Paradoks Penanganan Covid dan Mahalnya Biaya Kesehatan, Oleh : drg. Endartini Kusumastuti – Kendari Pos
Opini

Paradoks Penanganan Covid dan Mahalnya Biaya Kesehatan, Oleh : drg. Endartini Kusumastuti


KENDARIPOS.CO.ID — Hari Kesehatan Nasional (HKN) diperingati pada tanggal 12 November setiap tahun. Tema yang diusung dalam HKN tahun 2020 adalah “Satukan Tekad Menuju Indonesia Sehat” dengan sub-tema “Jaga Diri, Keluarga dan Masyarakat, Selamatkan Bangsa dari Pandemi Covid-19”.Tema tersebut menurut Kemenkes RI bertujuan untuk mewujudkan Indonesia yang sehat dan tidak putus asa dalam memperjuangkan ketahanan kesehatan Indonesia.

drg. Endartini Kusumastuti
(Alumni FKG Unair dan Praktisi Kesehatan Kota Kendari)

Dari menteri hingga pucuk pimpinan tertinggi Indonesia, semua sibuk mengklaim keberhasilan penanganan virus corona di tanah air. Semua sibuk mengolah kata, data, dan informasi sehingga akhirnya memberikan ilusi fakta. Berbagai data disajikan mulai dari soal ekonomi hingga angka kesembuhan Covid-19. Pernyataan pemerintah seringkali menimbulkan persepsi publik bahwa penanganan Covid-19 di Indonesia cukup baik dibandingkan dengan negara lain.

Paradoks Penanganan Covid dan Sakit Itu Mahal

Pada kenyataannya, catatan kasus konfirmasi positif Covid-19 secara harian menunjukkan lonjakan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Berdasarkan data, per tanggal 13 November 2020, terdapat penambahan 5.444 kasus. Angka ini merupakan yang tertinggi selama penanganan Covid-19 di Indonesia. Belum lagi dalam penanganannya, beberapa ahli epidemiologi menyebutkan bahwa masih banyak yang menjadi kritikan bagi pemerintah terhadap mitigasi wabah hingga saat ini.

Hingga saat ini, tampak jelas abainya pemerintah hingga mengakibatkan kondisi pandemi tak kalah mengkhawatirkan. Semenjak program new normal diaruskan pemerintah, penambahan kasus baru penderita Covid-19 lebih cepat dari biasanya.Tragisnya, alih-alih mengoreksi diri, pemerintah justru sibuk menyalahkan masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan, yang bila dicermati penyebabnya juga berpulang pada kelalaian pemerintah.

Jika boleh berandai-andai, seandainya di awal pandemi pemerintah menerapkan konsep penanganan yang manusiawi, tentu negeri ini selamat dari pandemi dan masyarakat tidak sengsara . Harus diakui, kegagalan menangani pandemi Covid-19 telah mengakibatkan berbagai persoalan serius. Ini tersebab kerusakan kronis sistem kapitalisme pada berbagai aspek kehidupan. Kegagalan kapitalisme adalah sumber utama gagalnya mitigasi pandemi Covid-19 berdampak pada segala aspek kehidupan.

Tampak pada tingginya angka kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia, termasuk korban di negeri ini, yang mencapai ratusan ribu hingga nominal jutaan. Belum lagi dampak lanjutan yang tak kalah berbahaya. Gugurnya ratusan tenaga kesehatan yang makin memperlihatkan rendahnya kualitas sistem kesehatan di negeri ini. Pasalnya, pandemi berkepanjangan ini juga berimplikasi pada ancaman kelaparan hingga stunting. Demikian halnya dengan kemiskinan, dekadensi moral, serta krisis sosial yang makin dalam.

Fakta yang lainnya di lapangan menunjukkan bahwa biaya orang sakit agar kembali sehat memang mahal. Contoh dalam Kepmenkes No. HK.01.07/MENKES/238/2020 kita bisa menyimpulkan untuk perawatan satu pasien Covid-19 saja, biaya yang harus keluar dapat mencapai ratusan juta rupiah. Di mana biaya perharinya sekitar belasan juta rupiah.

Dalam periode April-September, Kemenkes mencatat jumlah klaim yang sudah dibayarkan kepada RS mencapai Rp4,38 triliun. Hingga akhir tahun Kemenkes diyakini bisa membayarkan senilai Rp17 triliun. Pasalnya, klaim yang dibayarkan setiap harinya sebanyak Rp100 miliar hingga Rp150 miliar.

HKN 2020, Jadikan Islam Sebagai Perbaikan Siskesnas

Peringatan HKN tahun ini sebaiknya kita banyak-banyak merenung. Masalah kesehatan di Indonesia bukan cuma pandemi Covid-19. Perlu ada perbaikan Sistem Kesehatan Nasional (Siskesnas). Selain pandemi, masih banyak masalah kesehatan yang belum tertangani secara optimal.Sebelum pandemi datang, direncanakan pemerintah memiliki setidaknya lima fokus penanganan kesehatan pada tahun 2020 yaitu Pengendalian Stunting, Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi (AKI/AKB), Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Germas, dan Tata Kelola Sistem Kesehatan.

Pandemi memang telanjur sangat parah, namun tidak ada istilah terlambat untuk melakukan yang baik. Hanya saja, semua konsep sahih Islam hanyalah serasi dengan metode pelaksanaannya menurut Islam. Di saat yang bersamaan, pemutusan rantai penularan berjalan secara efektif, yakni secepatnya, sehingga setiap orang tercegah dari bahaya infeksi dan keadaan yang mengantarkan pada kematian.

Pelaksanaan kelima prinsip di atas akan menutup rapat semua ruang dan celah bagi terjadinya imported case, local imported case, juga penularan atau transmisi lokal.Pelaksanaan lima prinsip tersebut niscaya dalam sistem kehidupan Islam. Karena didukung sepenuhnya oleh sistem kesehatan Islam. Sistem kehidupan Islam sendiri adalah unsur pembentuk sistem kesehatan Islam, khususnya sistem ekonomi Islam dan sistem politik Islam.

Semua desain kesehatan yang digali dari Islam itu meniscayakan dalam penyelesaian Islam terwujudnya dua tujuan pokok penanggulangan pandemi dalam waktu singkat.Pertama, menjamin terpeliharanya kehidupan normal di luar areal terjangkiti wabah. Kedua, memutus rantai penularan secara efektif, yakni secepatnya, sehingga setiap orang tercegah dari bahaya infeksi dan keadaan yang mengantarkan pada kematian.

Dua tujuan pokok ini tercermin pada lima prinsip Islam dalam memutuskan rantai penularan wabah. Lima prinsip itu adalah lockdown syar’i, pengisolasian yang sakit, pengobatan segera hingga sembuh bagi setiap orang yang terinfeksi meski tanpa gejala (asymptomatic), social distancing dan penguatan imunitas tubuh.

Di dalam Islam, jaminan kesehatan untuk seluruh rakyat adalah tanggung jawab Negara. Pelayanan kesehatan wajib diberikan secara gratis (cuma-cuma) bagi masyarakat. Negara tidak boleh membebani rakyatnya untuk membayar kebutuhan layanan kesehatannya.Pengadaan layanan, sarana dan prasarana kesehatan tersebut wajib senantiasa diupayakan oleh Negara bagi seluruh rakyatnya.

Pasalnya, jika pengadaan layanan kesehatan itu tidak ada maka akan dapat mengakibatkan bahaya (dharar), yang dapat mengancam jiwa rakyatnya. Menghilangkan bahaya yang dapat mengancam rakyat itu jelas merupakan tanggung jawab Negara. Lantas, pertanyaannya apakah Indonesia mampu mengatasi pandemi? Jawabnya pasti mampu jika dan hanya jika menjalankan sistem Islam dalam segala aspek kehidupan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy