Menilik Potensi Bencana Gempabumi Jembatan Muna-Buton, Oleh : Ilham, ST – Kendari Pos
Opini

Menilik Potensi Bencana Gempabumi Jembatan Muna-Buton, Oleh : Ilham, ST

KENDARIPOS.CO.ID — Hari Kamis tanggal 22 Oktober 2020 menjadi hari bersejarah bagi warga Sulawesi Tenggara khususnya masyarakat Kota Kendari. Pada hari itu Presiden Republik Indonesia ke-7,
Bapak Ir H. Joko Widodo meresmikan Jembatan Teluk Kendari. Dalam sambutannya beliau mengungkapkan “Jembatan ini dibangun selama 5 tahun dari 2015 sampai 2020, dengan total biaya Rp 804 miliar, tapi saya yakin lamanya waktu pengerjaan dan besarnya dana yang dibutuhkan untuk membangun jembatan ini akan sebanding dengan manfaat yang akan dirasakan oleh masyarakat”.

ILHAM, ST

Tahun 2021, pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara masih akan terus melakukan pembangunan infrastruktur untuk merealisasikan misi program gerakan pembangunan terpadu wilayah daratan dan kepulauan (GARBARATA). Salah satu proyek yang akan segera dilaksanakan adalah pembangunan jembatan Muna-Buton. Proyek ini tentu saja merupakan tindakan nyata pemerintah dalam menjawab permasalahan transportasi di kedua pulau tersebut.

Jembatan Muna-Buton yang rencananya akan menghubungkan Kelurahan Palabusa-Kecamatan Lealea (Pulau Buton) dan Desa Baruta (Pulau Muna) ini tentu saja akan memakan biaya yang tidak sedikit. Konstruksi pembangunannya harus diperhatikan terutama kekuatannya terhadap guncangan gempabumi mengingat wilayah Sulawesi Tenggara secara umum memiliki aktivitas kegempaan yang cukup tinggi. Unit Pelaksana Teknis Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (UPT BMKG) Stasiun Geofisika Kendari sejak tahun 2007 hingga Oktober 2020 mencatat 7440 gempabumi dan 200 merupakan gempabumi dirasakan.

Dari sumber yang sama, frekuensi kejadian gempabumi sejak Januari hingga Oktober 2020 terjadi peningkatan jumlah yang sangat signifikan. Pulau Buton dan Muna yang merupakan wilayah yang dilalui oleh Sesar Buton tercatat 19 gempabumi yang mana 9 di antaranya merupakan gempabumi dirasakan.

Gempabumi yang dirasakan sepanjang tahun 2020 di sekitar Pulau Buton tidak ada yang berpotensi tsunami, namun gempabumi yang terjadi pada tanggal 29 Juli 2020 dini hari getarannya mencapai IV MMI (Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik dan dinding berbunyi) cukup membuat warga panik karena awam dengan peristiwa seperti itu. Dalam rilis resminya BMKG menyampaikan bahwa gempa yang dirasakan merupakan akibat dari aktivitas sesar Buton pada segmen B.

Sesar Buton sendiri oleh para ahli diterangkan dalam berbagai versi. Peta Geologi yang bersumber dari penelitian Sukamto dkk, 2002 terlihat hanya terdapat satu sesar di Pulau Buton. Sesar ini nampak memotong daratan pulau tersebut dan Nampak seperti terusan dari Sesar Lainea yang berada di Kabupaten Konawe Selatan. Sesar ini terdeteksi memiliki pergerakan sesar mendatar (strike slip). Penelitian yang sama juga pernah dilakukan oleh Surono, 1996, selain sesar mendatar tersebut terdapat juga sesar lain yang berada di tengah pulau dan memanjang sejajar dengan pulau yang berarah Timur Laut – Barat Daya. Sesar yang diperkenalkan ini memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault).

Tahun 2017 Pusat Studi Gempa Nasional merilis buku yang berjudul “Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017”. Buku yang merupakan pembaharuan dari Peta Hazard Gempa Indonesia Tahun 2010 ini memuat hasil kajian oleh para ahli mengenai bahaya gempa di Indonesia termasuk di dalamnya Sesar Buton. Dalam salah satu halamannya dijelaskan bahwa Sesar Buton terdiri atas dua segmen yaitu Sesar Buton Segmen A yang berada di Pulau Muna dan Segmen B berada di Pulau Buton.

Sesar Buton A merupakan sesar mendatar (strike slip), panjangnya 29 km memanjang dari Timur Laut hingga Barat Daya pulau tersebut, segmen ini memiliki potensi magnitudo gempa maksimum 6,2. Segmen ini tercatat pernah berguncang pada September 2018 dan getarannya membuat panik warga Desa Oempu, Kecamatan Walengkabola, Kabupaten Muna. Getaran hanya dirasakan di desa tersebut dan meresahkan warga sekitar. Hasil survei di lapangan menunjukkan bahwa getaran tersebut adalah gempabumi yang berpusat di sekitar desa tersebut dan penyebabnya adalah sesar Buton Segmen A. Gempabumi yang dangkal dengan magnitudo sangat kecil menjadi penyebab getaran hanya dirasakan di sekitar wilayah itu saja. Data terbaru, segmen ini juga bergerak pada Tanggal 13 September 2020 dengan magnitudo 3,1. Getarannya dilaporkan dirasakan di Raha dengan intensitas II MMI (getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang).

Sesar Buton Segmen B berada di Pulau Buton dengan mekanisme sesar naik (thrust fault) memiliki panjang 60 km dan magnitudo maksimumnya 7,1. Segmen ini bergerak pada sisi utara pada tanggal 29 Juli 2020 lalu dengan magnitudo 4,8 kemudian bergerak lagi pada tanggal 9 Oktober 2020 dengan magnitudo yang lebih besar 5,4 di sisi selatan. Hingga akhir Oktober tercatat 10 kali gempabumi susulan dan masih dipantau secara intensif meskipun getaran tidak dirasakan lagi oleh warga.

Gempabumi merupakan peristiwa alam yang hingga saat ini belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat memprediksi waktu, lokasi dan besar kekuatannya. Dengan melihat besarnya potensi magnitudo maksimum dari sesar-sesar yang ada di sekitar pembangunan jembatan Muna – Buton ini kita sepatutnya waspada dan bersiap dengan kemungkinan terburuk. Pemerintah harus belajar dari kasus gempabumi yang terjadi di Palu September 2018 lalu. Salah satu ikon kota tesebut yaitu jembatan Palu IV yang biasa disebut Jembatan Panulele yang berada di atas Teluk Tahite putus diakibatkan rusaknya konstruksi karena besarnya goncangan gempa pada saat itu.

Mitigasi pada tahap awal yang dapat dilakukan adalah dengan menghitung nilai Peak Ground Acceleration (PGA) di sekitar wilayah yang akan dijadikan tempat pembangunan jembatan. Nilai ini dapat memberikan informasi goncangan terbesar yang pernah terjadi di wilayah tersebut dalam satuan gal. Selain menghitung nilai PGA, perlu juga menghitung bahaya gempabuminya. Saat ini metode yang paling baik adalah mencari nilai Probabilitas Seismic Hazard Analysis (PSHA). Nilai PSHA ini dapat memberikan informasi peluang guncangan gempabumi dengan rentang waktu tertentu. Hasil dari perhitungan tersebut sangat membantu perencanaan pembangunan jembatan Muna-Buton yang tentunya akan meningkatkan kelancaran arus lalu lintas, angkutan barang dan orang yang dapat memicu tumbuhnya aktivitas perekonomian dengan segala multiplier effect-nya di Sulawesi Tenggara.

Pemerintah memegang peranan penting sebagai penentu kebijakan dalam mempertimbangkan setiap aspek pembangunan jembatan Muna-Buton ini. Diharapkan kondisi kegempaan wilayah menjadi salah satu aspek kajian analisis teknis dalam dokumen studi kelayakan. Potensi dan dampak gempabumi bukan hal yang tidak mungkin untuk diminimalkan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada. Membangun infrastruktur tahan gempa tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun mengutip pernyataan Bapak Presiden, biaya yang besar tentu sebanding dengan manfaat yang akan diperoleh oleh masyarakat sebagai tujuan awal dari pembangunan jembatan ini.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy