7 Pilkada, Muna yang Seru, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

7 Pilkada, Muna yang Seru, Oleh : La Ode Diada Nebansi

Seru.
Rame.
Dinamis.
Hidup.
Ngeri-ngeri asyik.

Ada hadang-hadangnya.
Ramai arak-arakannya.

Ada busurnya.
Menancap busurnya. Ramai pengamanannya.
Ramai BKO-nya.

Menancap busurnya.
Ada laporan polisinya.
Ada kampanyenya.
Ada debat kandidatnya.
Ada adu cybernya.

Sorot menyorot.
Memojokkan lawan.
Fitnah dan fakta bercampur baur.

Dari tujuh daerah yang menggelar pemilihan bupati di Sulawesi Tenggara, nampaknya, Muna-lah yang super serius.

Serius calonnya.
Serius tim suksesnya.
Serius pendukungnya.
Serius pemilihnya.
Serius penyelenggaranya.
Serius pengamanannya.
Serius surveyornya.
Serius pendanaannya.
Serius pengamatnya.
Mungkin juga, serius serangan dukunnya.

Kenapa hanya Pilkada Muna yang ramai? Tanpa penelitian, mungkin inilah penyebabnya.

Pertama, sudah dibuktikan bahwa bersama kekuasaan, hidup survive bisa dicapai. Bersama kekuasaan kepala daerah, seseorang dijamin mendapatkan jabatan kepala dinas, kepala bidang, kepala seksi yang ikutannya, melahirkan kuasa pengguna anggaran dan kuasa pengelolaan proyek.

Tidak berhenti di situ. Kuasa pengelola proyek melahirkan sub kuasa di tingkat para pemburu proyek alias kontraktor. Nah, di sinilah simpulnya. Di kontraktorlah simpulnya. Kepada kontraktorlah masyarakat menyemut. Mengerubuti. Mengerubuti karena di sana ada harapan bahwa sosok yang dikerubuti ini adalah dermawan, sedekah-wan yang sesungguhnya, pengeluaran dalam bentuk “sedekah” nampak bias dari sisi agama.

Kok bias?

Yalah, memberikan kelebihan uang kepada orang itu kan boleh dikata sebagai sedekah. Tapi kok bias? Yalah. Karena kamu telah menyedekahkan hartamu kepada orang yang sesungguhnya tak butuh. Menyedekahkan uang kepada kepala dinas. Apakah kepala dinas sasaran sedekah? Bukan. Tapi, bukankah sebagian dari hasil kerja proyekmu kamu berikan kepada kepala dinas? Ya. Bukankah itu sedekah yang bias? Ah, itu kan fee.

Sekiranya kamu berpikir, maka kamu akan menyadari bahwa saya telah menyedekahkan kelebihan hartaku kepada orang yang sesungguhnya tak membutuhkan. Kepada orang yang bukan tempatnya.

Kalau tak salah, para kaum cerdik pandai menyebut ini sebagai tanda-tanda kimat. Wallahu alam.

Kedua, sudah dibuktikan bahwa bersama kekuasaan kepala daerah, anggaran negara dan daerah bisa ditagana (dibahas) sekemauan para pembahas anggaran. Artinya, jika kepala daerah menginginkan untuk membangun tol, maka jadilah tol itu. Artinya, kalau anggota DPRD menginginkan untuk menurunkan ribuan ekor sapi ke desa A dan B, maka banjir sapilah desa itu.

Jika kepala dinas pertanian menginginkan setiap desa dibelikan traktor, maka meraunglah traktor itu di setiap desa yang diinginkan. Dan, seterusnya. Artinya, agar rakyat tercatat namanya dalam jaringan kekuasaan kepala daerah, maka sejak dini ia harus aktif. Rakyat harus aktif sejak kampanye. Aktif meramaikan kampanye kepala daerah.

Jika ini disadari oleh rakyat, jika rakyat menyadari bahwa pemilihan adalah pintu kesejahteraan, maka beruntunglah dia. Artinya, rakyat sudah memiliki kecerdasan dalam Pemilu. Sebaliknya, rakyat yang tak paham akan arti Pemilu, tak ngerti apa arti Pilkada, maka di benak dia, bahwa Pemilu adalah waktunya serangan fajar.

Ketiga, keramaian ekstra Pilkada Muna bisa jadi oleh karena Muna memiliki sumber daya keilmuan yang mumpuni di jurusannya masing-masing. Celakanya, sumber daya ilmu itu tak tersalur secara efektif dan produktif. Tak ada lapangan kerja. Wilayahnya sempit. Kata hyperbolnya, daerah yang tak punya lapangan kerja namun setiap “100 meter”, ada orang pintarnya. Akhirnya, baku gea-gea sesama kita.

Keempat, yang bertarung di Pilkada Muna bukan kaleng-kaleng. Dua-duanya incumbent. Silahkan keliling dunia yang menggelar Pilkada, kalian tak akan menemukan dua calon yang head to head, yang dua-duanya adalah incumbent. Wow, ngeri to? Wow, seru kan?

Dapat dibayangkan, dua calon kepala daerah, kedua-duanya diback-up dua gerbong Kadis, dua gerbong Kabid, dua gerbong Kepala Seksi, dua gerbong Kepala Puskesmas, dua gerbong kepala desa, dua gerbong pamong praja dari kabupaten masing-masing. Wwwuih. Seru memang.

Kelima, dan seterusnya sebagai penyebab kenapa Pilkada Muna serasa laga final karena Muna juga menjadi sorotan para bupati daerah lain dan para pihak yang bercita-cita menjadi calon gubernur. Kenapa? Khusus medan Pilgub, posisi Muna amat sangat menentukan. Siapa yang akan menjadi gubernur, pilihan Muna-lah yang menentukan. Muna sangat menentukan tapi tak berlaku untuk dirinya yang jadi calon gubernur. Yah, itu untuk saat ini dimana masyarakat pemilih masih cenderung paternal.

Mantan gubernur Nur Alam dan Gubernur Sultra saat ini, Ali Mazi sudah membuktikan itu. Dalam pemilihan, Nur Alam menang di Konawe Raya, Ali Mazi menang di Buton Raya. Yang keluar jadi gubernur terpilih adalah mereka yang memenangkan Muna. Untuk ini, tak usah diprotes karena masih ada dokumen KPU.Oleh karena ihwal serunya Pilkada Muna seperti uraian pertama, kedua, ketiga dan keempat, maka tugas Bupati terpilihlah yang akan membenarkan jika itu tak benar, meluruskan jika itu bengkok, mengadakan lapangan kerja jika penyebabnya karena kurangnya lapangan kerja, memberlakukan profesionalisme “sedekah fee” yang harus jatuh kepada orang yang benar-benar membutuhkan. Simpulnya, kepala daerah harus memahami bahwa fenomena dan kejadian pra dan pasca Pilkada harus dijadikan pelajaran untuk kemajuan daerah dan masyarakatnya. Wallahu alam.
(nebansi@yahoo.com)

La Ode Diada Nebansi
Direktur Kendari Pos

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy