Memetik Hikmah di Nasab Muncikari, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Memetik Hikmah di Nasab Muncikari, Oleh : La Ode Diada Nebansi


KENDARIPOS.CO.ID — Agar tak dianggap orang udik menulis, saya mulai dengan kata-kata asing. Apple to apple. Frasa Inggris ini digunakan untuk membandingkan sesuatu yang seimbang.

La Ode Diada Nebansi

Apple to Oranges untuk yang tak imbang. Misalnya, diskusi dengan pakar ekonomi Kwik Kian Gie dan materinya viral di media sosial, lalu akan diganggu keviralannya dengan memviralkan materi diskusi bersama Tuminem, hanya karena Tuminem guru mata pelajaran Ekonomi Koperasi, maka inilah perbandingan yang tak apple to apple. Kwik Kian Gie tidak apple to apple dengan Tuminem.

Jangan membandingkan sesuatu yang tak sepadan jika kamu ingin dianggap. Bandingkanlah sesuatu yang sepadan. Pakar bandingkan dengan pakar. Pejabat jangan bandingkan dengan gepeng. Orang yang sering ke tempat ibadah jangan bandingkan dengan orang yang suka keluar masuk pub dan diskotik, dan lain sebagainya.

Membandingkan bukan berarti merendahkan, tapi mengambil hikmah atau pengalaman dari hasil perbandingan. Artinya, kalau anda ingin mengetahui baik buruknya pemain judi ulung, maka tanyalah mereka yang pengalaman judinya mulai arena sabung ayam hingga arena Casino.
Kalau anda ingin menjadi orang yang alim ulama, belajarlah ilmu agama seperti cara belajar Gus Baha, seperti cara Ustadz Abdul Somad, seperti cara Habib Rizieq. Kalau anda ingin menjadi pemain bela diri andal, pergilah belajar sama Jackie Chan atau Bruce Lee. Belajar dan pelajarilah. Tapi ingat, untuk yang tak diridai Allah SWT, jangan belajar ilmunya tapi pelajari dan “lihatlah” pelakunya agar kamu mengambil hikmah darinya.

Jangan belajar judi, tapi lihatlah setiap ending pemain judi.
Jangan belajar jadi wanita nakal atau lelaki hidung belang, tapi pelajari akhir hidup dari seorang muncikari.
Jangan belajar judi, tapi lihatlah ending dari seorang yang membackup judi.
Jangan belajar cara menambang ilegal, tapi lihatlah periode akhir dari setiap penikmat tambang ilegal.
Jangan belajar jadi pejabat untuk backing sesuatu yang dilarang tuhanmu, tapi lihatlah penghujung hidup dari setiap pejabat yang memback-up kemungkaran. Dan lain-lain, dan sebangsanya.

Kenapa? Saya menggeleng. Terus dan terus menggelengkan kepala. Menggeleng tanda kagum. Kagum setelah saya membandingkan. Apa itu? Orang-orang yang menjemput Habib Rizieq Shihab (HRS). Tak ada bandingannya sezaman ini.

Orang pada berbondong-bondong menjemput. Berbondong tanpa diarahkan.
Ramai-ramai tanpa dibiayai.
Tanpa dikerahkan.
Tanpa logistik.
Tanpa disiapkan konsumsi.
Siapa yang gerakkan orang-orang yang menjemput itu?

Puluhan ribu orang dengan sabar menunggu di terik matahari. Siapa yang tiupkan sifat sabar pada orang-orang itu? Kamu pun ditiupkan sifat sabar sebagai bukti Rahman dan Rahim-Nya. Tapi soal penggunaannya itulah kadar ujian.

Adakah pejabat yang dirindukan seperti itu?
Adakah pejabat yang bisa dijemput seperti itu walau dengan kekuatan uang dan parentah?
Adakah orang yang kaya raya dijemput seperti itu?

Andai seluruh kekayaanmu dijual untuk membiayai penjemputanmu, yakin, tak bakal sanggup menyaingi jemputan spontan terhadap Habib Rizieq Shihab. Bayangkan, untuk menghargai orang-orang sabar itu, saya tidak sanggup menyingkat nama Habib Rizieq Shihab. Sangat berbeda dengan keberanianku menulis donald trump. Saya tulis dengan huruf kecil pun serasa ada grup lawak Srimulat di hadapanku. Happy.

Lalu? Tidakkah goyah hatimu untuk memikirkan kekuatan dahsyat, puluhan ribu orang yang menjemput itu? Adakah orang jahat yang dijemput dengan senyuman massal? Masihkah juga belum menyadari itu?

Hanya orang yang dalam dirinya penuh dengan kebaikan yang dijemput secara massal, puluhan ribu dengan nyanyian lembut, syahdu, semangat dengan arti setiap syairnya: engkaulah matahariku, engkaulah penyemangatku, engkau pahlawanku, engkau sahabatku.

Jika tak sanggup dan tak sudi untuk memberi senyum ke Habib Rizieq Shihab, janganlah kau tutupi kebaikannya dengan memviralkan sesuatu yang tak diridai. Kalau tak sudi dan tak ikhlas untuk memetik hikmah dari kepribadian Habib, maka pikir dan ambillah hikmah dari segala hal berkaitan dengan Habib. Misalnya, yakinkan dirimu bahwa orang ini dijemput massal oleh orang-orang yang selalu membasuh mukanya dengan air wudhu.

Ketahuilah bahwa, Habib itu turunan nabi, nasabnya jelas. Karena itu, berpikirlah. Pikir. Cak Lontong bilang: mikiiir. Ibarat cerita pinggir, jangan terjebak pada diskusi ramainya pengunjung Jembatan Bahteramas di Teluk Kendari, tapi diskusikanlah apresiasi Presiden Jokowi saat meresmikan itu. Siapatau, presiden menjanjikan kemajuan pembangunan lebih dari jembatan teluk.

Jangan terjebak pada penjelasan Mujikan yang menceritakan situasi perang 10 November.
Mujikan? Coba ceritakan situasi 10 November: “Woalah Maaaaass, cerita nenek saya, saat itu banyak nasi tabuang-buang.” Heroiknya dilupa, yang diingat nasinya. Terus, apa hubungannya dengan judul tulisan ini? Baru saja saya bilang: Jangan terjebak dengan penjelasan Mujikan. (nebansi@yahoo.com)

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy