Pengganti UN, Dikbud Sultra Matangkan Persiapan AN – Kendari Pos
Nasional

Pengganti UN, Dikbud Sultra Matangkan Persiapan AN

KENDARIPOS.CO.ID — Ujian Nasional (UN) tahun 2021 hampir dipastikan berubah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menerapkan metode Asesmen Nasional (AN) sebagai pengganti standar kelulusan peserta didik melalui Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) yang akan diterapkan pada 2021.

Mendikbud Nadiem Makarim menjelaskan hal ini bukan hanya sebagai pengganti UN dan USBN, tetapi juga sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan. Asesmen nasional tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra, Asrun Lio mengatakan dalam sistem asesmen nasional ini tidak ada lagi persiapan UN kepada para siswa, sebab dalam UN persiapan sekolah hanya untuk menyelesaikan soal-soal. Sementara dalam asesmen nasional, tanpa belajar pun seseorang dalam kemampuan literasi dan kemampuan numeriknya bisa diuji dan ini lebih gampang ketimbang UN.

“Peserta AN adalah sekolah secara keseluruhan. 45 orang perwakilan dari setiap sekolah. 45 orang penentu itu diambil dari Dapodik siswa. Jadi bukan sekolah yang menentukan, tapi sistem yang akan menentukan,”ujar Asrun Lio kepada Kendari Pos di ruang kerjanya, Senin (2/11) kemarin.

Menurut Asrun Lio, secara umum, asesmen nasional tidak menilai individu peserta didik. Nanti akan diberikan pemetaan kemampuan siswa secara kewilayahan. Sekolah tidak perlu melakukan persiapan khusus berupa latihan soal namun harus menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan saja. “Selain itu, sekolah tidak perlu lagi melakukan bimbingan khusus kepada peserta didik untuk dapat menjawab soal asesmen nasional itu. Karena yang diukur adalah kemampuan minimun,” ungkap Asrun Lio.

Dijelaskan Asrun Lio, terkait asesmen nasional ini, pihaknya merujuk pada keputusan pemerintah pusat (Kemendikbud). Saat ini Dikbud Sultra sedang mematangkan persiapan asesmen nasional melalui sosialisasi. Sebab ini akan mulai berlaku Maret 2021. “Asesmen nasional ini merupakan pengganti ujian nasional. Bentuk asesmen nasional akan berbeda dengan ujian nasional pada umumnya,”kata Asrun Lio

Ujian dilakukan berdasarkan kemampuan kognitif secara keseluruhan yang diukur melalui UN. Di dalam UN ada soal pilihan ganda. “Nah saat ini berubah menjadi asesmen nasional yang di dalamnya ada asesmen kompetensi minimum. Yang diukur adalah kemampuan numerik, kemampuan literasi dan survei karakter serta survei lingkungan belajar. Asesmen ini adalah salah satu bentu transformasi belajar,”jelas Asrun Lio.

Jadi, kata dia, asesmen nasional terdiri dari tiga bagian, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), survei karakter dan survei lingkungan belajar. AKM dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi. AKM ini menjadi syarat bagi peserta didik berkontribusi di dalam masyarakat. Ini terlepas dari bidang kerja dan karier yang ingin mereka tekuni di masa depan.

Sedangkan survei karakter dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar sosial dan emosional berupa pilar karakter untuk mencetak profil pelajar yang kritis dan kreatif.

“Adapun survei lingkungan belajar digunakan untuk pemetaan secara nasional terkait aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah. Hasil asesmen nasional dilakukan sebagai pemetaaan dasar kualitas pendidikan nyata di lapangan. Jadi disini tidak ada konsekuensi buat sekolah. Selain itu menjadi kekuatan data guna laporan hasil Asesmen dalam perbaikan kualitas didik sekolah dan daerah,”beber Asrun Lio.

AN ini berlaku untuk seluruh SMA dan SMK. Khusus SMK akan tetap ada uji kompetensi keahlian. “Asesmen nasional ini akan berlaku minggu pertama bulan Maret 2021 untuk siswa SMA dan minggu ketiga akan diujikan ditingkat SMK. Ini merupakan jadwal nasional,”pungkas Asrun Lio.

Sementara itu, pengamat pendidikan Sultra, Prof. Dr. Abdullah Alhadza mengungkapkan asesmen nasional sebaiknya harus didukung kesiapan sekolah. Selain itu didukung sarana dan prasarana memadai, hingga kesiapan para tenaga pendidik. Terlebih lagi, pergantian UN menjadi AN ini akan dilakukan secara masif dan struktural pada tahun 2021.

“Saya kira ini hanya berupa penggantian nama saja, dari UN menjadi AN. Yang berbeda itu jika UN sasarannya untuk para siswa, sedangkan AN lebih ditekankan pada institusinya. Hal ini sah-sah saja untuk diterapkan,” jelasnya.

Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Sultra
itu melanjutkan pelaksanaan UN dan AN sebenarnya bertujuan untuk memperoleh pengakuan setelah menjalani pendidikan di jenjang SD, SMP, dan SMA baik itu siswa maupun institusinya. “Intinya kalau kita mau diakui secara nasional maka kita harus siap untuk diuji. Salah satunya melalui UN atau AN ini,” tutur Prof. Dr. Abdullah Alhadza.

Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbud Evy Mulyani menuturkan, AN merupakan kebijakan standar kelulusan baru. Para murid juga tidak akan dievaluasi secara individu, satuan pendidikan pun akan dinilai kualitasnya.

Peserta didik yang akan melaksanakan AN adalah mereka yang berada di kelas V, VIII dan XI. Subjek penilaian pun berbeda, di AN hanya akan diambil sampel murid untuk dinyatakan lulus. ’’Model soal UN pilihan ganda dan isian singkat periode tes empat hari. AN pilihan ganda, isian singkat, pilihan ganda kemungkinan, menjodohkan, dan uraian dengan periode tes dua hari,’’ jelasnya. (rah/idh/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy