gua itu terdapat sebuah bongkahan batu. Warga setempat menyebutnya batu yang menyerupai orang sedang bermunajat menghadap kiblat.

Proses pembentukan batu itu, dari tetesan air dari stalaktit. Posisinya tersebunyi, tepat berada di sisi kanan gua. Batu itu macam terbungkus sarung bermotif kotak-kotak. Gua itu memiliki terowongan yang menjulur masuk ke perut bumi. Lorongnya sangat gelap, harus berenang untuk menggapai terowongan yang menghubungkan beberapa sungai lain yang bermuara di persawahan dan beberapa tempat lainnya.

Tokoh Masyarakat setempat, Muallim bercerita konon gua itu dulunya dianggap keramat oleh warga. Warga yang sedang menebang pohon adalah yang pertama menemukan objek wisata itu. Di sana, ada gua lain yang menyerupai itu yang bisa terdeteksi citra satelit, namun saat ditelusuri susah untuk ditemukan. “Kecuali orang tersesat secara tidak sengaja, yang bisa menemukannya,” ucapnya.

Sementara itu, mantan Sekdes Rante Baru, Mirdin menambahkan, konon suara-suara kerap terdengar dari dalam goa layaknya orang sedang lulo maupun menumbuk padi. Gua itu macam dihuni banyak orang. Dari cerita turun temurun, kata dia, gua itu berisi benda-benda antik seperti guci, piring dan lainnya. Namun pernah dijarah oleh orang. (rus/c)

Digandurungi Pelancong Lokal dan Asing

Gua Tapparang butuh sentuhan pemerintah. Sebab digandrungi masyarakat Kolut. Ketua Umum Lembaga Pemerhati Alam Lingkungan dan Ekosistem Mekongga (L-Palem) Kolut, Muhammad Tahir mengutarakan, meskipun objek wisata itu hanya berjarak kurang lebih 1 Km dari jalan Trans Sulawesi namun pemerintah belum meliriknya. Padahal, Gua Tapparang tersebut keberadaannya sudah ramai tersebar ke publik dan bahkan hingga manca negara.

“Akses jalannya sulit. Padahal pemerintah bisa mengalokasikan dana untuk membuat tangga beton,” tuturnya. Ia menegaskan pemuda desa bersedia berpartisipasi dalam pengelolaannya, baik terkait penjagaan hingga merawat tempat itu. Pemerintah Desa setempat sudah seharusnya memberdayakan mereka. Apalagi objek wisata bisa mendatangkan pendapatan asli daerah.

“Keunggulan gua ini karena di dalamnya terdapat permandian. Pengunjung bisa menikmati dua hal yakni panorama gua serta berenang,” imbuhnya.

Tokoh Masyarakat Rante Baru, Muallim menjelaskan selain masyarakat lokal, gua juga kerap dikunjungi warga negara asing asal Prancis dan beberapa negara lainnya. Rumah Muallim kerap dijadikan tempat persinggahan pelancong. “Kalau mereka datang, mereka menginap di rumah saya dan berpesan kalau datang lagi bisa sewa tempat saya,” bebernya. (rus/c)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy