Kaleidoskop Orang-orang Penting Sultra, Oleh : La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Lazimnya, akhir pada kegiatan. Ada yang sibuk dengan telaah kegiatan dalam setahun ini, ada kegiatan penyusunan schedule untuk satu tahun kedepan. Siapapun dia yang giat, begitulah. Yang pejabat, sibuk dengan penyusunan laporan pertanggungjawaban. Yang Direksi, sibuk dengan penyusunan laporan arus kas dan rencana kegiatannya. Yang Kepala Dinas, Kepala Lembaga, sibuk dengan laporannya. Mereka orang-orang midle, sibuk dengan melengkapi laporan pimpinannya. Dan lain sebagainya.

La Ode Diada Nebansi

Di hari-hari terakhir ini, jikalau laporan pertanggungjawaban dan rencana kerja tahunan telah disusun, maka, hari-hari terakhir ini adalah hari santai bagi yang memahami pentingnya bersantai. Hari refresh bagi yang memahami pentingnya relaksasi. Itu di satu sisi. Di sisi lain, hari-hari penghujung tahun ini, bagi sebagian orang juga memanfaatkan untuk memproduksi sesuatu yang bermakna, bernilai unik, penting, dan kalau itu jualan akan laku dijual, kalau itu makanan akan enak disantap, kalau itu produk, bisa bernilai unik dan berharga.

Nah, untuk wartawan, lazimnya, di akhir tahun ini, sebagian besar rencana liputannya adalah kaleidoskop. Kaleidoskop bidang apa saja. Demikian dengan WINTO, Write Inspiring Though. Kaleidoskop pula. Tapi, ini bisa jadi hanya berjudul kaleidoskop dimana isinya mungkin saja story, penggalan true story, atau apalah sebutan cocoknya. Yang pasti bahwa, judulnya: Kaleidoskop Orang-orang Penting di Sultra.

Kita mulai dari H. Ali Mazi, SH. Beliau berlatar belakang pengacara. Lalu, jadi Gubernur Sultra. Lalu, gagal jadi gubernur. Kenapa? Karena dalam pemilihan gubernur untuk menuju ke periode kedua, saat itu: kalah. Artinya, ya, gobang gubernur hanya bertahan lima tahun dan harus dilepas. Berpikirlah kita di saat pengumuman kekalahan itu. Saat itu, pikiranmu pasti: “incumbent kok bisa kalah”. Tapi, kekuasaan bukan kamu yang atur. Tuhan yang atur.

Lima tahun menganggur, Ali Mazi bertarung lagi. Pasang baliho kiri-kanan. Urus partai kiri kanan. Tapi, kandas di KPU. Yakin akan bertarung, Ali Mazi pun masuk di ruang pencabutan bola pimpong. Kenapa ada bola pimpong? Oh, ternyata di bola pimpong itu tertera nomor urut, yang kelak, siapa yang mendapatkan bola pimpong bernomor, itulah nomor urutnya. Celakanya, Ali Mazi tak diberi kesempatan untuk mengambil bola pimpong. Perjuangan di lima tahun itu, kandas.

Lima tahun berikutnya, “nganggur” lagi. Artinya, total waktu “nganggur” tak jadi gubernur sepuluh tahun. Ali Mazi lalu berjuang lagi. Pasang baliho lagi. Keluar kampung, masuk kampung. Melintasi jalan berkendara mobil, speed boat, katinting termasuk mungkin: titian. Ali Mazi yakin, setelah 10 tahun sudah cukup dengan pengalaman pimpong-pimpong. Artinya, pasti jadi calon gubernur dan pasti jadi gubernur. Eeee, betul belae. Ali Mazi terpilih jadi gubernur Sultra untuk lima tahun kedua.

Setelah dua periode jadi Gubernur, mau jadi apa setelah itu? Oww, kalau ini dituliskan bukan kaleidoskop namanya, tapi prediksi kata cendekia, penerawangan kata paranormal. Tapi kalau standar normal, bisa jadi akan mengikuti pola mantan-mantan pejabat lainnya yang mendorong anak istri di kancah kekuasaan serupa, atau kekuasaan lain.

Kalau mau ikut Jokowi, yah, bisalah anak atau anak mantu dijadikan kepala daerah. Wali Kota Kendari kah. Bupati Buton kah. Kalau mau ikut senior, yah, bisalah istri dijadikan anggota DPR-RI. Ibu juga kan memiliki kecerdasan. Gaul. Masuk di segala medan. Pidato, oke. Orasi, boleh. Bodi, atletis. Busana, oke. Fashion, apalagi. Boga, kacang-kacang. Ibu rumah tangga, tamat. Dapur, bbeh masakannya mmuach uenak tenan. Hanya banyak pedisnya belae.

Kita bahas H. Sulkarnain, SE, ME. Dari Direktur Perusahaan Property jadi Wakil Wali Kota Kendari. Tarolah paling lama enam bulan jadi Wakil Wali Kota langsung diangkat jadi Wali Kota Kendari. Sebab apa? Ndak usah dibahas karena itu tak masuk kriteria kaleidoskop.

Setelah periode ini, Sulkarnain akan maju lagi ke periode kedua. Kok tahu? Yah, saya tahu. Saya tahu karena untuk membangun secara tuntas dan totalitas itu tak cukup waktu lima tahun. Harus 10 tahun. Karena itu, saya yakin, Sulkarnain akan bertarung ke periode kedua. Dan, kayanya: enteng ke periode kedua.

Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa. Ndak pake titel. Tapi, ppoh, baliho calon gubernur sudah “menutupi” kira-kira dua pertiga wilayah Sulawesi Tenggara. Tanpa tedeng aling-aling, pokoknya: pasang baliho. Sederhana pikirannya. Kalau orang lain bertarung merebut kekuasaan dengan membanggakan pembangunan mega proyek dari APBD/APBN, mestinya, saya yang harus bangga berkali-kali lipat. Kenapa? Karena saya membangun mega proyek kawasan industri Morosi tidak APBD/APBN tapi menggunakan investasi. Menggunakan uang negara lain.

Surunuddin Dangga. Pengusaha. Mantan Ketua KADIN. Mantan Ketua DPRD Kabupaten dan anggota DPRD Provinsi. Bertarung jadi Bupati Konawe Selatan sampai tiga empat kali tapi kalah terus. Kali kelima barulah terpilih. Periode pertama, selesai. Bertarung ke periode kedua dan: menang lagi. Setelah itu? Ndak taumi. Mungkin mau dorong anaknya untuk bertarung jadi Wali Kota Kendari.

Tafdil SE. Pengusaha. Mungkin kontraktor. Coba-coba jadi calon Bupati Bombana, eee terpilih belae. Berapa biaya dihabiskan? Orang bilang: murah. Yang penting, elektabilitasnya tinggi. Sudah dua periode jadi Bupati Bombana. Setelah itu? Masih remang-remang. Yang pasti, istri sudah dijadikan anggota anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI).

Drs. Muhammad Safei. Sekda Kolaka. Karena prestasi dan dekat dengan masyarakat, ia memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Kolaka. Dan, terpilih. Periode pertama rampung ingin ke periode kedua. Bisa dibayangkan, periode pertama saja enteng direbut apalagi periode kedua. Setelah itu? Feeling saya, Wagub.

Drs. H. AS Thamrin. Kakanwil Badan Pertahahan Nasional. Direktur di BPN Pusat. Belum pensiun di jabatan Direktur, bertarung di jabatan Wali Kota Baubau. Dan, terpilih. Periode pertama, kian dekat dengan rakyatnya. Jangankan rakyat Baubau, Kasunanan Surakarta saja memberi gelar kehormatan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) AS Thamrin Reksonegoro. Wwuih. Kanjeng Raden belae. Harus dua periode kalau sudah begini. Dan, betul. Biar lawan berat di periode kedua, rasanya: enteeeeng bangat.Yang lain? Saya capemi menulis. Nantimi. (nebansi@yahoo.com)

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *