Literasi yang Berlogika, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Literasi yang Berlogika, Oleh : Prof. Hanna


KENDARIPOS.COM — Sejak 3 sampai 6 November 2020 saya dan beberapa rekan pegiat literasi memenuhi undangan pegiat komunitas literasi di Lampung dan Jakarta. Di sana kami memberikan pelatihan menulis buku literasi kreatif etos literasi di tengah pandemik. Usai memberikan kuliah umum pada Fakultas Adab di UNI Raden Intan Saleh Lampung, saya mengatakan kehadiran pegiat literasi di tengah pandemik adalah panggilan nurani bukan panggilan materi.

Prof. Hanna

Panggilan nurani terhadap kondisi nyata bahwa pertama kita diserbu oleh kenyataan hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) yang menyebutkan, pertama, kemampuan minat baca di Indonesia sangat rendah. Bahkan ada yang berpendapat kemampuan membaca masyarakat Indonesia adalah 1/1000. Artinya dari 1000 orang hanya satu yang memiliki minat baca. Kedua, penggunaan bahasa Indonesia yang semakin tidak berlogika, dan ketiga kondisi literasi kita yang masih jauh dari harapan.

Hasil studi PISA 2018 yang dirilis oleh OECD menunjukkan kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, meraih skor rata-rata yakni 371 dari rata-rata skor OECD yakni 487. Skor rata-rata matematika mencapai 379, dari skor rata-rata OECD 487. Selanjutnya untuk sains, skor rata-rata siswa Indonesia mencapai 389 dengan skor rata-rata OECD yakni 489.

Pada tahun 2000, hanya 39 persen penduduk usia 15 tahun yang bersekolah pada jenjang SMP atau SMA. Sementara, pada tahun 2018, angka tersebut meningkat menjadi 85 persen. Sebelumnya di tahun 2003 sampelnya mencakup 46 persen saja. Hasil ini terjadi pro kontra, ada yang beranggapan bahwa hasil studi PISA 2018 yang dirilis serentak pada hari Selasa, 3 Desember 2019, merupakan perspektif yang bagus bagi pemajuan kualitas pendidikan di Indonesia.

Melalui perspektif yang berbeda, Indonesia diajak untuk melihat bagaimana orang lain, negara lain melihat sistem pendidikan di Indonesia, sekaligus memberi masukan obyektif tentang perbaikan yang perlu dilakukan ke depan. “Perspektif itu penting, karena menjadi insight baru dan angle untuk mengukur kita dan menunjukkan hal yang tidak kita sadari. Kunci kesuksesan belajar adalah mendapat sebanyak mungkin perspektif. Kita tidak bisa mengetahui apa yang mesti kita perbaiki jika kita tidak punya perspektif,”kata Mendikbud Nadiem Anwar Makarim.

Tentu saja hasil PISA itu adalah peluang bagi pemerintah untuk membenahi pendidikan tentu saja termasuk literasi dan pendidikan Indonensia agar jauh lebih baik dan mampu memberikan perubahan. Selain itu, pengunaan bahasa di beberapa media sebagaimana yang dikemukan Kepala Pusat Pembinaan Bahasa, Abdul Hak dalam seminar di Badan Bahasa pada 9 Nopmber 2020 mengklaim adanya kesemrawutan penggunaan bahasa yang tidak mengedapankan asas logika, sehingga menjadikan bahasa itu tidak bermakna.
Bahkan keluar dari konteks pemaknaan, yakni bahasa menyatakan pikiran, keyakinan, kepercayaan, penilaian terhadap sebuah gejala alam atau peristiwa yang sudah, sedang, dan/atau akan dihadapi dalam hidupnya; menunjukkan rasa sayang, cinta, penghargaan, simpati, empati, bujukan, hasutan, curiga, benci, permusuhan, perlawanan, penghinaan pada orang lain. Misalnya tertulis dalam salah satu koran mengatakan bahwa dokter perempuan dominan. Dari frase tersebut, dokter adalah profesi yang melekat pada penyandangnya, seperti dokter ahli syaraf, maka secara otomatis memahami seluk beluk tentang penyakit syaraf. Tidak sama jika kita berkata dokter perempuan berarti dalam pemikiran kita adalah dokter ahli tentang perempuan. Penggunaan frase ini tentu-tentu bisa-bisa saja secara tata bahasa apalagi jika memang menangani khusus pasien perempuan, tetapi jika menangani pasien laki-laki maka kata ini tidak bermakna.

Frase lain seperti seseorang berkata pengusaha perempuan, jika dikaitkan dengan logika berpikir maka yang ada dalam alam pikiran kita adalah seorang perempuan yang punya profesi sebagai pengusaha, seperti pengusaha kosmetik, tetapi jika kita merujuk pada profesionalitas seperti pengusaha batik, maka kata pengusaha perempuan itu justru bermakna lain yakni “orang yang berjualan perempuan”.

Dalam beberapa frase lain misalnya, dalam lagu untuk mencapai penalaran kritis, anak-anak harus dibiasakan dengan cara berbahasa yang bernalar. Sebait lagu ini memberikan kita suatu pelajaran betapa bahasa dibuat tanpa mengindahkan kaidah bahasa, seperti “Tak kan habis sejuta lagu untuk menceritakan cantikmu”. Kita bisa menganalisis bahwa kalau sejuta lagu tidak habis, berarti tidak cantik. Semestinya bentuk yang dipilih adalah tak kan cukup.

Demikan juga lagu Anggur Merah (Meggy Z), dengan lirik “Aku masih belum mau mati karena cintamu, lalu menderita”. Lirik lagu ini tidak bermakna, karena logika normal dalam alam pikiran kita sebagai pendengar lagu adalah akan mengatakan menderita dulu lalu mati, bukan sebaliknya.

Hal yang sama juga dengan lagu Aku, Kamu, dan Dia oleh Mikha Tambayong. Liriknya Ku suka kamu tapi kamu suka dia. Ternyata dia suka kepadaku. Frase ini menunjukkan bahwa lirik lagu itu tidak berlogika, sebab jika A (aku), B (kamu), dan C (dia) cinta yang berlangsung ini tidak logis karena cinta segitiga yang normal, tidak berbentuk segitiga sama sisi, tetapi segitiga sama kaki. Lagu ini hanya cocok untuk cinta sesama jenis yang tidak diperbolehkan, baik agama maupun dalam kehidupan.

Tidak bisa dipungkri bahwa fungsi utama bahasa adalah sebagai alat berinteraksi dengan manusia, alat untuk berpikir, serta menyalurkan arti kepercayaan di masyarakat. Selain sebagai alat komunikasi maupun berinteraksi, bahasa juga memiliki arti penting sebagai metode pembelajaran pada lingkup bahasa itu sendiri.

Sebagai alat komunikasi tentu aspek logika berbahasa menjadi salah satu rujukan. Artinya berhubungan erat dengan kebenaran kalimat. Suatu kalimat dikatakan benar jika kalimat itu benar-benar melambangkan suatu peristiwa tertentu. Sebuah kalimat tentu mengandung makna. Kalimat yang logis merupakan kalimat yang maknanya sesuai dengan kaidah-kaidah penalaran.

Jika kalimat itu sudah memiliki asas logis maka kita akan merujuk pada kalimat efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang tidak banyak menggunakan kata dan kalimat,tetapi menggunakan bahasa yang singkat, padat,dan jelas. Sedangkan kalimat tidak efektif adalah kalimat yang menggunakan kalimat yang panjang, rumit, dan sukar untuk dipahami, dan menggunakan bahasa yang bertele-tele sehingga membuang-buang waktu.

Dengan kata lain kalimat efektif adalah kalimat yang disusun berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku, seperti unsur-unsur penting yang harus dimiliki setiap kalimat (subjek dan predikat); memperhatikan ejaan yang disempurnakan serta cara memilih kata (diksi) yang tepat dalam kalimat. Kalimat yang memenuhi kaidah-kaidah tersebut jelas akan mudah dipahami oleh pembaca atau pendengar. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy