Greget Pilkada Serentak, Oleh : Prof. Eka Suaib


KENDARIPOS.CO.ID — Ada 4 greget pilkada serentak. Pertama, dari 7 petahana, 3 yang tumbang. Petahana memiliki plus minus. Dengan tingkat kedikenalan yang lebih tinggi dibanding penantang memungkinkan pemilih punya kesempatan untuk mengevaluasinya. Jika memiliki kinerja dan perilaku yang baik, maka pemilih akan memilihnya. Sebaliknya, jika memiliki kinerja buruk, pemilih akan berpaling pada penantang.

Dosen Fisip Universitas Halu Oleo, Prof. Eka Suaib

Kedua, wakil bupati ‘incumbent’ menantang bupati, yang juga memiliki latar belakang perempuan, berhasil memenangkan kontestasi di daerah masing-masing. Masih perlu riset lebih mendalam, apakah kemenangannya ditentukan oleh politik identitas. Bahwa perempuan tidak bisa lagi dipandang remeh. Ataukah saat menjadi wakil bupati pada periode sebelumnya sudah memiliki investasi politik saat mendampingi bupati ketika menjalankan roda pemerintahan. Bisa jadi bahwa saat menjadi 02 mengembangkan isu dizalimi dan ada perlakuan tidak adil yang kemudian dapat dipoles menjadi insentif elektoral.

Ketiga, hasil pilkada serentak memunculkan kader potensial untuk bertarung di Pilgub Sultra 2023 nantinya. Jadi, merupakan pemanasan pada Pilgub mendatang. Tes ombak. Selama ini, sudah ada beberapa nama yang sudah disebut-sebut untuk maju menggantikan Ali Mazi.

Keempat, hasil Pilkada serentak, PDI-P menunjukkan hegemoninya. Tercatat, calon yang diusung berhasil unggul di 5 daerah yakni di Muna, Wakatobi, Konawe Utara (Konut), Kolaka Timur (Koltim), dan Konawe Kepulauan (Konkep). Posisi selanjutnya yakni Golkar dan Nasdem. Golkar yang memenangkan calon yang diusung. Golkar menang di Konsel, Muna, Butur dan Konut. Nasdem memenangkan pertarungan di Konsel, Konut, Konkep dan Wakatobi. Demokrat, PBB, dan PKB memenangkan pertarungan di 3 daerah. Demokrat menang di Konkep, Koltim, dan Butur. PBB memang di Konut, Wakatobi, dan Konsel. PKB menang di Konsel, Muna, dan Konkep. PAN menang di Koltim, dan Butur. PKS menang di Muna dan Konsel. Gerindra menang di Koltim dan PKPI menang di Konkep.

Selain nama-nama yang berhasil memenangkan kontestasi di Pilkada serentak 2020, selama ini juga tersedia kader potensial seperti Walikota Bau-Bau, Bupati Bombana, Bupati Kolaka. Ada juga mantan bupati yang masih dihitung. Sebut, Ridwan BAE dan Rusda Mahmud yang jadi anggota DPR RI. Ada kader potensial lain seperti Amirul Tamim dan La Ode Ida dll.

Dari perolehan suara yang diperoleh, tampaknya tidak ada bintang baru yang benar-benar muncul. Dari kemenangan petahana, persentase kemenangan paling tinggi diraih di Konkep, yakni lebih dari 50 persen. Surunuddin di Konsel, Rusman Emba di Muna, dan Ruksamin di Konut, tidak menunjukkan angka yang signifikan.

Nasir Andi Baso sudah pernah menulis artikel tentang menakar calon gubernur. Seperti ini pengamatannya. Menurutnya, dari daratan ada KSK dan LA. Lalu, dari kepulauan ada US, RB, LI. Lalu, ada kekuatan silent yakni TN dan AA. Ada juga sosok sang jenderal. Setelah hasil Pilkada juga memunculkan nama R. Semua nama yang disebut dalam artikelnya Nasir Andi Baso adalah penuh dengan inisial. Tapi, saya sudah bisa tahu siapa inisial dimaksud.

Tentu saja dari sejumlah nama di atas perlu dihitung yakni skenario koalisi yang akan dibangun. Berdasar pada regulasi yang ada, PAN merupakan satu-satunya partai yang sudah mengunci koalisi pada Pilgub nantinya. Dari sini, maka figur Abdurrahman Shaleh akan mencoba memanfaatkan momentum Pilgub kali ini. Jadi, bisa dibaca, pertarungan sengit di internal PAN siapa yang akan menggunakan pintunya.

Partai Golkar akan menelorkan siapa? PDI-P akan merekomendasikan siapa? Siapa yang akan merebut pintu Demokrat? Nasdem merekomendasikan siapa? Siapa yang akan diusung oleh PKS? Siapa yang akan menggunakan pintu Hanura? Gerindra akan mengusung siapa? Silakan mengajukan pertanyaan, dan dari sederet itu tentu saja akan menimbulkan kerumitan tersendiri jika dikaitkan dengan peta koalisi yang akan dibangun. Keduanya punya keterkaitan, sebab bangunan koalisi juga dipengaruhi oleh basis elektoral masing-masing figur. Dengan banyaknya figur potensial saat ini, maka tentu saja ini menandakan bahwa kaderisasi kepemimpinan di daerah cukup baik.

Kita berharap, akan tumbuh iklim yang sehat di parpol. Yakni yang dapat memaknai partai dalam arti sesungguhnya. Sebab, parpol adalah sekumpulan orang yang memiliki ide dan mimpi yang sama dalam rangka merebut kekuasaan. Jadi, para politisi jangan tidur dalam ranjang parpol yang sama, tapi punya mimpi yang berbeda. Jika pembentukan koalisi yang rumit, mengapa jalur perseorangan tidak ingin dicoba lagi sebagai alternatif dari rumitnya pembentukan koalisi. Entahlah, karena toh politisi memiliki matematika politik tersendiri. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *