Nadiem : 1 Juta Guru Honorer Akan Diangkat jadi PPPK

KENDARIPOS.CO.ID — Keinginan 12 ribu penyuluh pertanian yang lulus PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) hasil rekrutmen Februari 2019 untuk melakukan aksi protes secara terbuka, menjadi pemantik semangat honorer K2 untuk menuntut hak-haknya lewat aksi massa. Semangat honorer K2 yang lulus PPPK, yang sempat kendur karena warning pemerintah bahwa namanya akan ditandai jika menggelar aksi unjuk rasa, kini membara lagi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim

Mereka menolak bila masa kerja tidak diperhitungkan dalam penentuan gaji awal sebagai PPPK.
Sementara honorer K2 yang lulus seleksi CPNS 2018, masa kerjanya dihitung. “Kesewenang-wenangan ini tidak boleh dibiarkan. Saya apresiasi usulan teman-teman THL TBPP (Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian) yang sudah ancang-ancang ke Kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB),” kata Koordinator Daerah Perkumpulan Hononer K2 Indonesia (PHK2I) Kabupaten Pemalang Junaedi kepada JPNN.com, Kamis (12/11).

Dia mengaku, sudah lama menunggu instruksi untuk berangkat ke Jakarta. Menurut dia, pemerintah tidak boleh melarang honorer K2 serta THL TBPP melakukan aksi damai. Sebab hak berkumpul dan berserikat itu dilindungi UUD 1945. Apalagi yang disuarakan, lanjutnya, adalah hak untuk mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.

UUD 1945 juga menegaskan setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. “Jangan hanya PPPK dari THL TBPP yang gerudug KemenPAN-RB tetapi semuanya yang lulus PPPK. Kita (para PPPK hasil seleksi 2019, red) harus bahu membahu dengan semangat kebersamaan menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia khususnya honorer K2 yang lulus PPPK,” bebernya.

Junaedi mengaku sudah kepalang basah, jadi sekalian mandi. Tuntutan mereka jelas, masa kerja harus jadi perhitungan gaji awal PPPK dari honorer K2 dan THL TBPP. Honorer K2 yang lulus PPPK diimbau tidak usah berpikir soal kendala biaya. Semua bisa diperjuangkan kalau serius. Entah mau utang, gadaikan barang, atau apa saja. “Enggak apa-apa buang dana, toh nanti terima gaji PPPK. Kalau melempem dan menerima saja, yang rugi honorer K2 serta THL TBPP,” tandasnya.

Mendikbud Nadiem Makarim menyebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatakan, jumlah guru honorer yang akan diangkat menjadi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) cukup banyak. Nadiem Makarim menyebut, formasi yang tersedia mencapi 1 juta pada 2021. “Kapasitas formasinya cukup banyak untuk guru honorer sampai satu juta formasi,” ujar Mendikbud dalam kunjungannya ke Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Dia menjelaskan formasi PPPK tersebut dari daerah. Namun, permasalahannya pemerintah daerah baru menyiapkan sekitar 200.000 formasi. Padahal, lanjut Nadiem, kebutuhan PPPK dari halur guru honorer lebih dari jumlah tersebut.

“Oleh karena itu, kami meminta agar daerah benar-benar menyiapkan berapa kebutuhannya. Kepala sekolah juga perlu mendorong kepala dinasnya, sampaikan berapa kebutuhannya,” katanya.

Dia menambahkan hal itu merupakan kesempatan bagi guru honorer di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) agar bisa diangkat menjadi PPPK. Pengangkatan tersebut akan dimulai pada 2021 dengan mekanisme seleksi yang berkeadilan. “Pada 2021 merupakan tahun pertama, kita (pemerintah) memberikan kesempatan yang adil bagi semua guru honorer untuk bisa menjadi PPPK dengan seleksi yang adil, transparan,” tuturnya.

Dia berharap hal itu dapat menjadi kesempatan bagi guru honorer untuk bisa mengabdi sebagai PPPK. “Untuk guru-guru honorer yang sudah bergaji Upah Minimum Regional (UMR) menahan diri dulu. Kita (pemerintah) fokus membenahi kesejahteraan guru honorer yang masih digaji Rp200.000. Namun kerjanya sama dengan yang digaji UMR dan PNS,” ujar Nadiem. Dalam kunjungan ke Rote Ndao tersebut, Nadiem Makarim juga mengunjungi sekolah rusak yang berada di SDN 1 Ndau. (esy/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *